Retrofit adalah penambahan teknologi atau fitur baru pada sistem lama. Retrofit dapat dilakukan karena sejumlah alasan, contohnya pada barang yang memerlukan modal besar, seperti kapal perang, peralatan militer, atau pabrik, perusahaan atau pemerintah melakukan retrofit untuk mengurangi kebutuhan penggantian sistem secara menyeluruh. Retrofit juga dapat disebabkan oleh perubahan peraturan atau kebutuhan, seperti retrofit seismik yang dirancang untuk memperkuat bangunan lama agar tahan gempa.
Secara prinsip, retrofit adalah tindakan yang diambil untuk memungkinkan suku cadang baru dipasang pada peralatan lama (seperti bilah pada kincir angin).[1] Suku cadang juga perlu diretrofit apabila rancangan peralatannya telah diubah atau direvisi.
Retrofit adalah proses penting untuk katup dan aktuator guna memastikan pabrik beroperasi secara optimal. Salah satu contoh retrofit adalah penggantian katup tiga jalur menjadi katup dua jalur, sehingga menyebabkan penutupan salah satu jalur.[2]
Retrofit dapat meningkatkan fungsionalitas mesin atau sistem lama dengan memasang teknologi dan peralatan yang lebih baru dan canggih, seperti memasang antarmuka mesin-manusia pada pabrik tua.[3]
Keuntungan retrofit manufaktur
Penghematan pengeluaran modal sembari diuntungkan oleh teknologi baru
Truk[8] dan mesin pertanian juga dapat diretrofit untuk menjadikannya otonom.
Peralatan militer
Sejumlah kapal perang telah diretrofit. Contohnya, program New Threat Upgrade dari Angkatan Laut Amerika Serikat untuk meretrofit sejumlah kapal perangnya guna meningkatkan kapabilitas anti-udara. Kapal perang kerap diretrofit karena salah satu dari tiga alasan berikut, yakni untuk memasang teknologi baru, untuk mengkompensasi selisih pada performa atau kelemahan pada rancangan, atau untuk mengubah klasifikasinya.
Militer kerap menjadi pemakai pertama dari teknologi terbaru, dan banyak juga teknologi baru yang dihasilkan oleh militer, terutama pada bidang komunikasi radio dan radar. Oleh karena itu dan karena besarnya investasi untuk membuat kapal perang baru, maka umum dilakukan retrofit pada kapal perang lama saat sistem baru telah selesai dikembangkan. Retrofit tersebut dapat berupa penggantian tipe radio atau penggantian peralatan kriptografi dengan metode komunikasi lain yang lebih aman, atau bahkan hingga penggantian senjata, penambahan plat, atau penambahan sistem propulsi baru.
Kapal perang juga diretrofit untuk mengkompensasi kelemahan yang ditemukan pada saat dioperasikan. Perubahan doktrin perang juga menyebabkan retrofit diperlukan, seperti peningkatan kapabilitas anti-pesawat terbang pada kapal perang era Perang Dunia II, karena pesawat terbang makin menjadi bagian penting dari strategi dan taktik angkatan laut.
Sejumlah kapal perang pun diretrofit menjadi kapal patroli, kapal penjaga pantai, atau kapal khusus lain saat dinilai tidak lagi cocok untuk digunakan sebagai kapal perang. Contohnya, kapal kelas Momi milik Angkatan Laut Jepang yang diproduksi pada periode antar perang, diubah dari kapal penghancur menjadi kapal patroli pada tahun 1939. Retrofit juga dilakukan pada kapal yang tidak lagi dibutuhkan, karena adanya perubahan taktik. Contohnya, missing name dulu adalah kapal pengangkut batu bara kelas Jupiter yang kemudian diubah menjadi kapal induk.
Lokasi dengan permukaan kedap air yang ekstensif (seperti tempat parkir dan atap) dapat menghasilkan limpasanair badai yang tinggi selama hujan badai, dan dapat merusak badan air terdekat. Masalah tersebut dapat diatasi dengan memasang fitur manajemen air badai baru di lokasi, yang biasa disebut oleh para praktisi sebagai retrofit air badai. Manajemen air badai juga dipraktikkan pada proyek retrofit lain, seperti taman hujan, paving permeabel, dan atap hijau.[9]