Safiuddin ArdabiliSafiuddin Ardabili dikelilingi oleh murid-muridnya, seperti yang digambarkan dalam manuskrip Safawiyah abad ke-16 dari Safvat as-safa.
Safiuddin Esḥāq Ardabili (Persia: صفیالدین اسحاق اردبیلی, romanized:Ṣāfī ad-Dīn Isḥāq Ardabīlīcode: fa is deprecated ; 1252/1253–1334) adalah seorang penyair, mistikus, guru, dan master Sufi. Ia merupakan menantu sekaligus pewaris spiritual dari master Sufi Zahed Gilani, yang tarekatnya—Zahediyeh—direformasi dan diubah namanya menjadi Safawiyya, yang kemudian dipimpinnya dari tahun 1301 hingga 1334.
Buku tertua yang masih ada mengenai silsilah keluarga Safawiyah, dan satu-satunya yang berasal dari sebelum tahun 1501, berjudul Safwat as-Safa dan ditulis oleh Ibnu Bazzaz, seorang murid Sheikh Sadruddin Ardabili, putra Sheikh Safiuddin Ardabili. Menurut Ibnu Bazzaz, sang syekh merupakan keturunan seorang bangsawan Kurdi bernama Firuz Shah Zarin Kolah, seorang Kurdi dari Sanjan.[1] Safi adalah leluhur yang namanya diabadikan sebagai nama dinasti Safawiyah, yang memerintah Iran dari tahun 1501 hingga 1736.
Latar belakang
Safi lahir pada tahun 1252/1253 di kota Ardabil, yang terletak di Azerbaijan—wilayah yang kini bersesuaian dengan bagian barat laut Iran[2][3]—yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan Mongol.[4] Kota tersebut, yang merupakan pusat perdagangan pada masa itu, terletak di daerah pegunungan dekat Laut Kaspia.[3]
Ayah Safi bernama Aminuddin Jibrail, sedangkan ibunya bernama Dawlati.[5] Keluarga tersebut berasal dari keturunan Kurdi[6][7][8][9][10] dan menggunakan bahasa Persia sebagai bahasa utama mereka.[3]
Kehidupan ayah Safi tidak banyak diketahui. Ibnu Bazzaz, yang laporannya dianggap terdistorsi, menyatakan bahwa Aminuddin Jibrail meninggal ketika Safi berusia enam tahun, sementara Hayati Tabrizi melaporkan bahwa ia lahir pada tahun 1216 dan meninggal pada tahun 1287.[11]
Kehidupan
Menurut kronik hagiografi, Safi telah ditakdirkan untuk mencapai keagungan sejak kelahirannya. Ketika masih kecil, ia diajarkan ilmu agama, mengalami penglihatan malaikat, serta bertemu dengan para abdal dan awtad. Setelah mencapai usia dewasa, ia tidak dapat menemukan seorang murshid (pembimbing spiritual) yang dapat memuaskannya, sehingga pada usia 20 tahun, sekitar 1271/1272, ia berangkat ke Shiraz.[2]
Di sana ia berniat menemui Shaykh Najibuddin Buzghush, tetapi tokoh tersebut meninggal sebelum Safi berhasil menemuinya. Ia kemudian melanjutkan pencariannya ke wilayah Laut Kaspia, tempat ia bertemu Zahed Gilani di desa Hilya Karin pada tahun 1276/1277. Di sana ia menjadi murid Zahed dan menjalin hubungan yang sangat dekat dengannya; Safi menikahi putri Zahed, Bibi Fatima, sementara putra Zahed, Hajji Shamsuddin Muhammad, menikahi putri Safi.[2]
Safi dan Bibi Fatima memiliki tiga putra: Muhyiuddin, Sadruddin Musa (yang kemudian menggantikannya), dan Abu Sa'id. Safi ditunjuk sebagai penerus tarekat Zahediyeh oleh Zahed, dan ia menggantikannya pada tahun 1301 setelah kematian Zahed. Pengangkatan Safi sebagai penerus Zahediyeh mendapat penentangan dari keluarga Zahed dan sebagian pengikutnya.[2]
Safi kemudian mengganti nama tarekat tersebut menjadi Safawiyya dan mulai melakukan reformasi, mengubahnya dari tarekat Sufi lokal menjadi sebuah gerakan keagamaan yang menyebarkan propaganda ke seluruh Iran, Suriah, Asia Kecil, bahkan hingga Sri Lanka.[2] Ia berhasil mengumpulkan pengaruh politik yang besar dan menunjuk putranya, Sadruddin Musa, sebagai pewarisnya, yang menunjukkan tekadnya untuk mempertahankan kekuasaan dalam keluarganya. Safi meninggal pada 12 September 1334 dan dimakamkan di sana.[2]
↑Tapper, Richard (1997-08-28). Frontier Nomads of Iran: A Political and Social History of the Shahsevan (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN978-0-521-58336-7. The Safavid Shahs who ruled Iran between 1501 and 1722 descended from Sheikh Safi ad-Din of Ardabil (1252–1334). Sheikh Safi and his immediate successors were renowned as holy ascetic Sufis. Their own origins were obscure: probably of Kurdish or Iranian extraction, they later claimed descent from the Prophet.
↑The Modern Middle East: A History" by Professor James L. Gelvin, Oxford University Press, 2005, page 326: "...Shah Isma'il (resigned 1501-1520) Descendant of the Kurdish Mystic Safi Ad Din..."
Anooshahr, Ali (2012). "Timurds and Turcomans: Transition and Flowering in the Fiftheenth Century". Dalam Daryaee, Touraj (ed.). The Oxford Handbook of Iranian History. Oxford University Press. hlm.271–285. ISBN978-0-19-987575-7.
De Nicola, Bruno; Melville, Charles (2016). De Nicola, Bruno; Melville, Charles (ed.). The Mongols' Middle East: Continuity and Transformation in Ilkhanid Iran. Leiden: Brill. ISBN978-9004311992.
(dalambahasaJerman) Sohrweide, H. (1965). "Der Sieg der Ṣafaviden in Persien und seine Rückwirkungen auf die Schiiten Anatoliens im 16. Jahrhundert". Der Islam. 41: 95–223. doi:10.1515/islm.1965.41.1.95. S2CID162342840.
Wood, Barry D. (2004). "The Tarikh-i Jahanara in the Chester Beatty Library: an illustrated manuscript of the "Anonymous Histories of Shah Isma'il"". Iranian Studies. 37 (1): 89–107. doi:10.1080/0021086042000232956. JSTOR4311593.