Murut adalah bentuk lain dari kata bahasa Bajau yaitu belud yang berarti pegunungan yang menyiratkan bahwa orang Murut adalah orang yang tinggal di perbukitan.[2]
Murut Tenom, menghuni desa-desa di dataran tinggi Tenom dan menyebut diri mereka dengan Temogun
Murut di lembah Padas bawah
Golongan B, orang Murut perbukitan
Kelompok II.
Orang Peluan, tinggal di perbukitan sekitar sungai Padas dekat Tenom, dan sekarang berkembang ke timur yang dilalui oleh sungai Dalit, anak sungai dari sungai Sook dan ke arah barat ke distrik Sipitong.
Murut Lun Dayoh, mendiami hulu sungai Padas yang membentang jauh hingga ke Serawak
Kelompok VI
Kwijau, hanya dapat ditemui di perbukitan barat di dataran Keningau.
Kepercayaan
Agama
Orang-orang suku Murut tidak memiliki dewa tertentu namun memiliki kepercayaan tentang adanya surga. Mereka percaya bahwa jiwa atau ruh akan berlabuh ketika sudah meninggalkan tubuh. Mereka menganggap sakral kepada bukit-bukit tinggi di pedalaman jauh yang dipercaya sebagai rumah orang-orang yang telah mati.[2]
Selain itu, terdapat kepercayaan bahwa roh yang jahat tinggal selamanya dalam posisi terikat yang tinggal di pohon, bukit dan batu dengan bentuk aneh. Untuk melawan roh jahat ini, penduduk suku Murut memiliki jimat berupa sehelai benang yang melingkari leher atau pergelangan tangan.[2]
Mitos
Seorang pemuda Murut yang sedang memakai pakaian tradisional di Kampung Budaya Monsopiad, Penampang, Sabah.
Jika mereka melihat burung kisi atau burung mengapi, maka akan ada kejadian buruk. Namun sebaliknya, jika mereka mendengar burung ini berkicau sebanyak 4 kali, maka itu adalah pertanda baik.
Jika dalam perjalanan mereka bertemu ular, maka ini bukanlah pertanda buruk. Namun jika mereka bertemu dengan rusa, kancil, ular, kalajengking dan kaki seribu melintasi jalan yang mereka akan lalui, maka ini adalah pertanda masalah serius dan harus menunda pekerjaan selama 4 hari. Namun, jika binatang tersebut tidak menyebrang jalan, orang tersebut hanya perlu duduk, menyalakan api, merokok dan bisa melanjutkan perjalanannya.
Jika dalam perjalanan mereka bertemu rusa sebelum ia mengeluarkan suara, maka adalah pertanda baik, sebaliknya jika bersuara bisa berarti bencana.
Ramalan
Orang Murut juga memiliki kepercayaan terhadap nasibnya dengan ahli nujum dan meyakini bahwa rahasia masa depan bisa dilihat dari hati babi. Saat ada perayaan tertentu dan menyembelih babi, kepala suku bisa mengetahui sesuatu hanya dari hati babi.[2]
Jika hati babi yang disembelih
Kondisi hati babi
Ramalan
Memiliki garis-garis dalam
nasib buruk
Memiliki lubang-lubang
dipastikan satu orang anggota penyerang akan mati
Mengandung penyakit
satu prajurit akan terluka
Lembek
tubuh akan menjadi lesu dan lemah ketika akan bertindak
Keras, merah dan tidak cacat
kesuksesan
Tidak ditemukan (babi pertama dan kedua)
rencana penyerangan sebaiknya diurungkan
Selain itu, mereka juga memercayai mimpi sebagai pertanda. Berikut daftar mimpi dan pertanda bagi orang Murut:[2]
1234567Rutter, Owen (1922). Sejarah Kalimantan, British North Borneo: catatan tentang sejarah, sumberdaya dan suku-suku asli. Yogyakarta: Diglossia Media. hlm.385. ISBN9786026466389.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)