Ruha Benjamin (lahir tahun 1978) merupakan ahli sosiologi yang menjabat sebagai profesor di Departemen Studi Afrika-Amerika, Universitas Princeton. Fokus penelitiannya membahas keterkaitan antara perkembangan teknologi dengan isu kesetaraan, terutama pada titik temu ras, keadilan sosial, dan inovasi teknologi. Karya-karya pentingnya meliputi People's Science: Bodies and Rights on the Stem Cell Frontier (2013), Race After Technology: Abolitionist Tools for the New Jim Code (2019), serta Viral Justice: How We Grow the World We Want (2022).[1]
Kehidupan Awal
Benjamin dan bukunya Race After Technology di acara Black in AI 2019
Ayah Benjamin berkulit hitam Amerika sementara ibunya berasal dari keturunan India dan Persia.[2] Minatnya terhadap keterkaitan antara sains, teknologi, dan dunia medis berakar dari pengalaman masa kecilnya. Tempat kelahirannya adalah Wai, sebuah kota di negara bagian Maharashtra, India. Berbagai tempat yang pernah ia tinggali meliputi kawasan South Central Los Angeles, kota Conway di Carolina Selatan, pulau Majuro di kawasan Pasifik Selatan, serta Kerajaan Swaziland (kini Eswatini) di Afrika bagian selatan.[3]
Karier
Pendidikan Benjamin dimulai dengan gelar sarjana (Bachelor of Arts) bidang sosiologi-antropologi dari Perguruan Tinggi Spelman, yang kemudian dilanjutkan dengan program doktoral di UC Berkeley hingga meraih PhD sosiologi tahun 2008. Karier akademiknya berkembang melalui program postdoctoral di UCLA (2010) dan Menempuh program riset/studi lanjutan di Harvard Kennedy School. Sebelum bergabung dengan Princeton, ia mengabdi sebagai asisten profesor untuk dua disiplin ilmu - Studi Afrika-Amerika dan Sosiologi - di Universitas Boston selama empat tahun (2010-2014).[4]
Karya perdana Benjamin yang berjudul People's Science: Bodies and Rights on the Stem Cell Frontier diluncurkan oleh Stanford University Press tahun 2013.[5] Buku ini menawarkan analisis kritis tentang pola inovasi yang justru memperdalam kesenjangan sosial, dengan contoh konkret bagaimana diskursus dan praktik di bidang genomik - baik dalam ranah ilmiah, bisnis maupun populer - turut mengadopsi pembagian ras-etnis dan gender yang problematis.[6]
Tahun 2019 menandai terbitnya karya Benjamin Race After Technology: Abolitionist Tools for the New Jim Code melalui penerbit Polity.[7] Buku ini mengembangkan pemikiran sebelumnya dengan menyoroti bagaimana struktur rasial menyusup ke dalam dasar logis teknologi digital. Konsep andalannya "New Jim Code" - terinspirasi dari karya seminal Michelle Alexander The New Jim Crow - membongkar mekanisme tersembunyi dimana algoritma yang diklaim objektif justru melanggengkan prasangka rasial secara sistemik.[8]
Sebagai profesor Studi Afrika-Amerika di Universitas Princeton, Benjamin meneliti berbagai aspek sains, teknologi, dan dunia medis dalam kaitannya dengan isu ras, kewarganegaraan, serta relasi pengetahuan dan kekuasaan. Tahun 2018 menandai berdirinya JUST DATA Lab[9] laboratorium yang ia inisiasi sebagai platform kolaborasi antara aktivis, praktisi teknologi, dan seniman dalam mengembangkan pendekatan baru pemanfaatan data untuk tujuan keadilan sosial. Selain itu, ia aktif dalam komite pengarah dua lembaga Princeton: Program Kesehatan Global dan Kebijakan Kesehatan[10] serta Pusat Humaniora Digital.
Tanggal 25 September 2020 mencatat pengangkatan Benjamin sebagai salah satu dari 25 anggota dewan pengawas independen Facebook yang disebut "Real Facebook Oversight Board".[11]
(As editor) Captivating Technology: Race, Carceral Technoscience, and Liberatory Imagination in Everyday Life. Duke University Press. 2019. ISBN978-1-4780-0381-6.Duke University Press. 2019. ISBN<bdi>978-1-4780-0381-6</bdi>.