Rudat Bangka Belitung adalah kesenian tradisional yang berasal dari Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung. Rudat merupakan seni gerak dan vokal diiringi tabuhan ritmis dari waditra (sejenis terbang), syair – syair yang terkandung dalam nyanyaiannya bernafaskan kegamaan, yaitu puja-puji yang mengagungkan sang maha pencipta, shalawat dan rosul. Oleh sebab itu seni rudat adalah perpaduan seni gerak dan vokal yang diiringi musik terbangan yang didalamnya terdapat unsur keagamaan, seni tari dan seni suara. Kesenian ini biasanya dipentaskan untuk upacara keagamaan dengan lantunan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, Rudat Bangka Belitung juga berfungsi sebagai hiburan untuk acara pernikahan dan kegiatan pariwisata di Kabupaten Belitung Timur.[1]
Sejarah Rudat Bangka Belitung
Menurut cerita, seni rudat di Belitung Timur dibawakan oleh Lailatur Qadri. Beliau berasal dari Kesultanan Pontianak, Lailatur Qadri adalah anak Sultan Pontianak semata wayang yang taat beribadah dan memiliki kemampuan pencak silat. Suatu masa kerajaan sepi dan tidak terdapat aktivitas seni yang meramaikan suasana kesultanan, Lailatur qadri kemudian diperintahkan oleh sultan untuk mengajar pencak silat kepada warga keraton. Melihat kepiawaian anaknya dalam beladiri, sultan berpikir untuk menjadikan pencak silat tersebut sebagai rudat (tarian), kemudian seni rudat pun menyebar sampai ke Belitung Timur.[2]
Pada tahun 2016, rudat telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia dari Belitung Timur berdasarkan usulan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung Timur. Saat ini, seni rudat sering ditampilkan pada event – event kepariwisataan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Belitung Timur dalam menghibur para tetamu dan wisatawan yang hadir.[1]
Makna Tari Rudat
Menurut sejarahnya Tari Rudat ini bercerita tentang kegagahan prajurit kerajaan yang baru pulang dari perang. Meski tarian ini tergolong ke dalam jenis tarian wali namun berbeda dengan tarian upacara lain yang biasanya memerlukan para penari khusus dan terlatih, siapapun bisa menarikan tari Rudat, baik yang sudah terlatih maupun yang masih awam, Pada dasarnya dalam tarian ini para penarinya hanya mengikuti perintah gerakan pemimpin penarinya yang ada di depan mereka, yang mengerti tanggung jawab dalam memberikan contoh yang baik. Tidak memerlukan pelatihan intensif. Tarian ini merupakan tarian yang dibawakan oleh sekelompok remaja putra atau putri dengan diringi tabuhan alat musik gendang rebana/terbang dengan gerak-gerak yang serempak, semangat dan khusu’.[3]
Pelaksanaan Tari Rudat
Untuk Jumlah Personil serta pakaian yang dikenakan para penari dalam Tari Rudat yaitu minimal 6 orang. Pakaian yang dikenakan para penari Rudat adalah Baju Muslim/kurung untuk wanita dan Pakaian Muslim/Koko atau Pakaian Khas Melayu Bangka (Telok Belango) untuk pria ditambah dengan sarung tangan berwarna putih. Iringan dalam Tari Rudat yaitu berupa lantunan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang berasal dari Kitab Barzanji/Syarofal Anam. Iringan Musik berupa tabuhan alat musik gendang rebana/terbang.[3]