RSM dilengkapi fasilitas yang menunjang fungsi sebagai tempat retret, ziarah, serta pendalaman rohani. Salah satu elemen utama di RSM ialah kawasan ziarah dengan patung Maria Mater Misericordiae, Goa Maria, serta sejumlah sarana yang mendukung pengalaman batin di lingkungan lereng Gunung Slamet.
Sejarah
Konsep awal
Rumah Singgah Maria (RSM) di Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, berakar pada gagasan pendirian sebuah rumah pertapaan di lingkungan Keuskupan Purwokerto pada pertengahan tahun 2010-an. Pada tahap awal, keuskupan merintis pendirian Pertapaan Cardoner, sebuah komunitas pertapaan yang dipersiapkan sebagai tempat pembinaan, doa, refleksi, dan pencarian keheningan bagi para imam. Nama Cardoner diambil dari Sungai Cardener di Spanyol, yang dalam tradisi spiritualitas Ignasian dikaitkan dengan pengalaman rohani Santo Ignatius Loyola. Komunitas pertapaan tersebut secara resmi mulai dirintis pada tahun 2014 oleh Uskup PurwokertoJulianus Sunarka, S.J., dengan penugasan imam untuk mengembangkan kehidupan pertapaan di kawasan Melung.[2]
Dalam perkembangannya, arah pengelolaan dan pemanfaatan kawasan mengalami perubahan. Dari gagasan awal Pertapaan Cardoner kemudian berkembang sebuah tempat pertapaan bernama Pertapaan Oasis Sungai Kerit (OSK). Istilah oasis dimaknai sebagai sarana atau arena, sedangkan Sungai Kerit dihubungkan dengan gagasan cinta kasih (charity) yang merujuk pada tradisi Kitab Suci. Dengan demikian, nama tersebut dipahami sebagai "sungai cinta kasih Tuhan". Kawasan tersebut mulai difungsikan sebagai tempat peribadatan, pembinaan, dan pertapaan bagi umat Katolik.[3]
Pengelolaan
Gagasan awal keuskupan tetap dipertahankan dalam pembentukan kawasan ini, yaitu menyediakan tempat yang secara khusus dapat dipakai para imam untuk berdoa, mencari ketenangan, melakukan refleksi, serta mengembangkan kehidupan rohani. Sekitar Oktober 2014, kawasan tersebut mulai difungsikan, termasuk adanya pembentukan jaringan relawan yang membantu pelayanan serta operasional sehari-hari. Pada masa pembangunan, lahan diperoleh secara bertahap melalui dukungan donatur dan pembelian tanah milik warga sekitar sehingga kawasan dapat berkembang menjadi lingkungan yang mendukung doa dan meditasi.[3]
Berbeda dengan komunitas paroki, OSK tidak memiliki umat tetap. Tempat ini lebih berfungsi sebagai ruang pembinaan dan pendalaman iman bagi para relawan dan peserta yang datang dari berbagai daerah. Setelah menjalani masa pembelajaran dan pendampingan, mereka kembali ke daerah asal untuk menerapkan pengalaman yang diperoleh.[3]
Penurunan jumlah pengunjung
Menjelang akhir tahun 2010-an, aktivitas pertapaan mulai mengalami penurunan jumlah pengunjung dan kegiatan. Situasi tersebut kemudian diperberat oleh masa pandemi COVID-19. Hal tersebut membuat kegiatan semakin berkurang dan akhirnya kawasan pertapaan berhenti beroperasi. Setelah tidak lagi digunakan untuk kegiatan keagamaan secara aktif, Keuskupan Purwokerto mulai mencari bentuk pengelolaan baru agar tempat tersebut tetap dapat dimanfaatkan.[3]
Pada pertengahan tahun 2021, sejumlah komunitas religius sempat ditawari untuk melanjutkan pengelolaan kawasan, tetapi tidak ada yang bersedia karena berbagai pertimbangan. Setelah berbagai upaya tersebut tidak menghasilkan bentuk pengelolaan yang berkelanjutan, keuskupan memutuskan untuk mengambil alih pengelolaan secara langsung.[3]
Pembukaan kembali
Untuk menghidupkan kembali kawasan bekas pertapaan tersebut, Keuskupan Purwokerto membentuk suatu tim yang disebut Tim Misericordia. Tim ini diberi tugas mengembangkan kawasan menjadi tempat pertapaan dan ziarah yang lebih terbuka bagi umat sekaligus menentukan identitas baru kawasan. Nama Rumah Singgah Maria (RSM) kemudian dipilih sebagai nama resmi tempat tersebut. Nama ini dimaknai sebagai tempat di mana siapa pun dapat singgah tanpa memandang agama, komunitas, maupun latar belakang sosial. Dengan konsep baru ini, fungsi kawasan bergeser dari rumah pertapaan yang terutama ditujukan bagi para imam menjadi tempat ziarah, retret, dan perjumpaan rohani yang terbuka bagi masyarakat luas.[3]
Pengelolaan selanjutnya dipercayakan kepada R.D. Agustinus Agung Pralebda bersama para relawan. Dalam perkembangannya, Rumah Singgah Maria mengalami pertumbuhan baik dari sisi fasilitas maupun jumlah peziarah yang datang.
Kawasan dan fasilitas
Rumah Singgah Maria berada di kawasan lereng Gunung Slamet, di wilayah Desa Melung. Lingkungan pegunungan dan suasana yang relatif tenang menjadi salah satu daya tarik bagi para peziarah yang mencari tempat doa, retret, dan permenungan. Kawasan ini dibagi ke dalam beberapa teras dengan fungsi yang berbeda. Teras 1 menjadi area penerimaan dan pelayanan yang mencakup Bangsal Maria sebagai ruang singgah dan jamuan, yang terletak 610 meter di atas permukaan laut. Terdapat juga kantor pengelola, Kapel Maria untuk devosi dan doa pribadi, serta beberapa pondok penginapan. Di Teras 1 juga tersedia Gua Pieta.[3]
Patung Bunda Maria di sekitar pintu masuk
Patung Yesus di sekitar pintu masuk
Gua Pieta
Teras 2 menjadi pusat kegiatan komunal dan devosional dengan keberadaan patung Maria Mater Misericordiae, Bangsal Yosep, sejumlah pondok penginapan, serta Dapoer Lawas yang dikelola masyarakat setempat melalui PKK Melung sebagai fasilitas penyediaan konsumsi bagi para tamu dan peziarah. Patung Maria Mater Misericordiae dibangun sekitar tahun 2022–2023, dan memiliki tinggi sekitar tujuh meter di puncak bukit kawasan ziarah. Nama tersebut berarti "Bunda Maria yang penuh belas kasih", salah satu gelar Maria. Sebelum pembangunan dimulai, pengelola mengadakan doa bersama yang juga melibatkan tokoh masyarakat dan pemuka agama setempat. Pembangunan patung tersebut didukung oleh para donatur serta melibatkan tenaga kerja dari masyarakat sekitar dengan tujuan agar keberadaan Rumah Singgah Maria turut memberi manfaat ekonomi sekaligus memperkuat relasi sosial dengan warga setempat.[3]
Sementara itu, Teras 3 difokuskan pada area retret dan ziarah. Di bagian ini terdapat sejumlah pondok tambahan, Gua Maria sebagai tempat devosi, Sendang Tirta Suci, serta Taman Doa Getsemani yang digunakan untuk doa dan permenungan termasuk pelaksanaan Jalan Salib. Saat ini Rumah Singgah Maria dikenal sebagai tempat ziarah yang menggabungkan unsur devosi, retret, suasana alam pegunungan, dan pengalaman spiritual. Selain keberadaan patung Maria sebagai pusat perhatian visual dan religius, peziarah juga memanfaatkan area doa, fasilitas penginapan, serta Sendang Tirta Suci yang oleh sebagian pengunjung dipandang sebagai simbol berkat dan penguatan iman.[3]