SPMAA (Sumber Pendidikan Mental Agama Allah) atau Yayasan SPMAA adalah yayasan yang didirikan pada tanggal 27 Oktober 1961 oleh Abdullah Muchtar di Lamongan, Jawa Timur.[1][2][3]:92 Yayasan ini juga merupakan lembaga pengembangan swadaya masyarakat nirlaba yang bergerak dalam bidang sosial, pendidikan, lingkungan hidup dan peningkatan ekonomi masyarakat melalui media pembinaan mental spiritual secara Islami.[2][1]
Ajaran
Nilai Dasar
Yayasan Ponpes SPMAA dalam menggiatkan aktivitasnya senantiasa berpedoman pada nilai dasar kelembagaan yang disebut Tiga Proyek Besar Umat Manusia:[4]
Mengenal Allah Secara Mendekat dan Mendasar
Melatih Diri Mengetahui Musuh Gaib
Menanam Keyakinan Dunia Akhirat.
Penjodohan
Rahmat Pura adalah salah satu ritual dalam upacara perkawinan di
Pesantren SPMAA, yang dilaksanakan sebelum upacara akad nikah berlangsung. Upacara Rahmat Pura adalah salah satu produk budaya, yang saat ini masih dilestarikan oleh Yayasan SPMAA. Pada prinsipnya upacara ini menjadi tradisi pesantren setiap satu tahun sekali, tetapi apabila ada beberapa pasangan yang telah siap menikah, dalam satu tahun bisa terjadi dua kali upacara Rahmat Pura. Upacara yang diselenggarakan sebelum akad nikah
berlangsung ini mempunyai makna yang dalam. Di balik upacara ini semua
peserta, panitia dan keluarga yayasan dianjurkan untuk menjalankan puasa. Puasa tersebut diartikulasikan sebagai salah satu ikhtiar bagi pasangan yang menikah untuk sabar dan kuat nanti menghadapi bahtera kehidupan baru dalam kehidupan mereka.[5]
Sejarah
Yayasan Pondok Pesantren SPMAA berdiri pada tanggal 27 Oktober 1961 di Desa Turi, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.[6]
Yayasan SPMAA lahir dari keprihatinan Bapak Guru MA. Muchtar atas kondisi kehidupan masyarakat di daerah tertinggal yang secara kuantitatif masih mendominasi sistem sosial masyarakat. Ironisnya kala itu masih sedikit lembaga yang mau menjamah dan memfasilitasi berbagai permasalahan dan kebutuhan masyarakat tersebut.[6]
Dengan pertimbangan bahwa, anak-anak yang tinggal dalam penampungan tersebut juga memerlukan kebutuhan ruhani, maka didirikanlah pesantren sebaga lembaga penyedia ilmu-ilmu agama. Nama yang dipilihkan untuk pesantren ini adalah Sumber Pendidikan Mental Agama Allah, atau disingkat SPMAA, yang sekaligus menjadi nama resmi lembaga. Pada tahun 1979, Yayasan SPMAA resmi menjadi organisasi sosial yang berbadan hukum.[6]
Mengacu pada realitas yang demikian itu, maka diawal kiprahnya prakarsa untuk mewujudkan gagasan tersebut dikembangkan melalui pesantren sebagai sumber inspirasi, motivasi, dan inovasi dalam pembangunan masyarakat. Bapak Guru Muhammad Abdullah Muchtar sebagai pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren SPMAA Pusat membumikan gagasan tersebut dengan menyelenggarakan pendidikan keterampilan dan melakukan pengasuhan terhadap para anak yatim piatu melalui PPFMYP (Panti Penampung Fakir Miski dan Yatim Piatu).[6]
Yayasan SPMAA selain memakai pendekatan layanan berdasarkan jiwa kasih (charitatif-filantropis), sejak tahun 1978 juga melakukan strategi model ‘Community Development’ dengan membina para pengusaha mikro, petani, dan nelayan dengan memberikan sentuhan penanganan pada kelembagaan kolektifnya agar mampu mengakses berbagai sumber yang dibutuhkan masyarakat.[6]
Pada bulan Mei 2023, Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) melaksanakan workshop nasional selama tiga hari, yang diikuti oleh 117 titik dari 65 cabang SPMAA se-Indonesia. Pada hari pertama Sabtu yakni bedah manuskrip dan seminar pendidikan di Rumah Makan Aqilla Deket dihadiri langsung Bupati Lamongan, Dr. H. Yuhronur Efendi, MBA.[7]
Kritik
Berdasarkan data yang dirangkum, aliran kepercayaan atau keagamaan yang saat ini diawasi oleh tim Pakem Sarolangun, salah satunya adalah Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA).[8]