1976—1995: Masa kecil dan Awal Karier
Sahrul Gunawan lahir sebagai anak kedua dari lima bersaudara pasangan H. Soemantri dan Hj. Hasanah. Syahrul bersama keempat saudaranya, Hadi Suman Jaya, Heri Sunandar, Ade Juanda dan Hamdan Ferdiansyah dibesarkan dalam keluarga yang sederhana dan taat beragama di Ciawi, Bogor. Moehammad Soemantri ayahnya hanya bekerja sebagai karyawan pada Pabrik Ban Goodyear, sementara Hasanah ibunya adalah ibu rumah tangga yang setia mendidik kelima anaknya.
Sahrul masuk sekolah pada usia lima tahun. Waktu itu ia dimasukkan orang tuanya ke TK Sembojasari, Ciawi, Bogor. Setelah itu Sahrul melanjutkan sekolahnya ke SDN 05 Sindang Barang, Bogor. Semasa TK dan SD, bakat Sahrul sebagai penyanyi dan pemain sinetron belum terlihat. Prestasinya di sekolah pun biasa-biasa saja. Namun, ketika duduk di bangku SMP Bhakti Insani Bogor, Sahrul mulai menunjukkan bakatnya. Ia terlihat lebih senang tampil di depan umum.
Kesukaannya tampil di depan orang dimulainya ketika ia bisa menirukan gaya penyanyi atau pembawa acara televisi di depan kaca. "Pokoknya, kalau ada acara, baik di sekolah maupun di rumah, saya pasti ikut mengisi acara. Yang jelas, saya senang mencuri perhatian orang. Karena ada kebanggaan dan kepuasan tersendiri kalau sudah bisa mengaktualisasikan diri dan menunjukkan pada orang lain kalau saya mampu tampil di depan banyak orang, "ujar Sahrul penuh percaya diri. Awalnya, ia hanya tampil sebagai pembaca Pembukaan UUD 45 saat apel bendera di sekolah. Namun, Ia kemudian didaulat untuk menyanyi pada acara peringatan HUT Proklamasi RI. Berkat seringnya tampil di depan umum, Sahrul mulai berani mengikuti berbagai ajang dan kontes menyanyi di Bogor.
Sekitar tahun 1993, Sahrul mewakili Bogor mengikuti kontes model Top Guest yang diselenggarakan Majalah Aneka Yess!. Bermodalkan uang saku pas-pasan, Syahrul berangkat ke kantor majalah tesebut di kawasan Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat. Setelah turun di Stasiun Cikini, Sahrul naik bajaj menuju Raden Saleh. Entah mengapa, perasaan tidak PD begitu ia melihat para pesaingnya yang jauh lebih hebat dan tampan. Apalagi bila mengingat tinggi badannya hanya pas-pasan. "Yang bikin saya pesimis adalah tinggi badan saya yang kurang. Sementara para pesaing saya rata-rata tinggi, berkulit putih, cakep dan wangi lagi. Mereka umumnya membawa mobil. Sepertinya mereka anak orang kaya. Sementara saya harus dandan lagi, karena sudah lecek karena kelamaan di kereta," kisah Sahrul. Namun, perasaan tidak PeDe itu berubah drastis ketika ia berada di atas panggung. Tiba-tiba rasa percaya dirinya muncul. Hal itu pula yang membawanya menjadi juara ketiga pemilihan model Top Guest Aneka. Namun, lantaran merasa tidak berbakat dan kurang percaya diri dalam bidang modelling, Sahrul menghentikan kariernya di jalur modelling dan kembali ke dunia tarik suara.
Sejak SMP hingga SMA, Sahrul dikenal sebagai pribadi periang dan pandai bergaul. Ia pun aktif dan menduduki struktur OSIS di sekolahnya. Hal yang sama ia lakukan ketika meneruskan sekolah ke SMA Negeri 1 Ciawi, Bogor. Bukan bermaksud menyombongkan diri, waktu itu Sahrul dijadikan pioner di sekolahnya karena bakat menyanyinya dan prestasi yang ia raih sebelumnya. Akibat kesibukannya mengikuti berbagai ajang dan kontes menyanyi, prestasi Sahrul di bidang akademik sedikit terganggu. Terutama menghadapi ujian kelulusan SMA maupun Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Meski ia kemudian lulus SMA dengan nilai pas-pasan, tetapi Sahrul gagal UMPTN. Padahal, sebelum mengikuti UMPTN, Sahrul sudah dibina di Lembaga Pendidikan Ganesha Operation (GO) di Bandung. Hal ini dilakukan karena ia ingin masuk Fakultas Komunikasi Universitas Padjadjaran khususnya bidang studi Humas. Namun keinginan Sahrul masuk perguruan tinggi negeri tidak tercapai karena kebanyakan waktunya habis untuk menyanyi. Hal ini membuat ayahnya marah dan tidak menyetujui karier yang dipilihnya. Lantaran tidak ada pilihan lain, tahun 1993 Sahrul masuk Universitas Pakuan Bogor, Jurusan Manajemen. "Kamu boleh kuliah di universitas swasta di Bogor, karena ayah tidak sanggup membiayai kamu kalau mau kuliah di universitas swasta di luar Bogor. Apalagi di Jakarta," tutur Syahrul menirukan ucapan M. Soemantri ayahnya kala itu.
Setelah setahun kuliah, Sahrul merasa tidak kerasan. Setahun kemudian Sahrul mengikuti kontes menyanyi Asia Bagus tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya. Kali ini Sahrul mengikuti lomba untuk menunjukkan kalau karier yang selama ini tidak disetujui orangtuanya, sebenarnya bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Bahkan, bisa dijadikan sebagai sumber mata pencaharian. Namun sayang, dalam kompetisi tingkat Asia kali ini, Syahrul hanya sampai grand final. Merasa tidak puas dengan apa yang didapat, usai mengikuti Asia Bagus, Sahrul kembali mencoba kemampuan vokalnya lewat ajang Cipta Pesona Bintang yang diselenggarakan RCTI. Hasilnya, Sahrul hanya bertahan sebulan karena kesulitan mondar-mandir Bogor-Jakarta untuk mengikuti ajang ini. Maklum, acara ini digelar setiap minggu, sementara Sahrul tinggal di Bogor. Hadiah uang dari kontes menyanyi, sebagian digunakan untuk membeli baju untuk modal mengikuti kompetisi berikutnya. Sebagian lagi digunakan untuk membayar uang kuliah. "Tapi sebelum saya belikan baju, terlebih dahulu saya belikan pager. Dulu, kalau punya pager itu gayanya minta ampun," ungkap mantan jawara Pop Singer se Kota Bogor ini.
1996—sekarang: Merintis Karier Tarik Suara dan Serial televisi
Seiring dengan berjalannya waktu, talenta Sahrul tidak hanya menonjol dalam bidang tarik suara, tetapi juga dunia presenter dan akting. Hingga akhirnya setelah mengikuti berbagai kompetisi olah vokal, sekitar tahun 1996, Sahrul berhasil masuk dapur rekaman lewat album bertajuk Hanya Dirimu. Sahrul juga meraih sukses lewat duetnya dengan Lavenia dalam album Mandarin berjudul "White Snake Legend" versi Indonesia.
Setelah memunculkan album perdananya, Sahrul mendapatkan tawaran sebagai peran utama dalam sinetron serial Jin dan Jun dan tak dapat dipungkiri, serial inilah yang membuat namanya semakin dikenal orang. Bahkan saking suksesnya memerankan tokoh Jun dalam serial itu, membuat Sahrul dikenal tidak dengan nama aslinya, tetapi Jun. Lewat serial ini pulalah, nama Sahrul masuk ke dalam nominasi Bintang Komedi TV Pria Favorit Panasonic Awards 2000 dan juga mendapatkan penghargaan sebagai Bintang Potensial Tabloid Bintang 1997.
Sukses dengan serial Jin dan Jun, Sahrul lagi-lagi mendapatkan tawaran bermain serial. Namun kali ini bergenre drama komedi. Yaitu serial Kecil-Kecil Jadi Manten, dipasangkan dengan aktris muda berbakat, mendiang Sukma Ayu. Lewat serial ini pulalah, nama Sahrul Gunawan semakin berkibar di blantika persinetronan Indonesia. Hingga kini sudah puluhan judul sinetron diperankan Sahrul, dan dari beberapa aktingnya di serial televisi, Sahrul mendapatkan beberapa penghargaan. Seperti di serial Bukan Cinderella Sahrul berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Aktor Sinetron Terpuji Festival Film Bandung 2004 serta masuk ke dalam nominasi Aktor Ngetop SCTV Awards 2003 & 2004. dan Melalui serial Adam & Hawa, Sahrul berhasil masuk ke dalam nominasi Aktor Sinetron Terpuji Festival Film Bandung 2005. Selain penghargaan dari media elektronik, Sahrul juga mendapatkan penghargaan sebagai Bintang Paling Berkilau Tabloid Bintang 2003. Sekarang orang lebih mengenalnya sebagai bintang sinetron, ketimbang seorang penyanyi. "Padahal kalau boleh jujur, saya lebih senang dikenal sebagai penyanyi daripada pemain sinetron. Karena awalnya saya memang lebih senang dengan dunia tarik suara," papar pria berdarah Sunda ini.
Prestasi di dunia akting juga berbanding lurus dengan prestasi di dunia tarik suara, lewat album "Janji" (dari album ketiganya) Sahrul masuk dalam nominasi AMI Sharps 2000. Dan dari Album "Sentuhan Baru" (album keempatnya) Sahrul juga masuk dalam nominasi AMI Samsung Awards 2004. Sahrul sudah mengeluarkan 5 album Pop yaitu: Hanya Dirimu, Matahariku, Janji, Sentuhan Baru, dan Sahrul Gunawan. Selain album Pop, Sahrul juga sudah mengeluarkan 2 album Religi yaitu: Langkah Awal, dan Daun Pun Berdzikir. Seiring kesuksesan Sahrul di dunia tarik suara dan sinetron, dia juga mendapatkan tawaran baik itu sebagai bintang iklan maupun presenter.