Rumah RungkoRumah Rungko merupakan Rumah Adat Suku Kluet
Rumah Rungko merupakan rumah adat tradisional Suku Kluet tepatnya di Desa Koto, Kluet Tengah, Aceh Selatan yang terletak di pesisir barat. Pembangunan Rumah Rungko ini menggunakan kayu yang proses penebangannya menggunakan parang dan memerlukan waktu bertahun-tahun. Alasannya karena jika parang yang digunakan saat menebang pohon terjatuh, maka kayu tersebut tidak jadi diambil dan penebangan dihentikan sementara karena dianggap bahwa aulia tidak mengizinkannya.[1]
Nama Rungko berasal dari makna kata rangka atau kerangka yang menandakan bahwa rumah ini merupakan penyatuan empat marga suku kluet atau kluwet. Walaupun jika dilihat sekilas bentuk rumah ini tidak jauh berbeda dengan bentuk rumah lainnya di Aceh yang dibangun tahun 1914, terdapat beberapa ornamen dan motif yang menandakan makna khusus suku kluet atau kluwet.[1] Rumah Rungko secara resmi masuk sebagai salah satu Kebudayaan Takbenda dari Aceh dan teregistrasi secara resmi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dengan nomor register 414/P/2022.[2]
Asal Usul
Rumah Rungko merupakan rumah adat berbentuk rumah panggung yang ditopang dengan tiang-tiang kayu. Rumah Rungko ini dulunya digunakan sebagai tempat tinggal raja, tempat bermusyawarah, bahkan sempat digunakan sebagai balai pengadilan. Rumah Rungko ini awalnya didirikan oleh oleh Raja Menggamat yang bernama Imam Hasbiyallah Muhammad Teuku Nyak Kuto. Beliau merupakan keturunan dari Tgk. Imam Sabil, seorang veteran pejuang dari Suku Kluet pada abad 20-an yang gigih melawan pemerintah kolonial Belanda khususnya dalam Perang Lawe Meulang Menggamat.
Dahulu, Rumah Rungko yang didirikan pada tahun 1861 dinamai dengan Rumah Adat Kluet. Kemudian oleh Raja Tgk. Nyak Tia yang memerintah sejak tahun 1908 sampai 1938 diubah namanya menjadi Rumah Rungko tepatnya pada tahun 1916. Namun, tidak ada informasi pasti mengenai informasi tersebut tetapi nama Rungko dan Kluet tetap dikenal baik oleh masyarakat Aceh.[3]
Arsitektur
Struktur Rumah Rungko memiliki banyak ruangan dengan beragam fungsi sehingga dapat menampung beberapa keluarga hingga satu keluarga besar. Beberapa ruangan di Rumah Rungko berbentuk asimetris dan terdiri dari ruangan serambih huluan di bagian barat, ruangan anjung nyahei di bagian selatan, ruangan rambat di bagian timur , anjung nyulu di bagian utara, ruang tengah, dan dapur. Rumah Rungko dibangun selalu menghadap ke arah utara dikarenakan Suku Kluet percaya hal tersebut dapat menghindari mereka dari segala macam penyakit dan malapetaka.
Rumah Rungko juga dibangun sebagai rumah panggung dengan pondasi kayu yang cukup tinggi hingga mencapai 10,16 meter dengan jumlah pondasi sebanyak 32 tiang. Untuk tiang penyangganya memiliki tinggi berkisar 3 meter dengan panjang bidang sebesar 14 meter dan lebar 12 meter. Tiap tiang penyangga terdapat lilitan yang melambangkan simbil manusia dari Tanah, Air, Api dan Angin yang bersatu agar saling menguatkan satu sama lain. Alasan dibangun sebagai rumah panggung selain terhindar dari bahaya banjir, juga menghindari dari bahaya gangguan serangan hewan buas dikarenakan kondisi sekitar rumah yang berada di kawasan pegunungan yang dikelilingi hutan yang lebat.[4]
Untuk model atap, Rumah Rungko ini mengadopsi model atap pelana sederhana berbentuk segitiga. Atap pelana merupakan model atap yang memiliki satu bubuhan tengah dan dua sisi penutup. untuk bagian jendela, terdapat ornamen ukiran untuk menyamarkan lubang ventilasi udara. Untuk bagian lantai terbuat dari papan kayu. Pada bagian tangga, wajib memiliki anak tangga berjumlah ganjil, umumnya berjumlah lima atau sembilan buah anak tangga. Suku Kluet menganggap bahwa angka ganjil merupakan simbol kehidupan dan angka genap merupakan simbol kesempurnaan yang artinya tugas manusia di dunia ini sudah purna atau selesai.[3]