Rumah Karapao merupakan rumah adat yang berasal dari Papua Tengah. Penamaan rumah ini, yakni Karapao sering disebut juga Karapauw, merujuk pada rumah adat yang digunakan oleh Suku Kamoro di Mimika untuk melaksanakan ritual adat dan kepercayaan.[1] Rumah ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat berteduh karena rumah ini telah menjadi simbol tradisi dan budaya di mana rumah ini menjadi pusat pendidikan atas keahlian mendasar yang akan dibawa oleh anak-anak sejak masa pertumbuhannya hingga menjadi bekal bertahan hidup saat dewasa[2]
Asal usul rumah adat Karapao
Rumah ini dibangun untuk menjadi tempat berlangsungnya aktivitas ritual yang menjadi bagian penting dalam kehidupan penduduk ini. Suku Kamoro sendiri hidup di pesisir selatan Papua, terutama di sekitar daerah Sungai Otakwa dan Teluk Etna, yang merupakan wilayah yang cukup luas dan melewati berbagai kampung. Proses pembangunan rumah adat Karapao merupakan bagian dari upacara yang disebut dengan inisiasi pendewasaan dalam hubungannya dengan pembangunan rumah setiap tiga atau empat tahun sekali. Sebagai bagian dari proses tersebut, pembangunan rumah adat Karapao memiliki tujuan inisiasi pendewasaan tersebut. Uniknya, setelah masa pendewasaan selesai, rumah adat tersebut akan dibongkar dan tidak akan digunakan lagi.[2]
Desain rumah adat Karapao
Dilihat dari wujud visualnya, rumah adat ini dibangun membentuk persegi panjang dan untuk penopang bangunan, digunakan tiang-tiang kayu besi serta kayu dari pohon mangrove, bisa juga mengambil bahan kayu dari pohon buah. Bertujuan melindungi penghuni dari terik matahari dan hujan, atap rumah Karapauo Kame dilapisi dengan daun dari pohon nipah atau sagu. Sedangkan dinding dan lantainya terbuat dari anyaman daun pandan hutan Pandanus sarasinorum.[3] Rumah adat ini dibangun dengan kecenderungan menghadap ke barat, hubungannya dengan kepercayaan suku Kamoro yang percaya bahwa leluhur mereka yang telah pergi akan tinggal di arah tempat matahari terbenam.
Terdapat satu elemen penting, yakni Mbitoro atau sebuah totem kayu yang diukir secara khusus untuk menghormati leluhur sehingga ukirannya pun merepresentasikan gambar sosok yang dianggap penting dan baru saja berpulang. Hal ini menunjukan penghargaan atas penduduk setempat atas jasa sosok yang bersangkutan. Tokoh yang diukir visualnya itu dipilih sebagai perwakilan dari leluhur lain sehingga dianggap pendahulunya dapat bergabung dalam ritual sehingga upacara akan berlangsung lancar.[3]
Referensi
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.