Sejarah
Pada tahun 1950, para seniman seni rupa di Yogyakarta mempunyai gagasan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan seni rupa yang dapat menjadi tempat belajar bagi para seniman maupun calon seniman. Gagasan ini terwujud dengan didirikannya Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta pada 15 Januari 1950 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Ki Mangunsarkoro. Pejabat Direktur pertamanya adalah R.J. Katamsi, dengan staf pengajar antara lain: Affandi, Hendrojarmoro, Abdul Salam, dan Mardijo.[2] Lalu pada tahun 1957, ASRI pindah dari kampus Bintaran ke gedung baru di Jalan Gampingan 1, Yogyakarta.
Pada awal pembukaan, ASRI masih menerapkan sistem pendidikan ganda dengan menerima peserta didik dari lulusan SLTP dan SLTA. Lulusan SLTP menempuh pendidikan selama tiga tahun dan memperoleh Ijazah I, yang kemudian dapat dilanjutkan selama dua tahun untuk memperoleh Ijazah II (setara tingkat akademi). Sistem ini berlangsung hingga tahun 1963, ketika terbit SK Menteri P.P. dan K No. 27/1963 yang menetapkan ASRI sebagai lembaga pendidikan tinggi penuh, sehingga hanya menerima lulusan SLTA dengan masa studi lima tahun, yaitu tiga tahun tingkat Sarjana Muda (tingkat A) dan dua tahun tingkat Sarjana (tingkat B).
ASRI membuka lima jurusan, yaitu:
- Seni Lukis
- Seni Patung
- Pertukangan/Kerajinan
- Reklame, Dekorasi, dan Ilustrasi Grafik
- Pendidikan Guru Seni Rupa
SSRI hingga menjadi SMK Negeri 3 Kasihan
SSRI Yogyakarta diresmikan pada 5 April 1963 melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 3/Men.P&K/1963. SSRI merupakan penjelmaan dari tiga jurusan di ASRI, yaitu Seni Lukis, Seni Patung, dan Kerajinan. Saat diresmikan, SSRI telah memiliki tiga tingkat kelas (I, II, dan III), dan siswa tingkat III menjadi lulusan pertama SSRI.[2]
Perubahan kurikulum terjadi pada tahun 1974, ditandai dengan diberlakukannya Kurikulum 1974. Durasi pendidikan diperpanjang menjadi empat tahun dan sistem jurusan diganti dengan sembilan studio praktik seni rupa, yaitu:
- Studio Seni Lukis
- Studio Seni Patung
- Studio Seni Kriya Kayu
- Batik
- Reklame
- Dekorasi
- Ilustrasi
- Grafik
- Keramik
Pada tahun 1976, SSRI dimasukkan ke dalam kategori sekolah kejuruan, setara dengan STM, SMEA, dan SMIK. Selanjutnya, pada tahun 1977, nama SSRI diubah menjadi Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta bersamaan dengan penerapan Kurikulum 1977. Pada tahun yang sama, SMSR pindah ke kampus baru di Karangmalang.
Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) menunjukkan perhatian besar terhadap pengembangan sekolah-sekolah kesenian di Yogyakarta. Muncul gagasan meleburkan tiga sekolah: yakni SMKI, SMM, dan SMSR. Pada tahun 1978, dilakukan survei lahan di kawasan Bugisan, dan pada tahun 1981 dimulai pembangunan kampus terpadu di Jomegatan, Jalan PG Madukismo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.
Pada tahun 1997, seiring kebijakan nasional untuk menyeragamkan nama sekolah kejuruan, SMSR Yogyakarta berubah nama menjadi SMK Negeri 3 Kasihan. Nama ini digunakan hingga saat ini.[1]