Sejarah dan perkembangan
Rumah peti jenazah ini pertama kali didirikan pada tahun 1875 oleh Kuil Man Mo di Kennedy Town dekat rumah pemotongan hewan. Pada tahun 1899, bangunan ini dibangun kembali di lokasi yang sekarang dengan pengelolaan baru oleh Kelompok Rumah Sakit Tung Wah, dan sejak itu dikenal dengan nama Tung Wah Coffin Home. Rumah peti jenazah ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara peti jenazah dan guci abu sebelum dipindahkan ke kampung halaman almarhum. Sebagian besar peti jenazah berasal dari Tionghoa perantauan yang kemudian dipindahkan dan dimakamkan di desa asal mereka di Tiongkok.
Sejak dipindahkan ke Teluk Sandy, Tung Wah Coffin Home terus mengalami perkembangan. Masa rekonstruksi pertama terjadi pada tahun 1913, ketika dibangun ruang khusus untuk menyimpan abu hasil kremasi. Kemudian pada tahun 1926, pemerintah memberikan lahan seluas sekitar 56.000 square feet (5.200 m2) untuk perluasan Tung Wah Coffin Home. Di atas lahan tersebut kemudian dibangun Bing Yan Hall (丙寅莊), sebuah bangunan tiga lantai.
Akibat invasi Jepang ke Hong Kong selama Perang Dunia II, peti jenazah tidak dapat dipindahkan kembali ke Tiongkok dan tetap disimpan di Tung Wah Coffin Home. Dewan pengurus Kelompok Rumah Sakit Tung Wah kemudian merencanakan pembangunan sejumlah ruang tambahan untuk memenuhi tingginya permintaan penyimpanan peti jenazah. Pada tahun 1947, dewan mengusulkan perubahan fungsi ruang-ruang tersebut untuk menyesuaikan dengan meningkatnya kebutuhan. Kelompok Tung Wah melakukan beberapa rekonstruksi pada tahun 1948, 1951, dan 1957 untuk mengatasi masalah kekurangan ruang penyimpanan jenazah setelah penggalian. Pada tahun 1960, tercatat terdapat 670 peti jenazah, 8.060 jenazah hasil penggalian, dan 116 abu kremasi (kremasi) yang disimpan di Tung Wah Coffin Home.
Sanatorium Teluk Sandy di bawah Kelompok Tung Wah segera membutuhkan perluasan. Oleh karena itu, pada tahun 1961 dewan memutuskan untuk menggabungkan Bing Yan Hall ke dalam sanatorium tersebut. Pada saat yang sama, Yut Yuet Hall (日月莊) dibangun untuk menggantikan Bing Yan Hall sebagai tempat penyimpanan peti jenazah. Dalam tahun-tahun berikutnya, iklim sosial berubah. Karena keterbatasan lahan pemakaman, pemerintah mendorong kebijakan kremasi. Pada tahun 1974, dewan Kelompok Tung Wah memutuskan untuk membangun kembali taman Tung Wah Coffin Home menjadi tempat penyimpanan abu kremasi, karena sebagian ruang sudah terlalu tua untuk diperbaiki. Hal ini menyediakan 900 altar bagi warga untuk menempatkan abu leluhur mereka. Kemudian pada tahun 1982, sekelompok ruang lainnya dibangun kembali menjadi sebuah aula besar untuk penyimpanan abu kremasi, yang menyediakan sekitar 5.800 altar guna memenuhi kebutuhan masyarakat.
Seiring menurunnya permintaan layanan penyimpanan jenazah dalam beberapa tahun terakhir, kompleks ini secara bertahap mengalami kemunduran. Namun, sebuah proyek besar perbaikan dan konservasi dilaksanakan pada periode 2002 hingga 2004 untuk memulihkan Tung Wah Coffin Home agar penampilan historisnya tetap terjaga.
Saat ini, Tung Wah Coffin Home memiliki luas sekitar 6.050 meter persegi yang terdiri atas berbagai bangunan arsitektur, termasuk taman, gerbang, pagoda, 91 ruang, dan 2 aula.
Pada tahun 2005, proyek ini meraih Penghargaan Warisan Asia-Pasifik UNESCO (Penghargaan Merit). Selain itu, kompleks ini juga menerima Penghargaan Kehormatan dalam bidang Pelestarian dan Konservasi Warisan yang diberikan oleh Kantor Benda Purbakala dan Monumen di bawah pemerintahan HKSAR.[1]
- 1875 – Pendirian Coffin Home di Kennedy Town dekat rumah pemotongan hewan
- 1899 – Relokasi ke Teluk Sandy, pengelolaan baru di bawah Kelompok Rumah Sakit Tung Wah dan berganti nama menjadi Tung Wah Coffin Home
- 1913 – Rekonstruksi pertama
- 1926 – Perluasan Tung Wah Coffin Home, pembangunan Bing Yan Hall
- 1947 – Usulan perubahan fungsi ruang
- 1948 – Rekonstruksi
- 1951 – Rekonstruksi
- 1957 – Rekonstruksi
- 1961 – Bing Yan Hall dibangun kembali untuk digunakan sebagai sanatorium, Yut Yuet Hall dibangun menggantikan Bing Yan Hall
- 1974 – Taman Tung Wah Coffin Home dibangun kembali menjadi tempat penyimpanan abu kremasi
- 1981 – Usulan pembangunan gedung baru untuk penyimpanan abu kremasi
- 1982 – Pembangunan ruang-ruang baru untuk penyimpanan abu kremasi
- 2003 – Restorasi tahap 1 dimulai Januari hingga Maret, tahap 2 dimulai November
- 2004 – Restorasi tahap 2 hingga Maret
- 2005 – Meraih Penghargaan Warisan Asia-Pasifik UNESCO dan menerima Penghargaan Kehormatan dalam Pelestarian dan Konservasi Warisan