Ruwat laut merupakan salah satu tradisi ritual masyarakat pesisir di Indonesia yang dilakukan oleh komunitas nelayan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas hasil laut sekaligus permohonan keselamatan ketika melaut.[1][2] Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan masih dipraktikkan di berbagai daerah pesisir, terutama di wilayah Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur) dan Banten. Dalam beberapa daerah, ruwat laut dikenal dengan berbagai sebutan lain seperti sedekah laut,[3]nadran,[4] larung sesaji, nyadran,[5] atau jamuan laut.[6] Meskipun istilahnya berbeda, semua merujuk pada praktik budaya yang memiliki makna serupa, yaitu ritual penghormatan kepada laut dan kekuatan yang diyakini menguasainya.
Latar belakang tradisi
Tradisi ruwat laut diyakini berasal dari warisan budaya masyarakat pesisir sejak masa lampau. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa praktik ini memiliki keterkaitan dengan tradisi ritual yang berkembang pada masa Hindu–Buddha di Nusantara.[7] Seiring dengan masuknya agama Islam, praktik tersebut tidak sepenuhnya ditinggalkan, melainkan mengalami penyesuaian dengan nilai-nilai keagamaan yang dianut oleh masyarakat setempat.[8][9] Sebagai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, ruwat laut menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat nelayan. Ritual ini umumnya dilaksanakan secara berkala, biasanya satu kali dalam setahun pada waktu tertentu yang dianggap baik menurut tradisi setempat. Di beberapa daerah, pelaksanaannya sering dikaitkan dengan bulan-bulan tertentu dalam kalender Jawa atau kalenderHirjiyah, seperti bulan Sura (Muharam) atau Syakban.[10][11]
Tujuan dan makna
Ruwat laut merupakan salah satu ritual tradisional masyarakat pesisir yang memiliki makna simbolis dan spiritual. Tradisi ini mencerminkan pandangan masyarakat mengenai hubungan antara manusia dan alam, khususnya laut sebagai ruang kehidupan yang sangat penting bagi para nelayan. Dalam pandangan tersebut, laut dipandang sebagai sumber penghidupan yang perlu dihormati dan dijaga keseimbangannya. Pelaksanaan ruwat laut menjadi bentuk penghormatan sekaligus ungkapan harapan agar kehidupan masyarakat nelayan tetap sejahtera dan selamat dalam menjalankan aktivitasnya di laut.[11][12][13]
Ruwat laut juga memiliki beberapa tujuan utama bagi masyarakat nelayan. Salah satunya adalah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil tangkapan ikan yang diperoleh dari laut. Laut dipandang sebagai sumber rezeki yang penting bagi kehidupan masyarakat pesisir, sehingga keberlimpahan hasil laut dianggap sebagai anugerah yang patut disyukuri. Ritual ini juga dimaknai sebagai permohonan perlindungan dan keselamatan ketika melaut, mengingat pekerjaan nelayan sering menghadapi berbagai risiko seperti cuaca buruk, gelombang besar, maupun kecelakaan di laut. Selain itu, ruwat laut sering dipahami sebagai bentuk ritual tolak bala, yaitu upaya simbolik untuk menolak bencana atau musibah serta menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan alam.[11][13][14]
Pelaksanaan
Pelaksanaan ruwat laut biasanya diawali dengan musyawarah masyarakat nelayan untuk menentukan waktu, tempat, serta susunan kegiatan. Dalam musyawarah tersebut juga dibahas pembentukan panitia dan pengumpulan dana yang diperlukan untuk penyelenggaraan acara. Dana kegiatan umumnya berasal dari sumbangan masyarakat nelayan, dukungan pemerintah daerah, maupun partisipasi berbagai pihak lainnya. Setelah persiapan selesai, masyarakat mulai menyiapkan berbagai perlengkapan ritual, termasuk sesaji yang akan digunakan dalam prosesi utama.[15]
Puncak acara ruwat laut ditandai dengan prosesi melarung sesaji ke tengah laut. Sesaji yang disiapkan biasanya terdiri atas berbagai jenis makanan, bunga, serta benda-benda simbolik lainnya, dan pada masa lalu di beberapa daerah juga menggunakan kepala kerbau sebagai bagian dari persembahan. Sebelum dilarung, sesaji terlebih dahulu didoakan oleh tokoh masyarakat atau pemuka agama. Setelah itu, sesaji dibawa menggunakan perahu menuju laut lepas dan dihanyutkan sebagai simbol persembahan. Selain prosesi inti tersebut, rangkaian kegiatan ruwat laut sering dilengkapi dengan acara pendukung seperti arak-arakan perahu hias, pengajian dan doa bersama, pertunjukan seni tradisional, serta hiburan rakyat yang melibatkan masyarakat luas.[11][16]
↑Dawud Achroni, Upacara Adat Nusantara (Surakarta: CV Suara Media Sejahtera, 2008), hlm. 9
12Eneng Purwanti, Azizah Alawiyyah, Julkarnain Syawal, Religi Masyarakat Pesisir (Banten: UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, 2020)
↑Munir Subarman, “Pergumulan Islam Dengan Budaya Lokal di Cirebon (Perubahan Sosial Masyarakat dalam Upacara Nadran di Desa Astana, Sirnabaya, Mertasinga, Kecamatan Cirebon Utara)”, Holistik, Vol. 15, No. 02, (2014),369-370
↑Ayatullah Humaeni, Eneng Purwanti, Azizah Awaliyah, Romi, Sesajen: Menelusuri Makna dan Akar Tradisi Sesajen Masyarakat Muslim Banten dan Masyarakat Hindu Bali (Banten: UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, 2021), hlm. 119-121