Rumah Hadji Oemar Said Tjokroaminoto(Selanjutnya ditulis Rumah H.O.S. Tjokroaminoto) adalah bangunan bersejarah yang terletak di Jalan Peneleh Gang VII No. 29-31, Kota Surabaya. Rumah seluas sekitar 9x13 meter ini dulunya menjadi tempat tinggal dan pusat aktivitas H.O.S. Tjokroaminoto, tokoh pergerakan nasional dan ketua Sarekat Islam, organisasi massa terbesar pada masa kolonial Belanda.[1]
Rumah yang terletak di Jalan Peneleh Gang VII Nomor 29-31, Surabaya, ini awalnya merupakan kediaman pribadi H.O.S. Tjokroaminoto, seorang tokoh utama pergerakan nasional dan pemimpin Sarekat Islam. Dibangun pada dekade 1870-an dengan arsitektur bergaya Jawa, bangunan ini menjadi saksi sejarah perkembangan pemikiran kebangsaan Indonesia.
Pada awal abad ke-20, rumah ini berkembang menjadi pusat kegiatan intelektual dan politik, berfungsi sebagai tempat tinggal sekaligus ruang diskusi bagi para pemuda pejuang kemerdekaan. Beberapa tokoh nasional seperti Soekarno, Semaun, Musso, Alimin, Darsono, Kartosoewirjo, dan Tan Malaka pernah menimba ilmu di tempat ini, menjadikannya sebagai pusat pembentukan kader-kader pemimpin bangsa.
Setelah kematian istri Tjokroaminoto, Suharsikin, pada tahun 1921, rumah ini mengalami perubahan kepemilikan. Tjokroaminoto menjual properti tersebut, yang kemudian dihuni oleh pemilik baru hingga tahun 1968. Meskipun demikian, nilai historis bangunan ini tetap terjaga, termasuk dalam kenangan Presiden Soekarno tentang masa-masa pembelajarannya di sana.
Pada tahun 1974, Yayasan Pusat Dokumentasi Sastra, Sejarah, dan Kebudayaan mulai mengelola rumah ini sebagai museum. Pemerintah Kota Surabaya kemudian mengambil alih pengelolaan dan secara resmi mendeklarasikannya sebagai Museum H.O.S. Tjokroaminoto pada 27 November 2017, setelah melalui proses restorasi dan penetapannya sebagai cagar budaya pada tahun 2006.
Saat ini, museum dua lantai ini terbuka untuk kunjungan publik dan berfungsi sebagai pusat edukasi sejarah. Koleksinya meliputi berbagai dokumen arsip, foto, surat, serta artefak peninggalan Tjokroaminoto dan para muridnya. Keberadaan rumah ini tetap menjadi simbol penting perjuangan kemerdekaan dan sumber inspirasi bagi generasi muda Indonesia.
Rumah H.O.S. Tjokroaminoto menampilkan karakter arsitektur sederhana dengan gaya tradisional Jawa. Bangunan berukuran 9x13 meter ini menggunakan material lokal berupa dinding bata dan plafon dari anyaman bambu (sesek) berwarna coklat yang umum digunakan pada zamannya. Struktur dua lantai ini memiliki fungsi khusus, di mana lantai atas berperan sebagai kamar indekos bagi para aktivis muda, termasuk Soekarno, yang juga memanfaatkan ruang tersebut untuk kegiatan belajar dan diskusi politik.
Bagian eksterior depan menampilkan pagar setinggi satu meter dengan empat pilar kayu penyangga atap, menciptakan kesan terbuka yang khas arsitektur Jawa tradisional. Lantai berwarna kuning kecoklatan dengan sentuhan merah marun memberikan nuansa hangat, sementara interiornya dilengkapi furnitur kayu jati sederhana tetapi fungsional, mencerminkan gaya hidup praktis sang tokoh pergerakan nasional.
Elemen penting lain berupa tangga besi di bagian belakang yang menghubungkan ke kamar indekos di lantai atas, ruang yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal tetapi juga menjadi pusat diskusi strategis para pejuang kemerdekaan. Secara keseluruhan, meskipun tidak menampilkan ornamen mewah atau kemegahan arsitektural, rumah ini memiliki signifikansi historis yang tinggi sebagai tempat kelahiran gagasan-gagasan nasionalisme dan pergerakan kemerdekaan Indonesia.