Platform analisis mahadata milik perusahaan ini, Brightics AI, menyediakan layanan analisis, visual, dan percakapan. Platform tersebut menggabungkan pemelajaran mesin, pemelajaran dalam, pemrosesan bahasa alami, dan Chatbot, yang dapat diterapkan untuk berbagai macam tujuan. Platform tersebut digunakan di sektor manufaktur,[30] konstruksi,[31] logistik,[32] dan ritel.[33] Perusahaan ini juga memiliki versi terbuka dari platform tersebut yang diberi nama Brightics Studio.[34]
Brightics IoT adalah sebuah platform Internet untuk Segala yang dirancang untuk mengoptimasi pengumpulan dan pemrosesan data dari berbagai macam perangkat, serta sistem terdahulu. Platform tersebut mendukung berbagai macam protokol komunikasi, seperti MQTT, Constrained Application Protocol (CoAP), Bluetooth Low Energy (BLE), Zigbee, dan Modbus. Platform tersbeut digunakan di industri manufaktur, konstruksi, kota cerdas, dan bangunan cerdas.
Perusahaan ini lalu meluncurkan Nexledger, sebuah platform rantai blok korporat proprietary pada tahun 2017. Platform tersebut dirancang untuk mengintegrasikan berbagai macam algoritma konsensus rantai blok, seperti Ethereum dan Hyperledger Fabric. Nexledger, dan turunannya, Nexledger Universal, telah digunakan oleh berbagai macam industri. Bersama ABN AMRO Bank dan Pelabuhan Rotterdam, perusahaan ini mengembangkan platform DELIVER untuk mendukung dokumentasi, penyerahan aset, dan pencegahan pembayaran ganda pada pengapalan logistik internasional.[35] Samsung SDS juga membuat sistem verifikasi berbasis rantai blok untuk Federasi Bank Korea, sehingga nasabah dapat mengadakan transaksi dari beberapa bank menggunakan sertifikat dari satu bank saja.[36] Perusahaan ini juga berkolaborasi dengan IBM untuk mengembangkan Accelerator, yang meningkatkan hasil transaksi pada Hyperledger Fabric dengan kelipatan 10.[37]
Samsung SDS juga merilis perangkat lunak kecerdasan buatan korporat, Brity pada tahun 2017, dan mengubah namanya menjadi Brity RPA.[38] Brity RPA adalah sebuah alat otomasi bisnis cerdas konversasional yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan seperti chatbot, Optical character recognition (OCR), dan pemelajaran mesin untuk meningkatkan produktivitas kerja.[39] Perusahaan ini mengembangkan fungsi seperti rekomendasi proses kerja otomatis berdasarkan analisis log pengguna dan mengembangkan alat yang mengarah pada hiperotomasi terintegrasi dengan penambangan proses dan bot yang dapat belajar sendiri, sehingga dapat mengotomasi berbagai macam proses kerja. Pada bulan Mei 2019, perusahaan ini membuka sebuah portal otomasi bisnis untuk melatih pegawai menggunakan Brity RPA dan mengaplikasikannya untuk pekerjaan yang berulang. Dengan Brity RPA, 15.000 pegawai dapat menghemat 550.000 jam dalam sembilan bulan. Perangkat lunak tersebut mengurangi jam kerja di seluruh area bisnis, termasuk logistik, operasi teknologi informasi, dan pembelian, serta meningkatkan kualitas inspeksi dengan mengurangi kesalahan manusia.[40]