Ruqaiya Sultana Begum (bahasa Persia:رقیه سلطان بیگمcode: fa is deprecated ; juga dieja sebagai Ruqayya, Ruqayyah) (1542 – 19 Januari 1626) adalah istri pertama dan utama kaisar Mughal ketiga, Akbar.[2][3][4][5] ia juga merupakan Permaisuri Mughal yang paling lama menjabat dengan masa jabatan selama 49 tahun.[6]
Latar Belakang
Ruqaiya Sultan Begum terlahir sebagai putri kekaisaran (Shahzadi) dan putri satu-satunya dari Abu'l Nasir Muhammad atau yang lebih terkenal dengan gelarnya Hindal Mirza.
Ayahnya, Hindal Mirza adalah putra termuda Babur. Hindal Mirza juga paman termuda Akbar dari pihak ayah.[5] Jadi, Ruqaiya merupakan cucu dari Kaisar Babur, pendiri Kekaisaran Mughal dan keponakan dari Kaisar Humayun.
Ibunya, Sultanam Begum merupakan putri dari Muhammad Musa Khwaja. Kakaknya, Mahdi Khwaja, menikah dengan Khanzada Begum, saudari sulung Kaisar Babur. Sultanam dibesarkan oleh Putri Khanzada yang tidak memiliki keturunan. Dia juga satu-satunya istri Hindal Mirza.
Sebagai Permaisuri
Meninggalnya Hindal Mirza akibat perang melawan Kamran Mirza tahun 1551 membuat Humayun sedih. Humayun menunangkan putranya, Akbar dengan Ruqaiya pada usia 9 tahun. Humayun memberi mereka banyak hadiah serta memberi Akbar komando pasukan Hindal. Setelah kematian Humayun pada tahun 1556, Akbar yang berusia 14 tahun naik takhta sebagai Kaisar Mughal dan menikahi Ruqaiya sebagai istri pertama sekaligus permaisurinya. Ruqaiya ditemani ibu mertuanya, Hamida Banu Begum dan bibinya, Gulbadan Begum dalam pernikahan mereka yang berlangsung di Punjab.
Ruqaiya tetap tidak memiliki anak sepanjang pernikahannya. Meski tidak memiliki anak, Akbar mengabulkan keinginan Ruqaiya mengasuh cucunya, Khurram yang kemudian naik takha sebagai Shah Jahan. Jahangir memercayakan pengasuhan putri sulung Shah Jahan, Parhez Banu Begum kepadanya.
Ruqaiya tetap menjadi salah satu permaisuri utama Akbar sejak pernikahan mereka pada tahun 1557 hingga kematiannya pada tahun 1605. Hal ini terutama disebabkan oleh garis keturunannya yang agung, menjadi putri Hindal Mirza, seorang putri Mughal serta istri pertama Akbar.[7]
Nur Jahan pernah menjadi pelayan Ruqaiya selama lebih dari empat tahun sebelum menikah dengan Jahangir dan menjadi permaisurinya. Ruqaiya juga menjadi Permaisuri Mughal dengan masa jabatan terlama hampir setengah abad.
Pada tahun 1607, Jahangir mengadakan perjalanan berburu ke Kabul dengan ditemani haremnya. Ruqaiya dalam perjalanan ini, untuk pertama kalinya memberi penghormatan kepada makam ayahnya, Hindal Mirza, dan kemudian juga dimakamkan di sampingnya di Taman Babur di Kabul.
Permaisuri Ruqaiya adalah karakter utama dalam novel sejarah yang memenangkan penghargaan karya Indu Sundaresan, The Twentieth Wife (2002), serta sekuelnya, The Feast of Roses (2003).[8]
↑Her tenure, from 11 February 1556 to 27 October 1605, was 49 years and 259 days
↑Nath, Renuka (1957). Notable Mughal and Hindu Women in the 16th and 17th Centuries A. D. Inter- India publications. hlm.58. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)