Rumah Panca Puntu Mang Pihit adalah rumah adat dan situs budaya masyarakat Dayak Paus yang terletak di Desa Pengadang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Bangunan ini dikenal sebagai salah satu tempat penting dalam kehidupan adat masyarakat setempat karena berkaitan dengan penyimpanan benda-benda peninggalan leluhur dan pelaksanaan ritual adat Panca Puntu Mang Pihit.[1][2]
Rumah Panca Puntu Mang Pihit juga tercatat dalam Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional atau SISPARNAS Kementerian Pariwisata sebagai daya tarik pariwisata di wilayah Balai Karangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau.[3]
Nama dan makna
Nama Panca Puntu Mang Pihit berasal dari istilah lokal masyarakat Dayak Paus. Dalam penjelasan yang dimuat Pancurajipost, kata panca diartikan sebagai balai atau tempat menyimpan benda-benda sakral yang dikeramatkan, sedangkan Puntu Mang Pihit merujuk pada nama leluhur masyarakat Dayak Paus.[1] Dalam sumber budaya lokal, Puntu Mang Pihit juga disebut sebagai tokoh leluhur yang memiliki hubungan genealogis dengan masyarakat Dayak Paus.[4]
Lokasi
Rumah Panca Puntu Mang Pihit berada di Desa Pengadang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.[1][2] Lokasinya berada di wilayah Sekayam yang berdekatan dengan Balai Karangan. SISPARNAS mencatat daya tarik ini berada di Balai Karangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat 78556.[3]
Sejarah dan fungsi
Rumah Panca Puntu Mang Pihit berkaitan dengan sejarah keberadaan masyarakat Dayak Paus di wilayah Pengadang. Bangunan ini disebut sebagai tempat penyimpanan benda-benda peninggalan leluhur yang dianggap penting dalam tradisi setempat. Beberapa benda yang disebut tersimpan di rumah ini antara lain tengkorak kepala manusia yang dikaitkan dengan tradisi masa lalu, tanduk rusa, tempayan, tombak, gong, dan benda peninggalan lainnya.[1]
Dalam pemberitaan Pemerintah Kabupaten Sanggau, Panca Puntu Mang Pihit disebut sebagai aset budaya daerah masyarakat adat, khususnya sub-suku Dayak Paus. Pemerintah daerah juga menyampaikan pentingnya menjaga dan melestarikan adat serta budaya tersebut agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.[5]
Bangunan
Bangunan Rumah Panca Puntu Mang Pihit berbentuk rumah panggung. Salah satu unsur penting pada bangunan ini adalah tiang utama yang disebut Bujang Swandang. Tiang tersebut berada di bagian tengah bangunan dan disebut sebagai bagian asli dari awal pendirian rumah panca. Tiang utama ini terbuat dari kayu belian atau ulin.[1]
Pada bagian atas bangunan terdapat bentuk atap yang menyerupai pelana kuda. Di kedua sisi ujung atap terdapat ukiran burung enggang. Dalam sumber yang sama, disebutkan bahwa atap bangunan pada awalnya menggunakan sirap kayu belian, tetapi kemudian diganti dengan bahan yang lebih modern.[1]
Ritual adat
Ritual Adat Panca Puntu Mang Pihit merupakan kegiatan adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Pengadang. Pemerintah Kabupaten Sanggau menyebut kegiatan ini sebagai kegiatan tahunan yang bertujuan untuk berdoa kepada leluhur agar rencana dan harapan masyarakat dapat terkabul.[2] Kegiatan ritual biasanya diawali dengan prosesi adat, kemudian dilanjutkan dengan sambutan tokoh masyarakat dan pejabat daerah.[2]
Pada tahun 2024, ritual Panca Puntu Mang Pihit ke-V kembali dilaksanakan di Desa Pengadang, Kecamatan Sekayam. Kegiatan tersebut dihadiri Penjabat Bupati Sanggau Suherman dan masyarakat setempat. Dalam kegiatan itu, pemerintah daerah menekankan pentingnya menjaga adat dan budaya agar tidak tergerus pengaruh budaya luar.[6][7]
Kegiatan ritual juga dicatat dalam laman Kampung KB sebagai kegiatan sosial budaya yang dilaksanakan untuk mengangkat nilai kebudayaan dan menjaga tradisi masyarakat Desa Pengadang.[8]
Pelestarian
Pemerintah Kabupaten Sanggau dan masyarakat adat setempat beberapa kali menyatakan komitmen untuk menjaga Panca Puntu Mang Pihit sebagai bagian dari identitas budaya Dayak Paus. Wakil Bupati Sanggau Yohanes Ontot pernah menyebut bahwa adat dan budaya merupakan identitas masyarakat adat yang perlu dijaga agar tidak punah.[5]
Pada 2026, kegiatan bakti sosial dilakukan di area Rumah Adat Panca Puntu Mang Pihit. Kegiatan tersebut meliputi pembersihan halaman dan pengecatan ulang tembok pagar untuk menjaga lingkungan tetap tertata dan nyaman.[9]
Pariwisata
Selain sebagai situs budaya masyarakat adat, Rumah Panca Puntu Mang Pihit juga memiliki potensi sebagai daya tarik wisata budaya di Kabupaten Sanggau. SISPARNAS Kementerian Pariwisata mencatatnya sebagai salah satu profil daya tarik pariwisata di Kecamatan Sekayam.[3] Pemerintah Kabupaten Sanggau juga berharap Panca Puntu Mang Pihit dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya yang lebih luas.[5]