Hubungan jarak jauh (bahasa Inggris:Long Distance Relationshipscode: en is deprecated , disingkat LDR) merupakan hubungan intim antara pasangan yang secara geografis terpisah satu sama lain. Pasangan di LDR menghadapi pemisahan geografis dan keterbatasan dalam kontak tatap muka. LDR sangat lazim di kalangan mahasiswa, yakni sebanyak 25% sampai 50% dari semua hubungan.[1] Meskipun para mahasiswa telah melaporkan sejumlah besar LDR pada kalangan mahasiswa, hubungan jarak jauh terus menjadi fenomena yang belum banyak dikaji.[2]
Karakteristik
LDR secara kualitatif berbeda dari hubungan yang dekat secara geografis; yaitu, hubungan di mana pasangan dapat melihat satu sama lain, tatap muka, hampir setiap hari. Menurut Rohlfing (1995) ia menyarankan tantangan unik berikut bagi mereka yang menjalani hubungan jarak jauh:
Peningkatan beban keuangan untuk mempertahankan hubungan
Kesulitan mempertahankan persahabatan yang dekat secara geografis saat berada dalam hubungan romantis jarak jauh
Kesulitan menilai keadaan suatu hubungan dari kejauhan
Harapan yang tinggi dari mitra untuk kualitas pertemuan tatap muka yang terbatas dalam hubungan
LDR bersama teman dan keluarga
Tidak semua hubungan jarak jauh itu romantis. Ketika individu pergi ke sekolah, hubungan mereka dengan keluarga dan teman juga menjadi jarak jauh. Pew Internet (2004) menegaskan bahwa 79% responden dewasa dari Amerika Serikat melaporkan menggunakan Internet untuk komunikasi dengan keluarga dan teman.[3] Juga, Pew Internet (2002a) menyatakan bahwa karena teknologi baru, mahasiswa akan memiliki ikatan sosial yang lebih besar dengan teman-teman mereka daripada anggota keluarga mereka. Oleh karena itu, memeriksa email di kalangan mahasiswa membantu mengeksplorasi bagaimana Internet memengaruhi mahasiswa secara emosional dan sosial.[4]
Di bawah pengaruh besar globalisasi, bersama dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi, migrasi secara bertahap menjadi ciri masyarakat kontemporer. Akibatnya, keluarga transnasional menjadi semakin umum di mana anggota keluarga tinggal di berbagai wilayah dan negara, tetapi memiliki rasa persatuan kolektif lintas batas negara.[5] Misalnya, anak-anak memilih untuk meninggalkan rumah untuk belajar di luar negeri, orang tua memutuskan untuk meninggalkan rumah untuk prospek dan gaji yang lebih baik, atau saudara kandung mengejar jalan hidup yang berbeda di seluruh dunia.
Cara untuk tetap terhubung
Teknologi komunikasi baru seperti paket telepon seluler membuat komunikasi antar individu yang berjauhan menjadi lebih mudah dibandingkan dulu.[6] Sebelum populeritas kencan lewat internet, hubungan jarak jauh tidaklah umum, karena bentuk utama komunikasi antara pasangan biasanya berupa percakapan telepon atau surat-menyurat. Menurut Pew Internet pada tahun 2008, ketika warga Amerika ditanya seberapa sering mereka menggunakan internet dalam sehari, 56% melaporkan mengirim atau membaca email, 10% melaporkan mengirim pesan instan, dan 9% melaporkan menggunakan jejaring sosial daring seperti Facebook[7]atau Twitter. Namun, dengan kemunculan internet, hubungan jarak jauh semakin populer karena menjadi lebih mudah untuk dipertahankan dengan teknologi modern. Pada akhirnya, komunikasi dan menetapkan tujuan yang realistis dapat membantu mencegah putusnya hubungan dan kehilangan kontak. [8]
Peningkatan dalam hubungan jarak jauh diiringi dengan bertambahnya teknologi yang dirancang khusus untuk mendukung pasangan intim yang tinggal terpisah. Secara khusus, ada banyak perangkat yang mencoba meniru perilaku yang dilakukan bersama secara langsung dari jarak jauh, termasuk berpelukan,[9] berciuman,[10] dan bahkan kegiatan seksual.[11] Namun, keberhasilan teknologi-teknologi ini sejauh ini masih terbatas.
Pasangan yang memiliki perilaku pemeliharaan hubungan yang rutin dan strategis, serta memanfaatkan media sosial, dapat membantu mempertahankan hubungan jarak jauh.[12] Memiliki sikap positif (membuat interaksi menjadi ceria dan menyenangkan), keterbukaan (membahas hubungan dan perasaan secara langsung), jaminan (memberikan keyakinan kepada pasangan tentang hubungan dan masa depan), dukungan jaringan (bergantung pada dukungan dan kasih sayang dari orang lain), tugas bersama (melakukan tugas bersama), dan manajemen konflik (memberi nasihat kepada pasangan) adalah beberapa perilaku pemeliharaan hubungan yang rutin dan strategis.[13]
Perilaku pemeliharaan hubungan
Pasangan dalam hubungan intim terus bekerja untuk memperbaiki hubungan mereka. Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk membuat pasangan bahagia dan memperkuat hubungan secara keseluruhan.[14] Cara individu berperilaku memiliki pengaruh besar terhadap kepuasan dan ketahanan hubungan. Para peneliti telah menemukan sistem perilaku pemeliharaan antara pasangan intim. Perilaku pemeliharaan dapat dibagi menjadi tujuh kategori: jaminan terkait cinta dan komitmen dalam hubungan, keterbukaan dalam berbagi perasaan, manajemen konflik, interaksi positif, berbagi tugas, memberikan nasihat kepada pasangan, dan menggunakan jejaring sosial untuk dukungan (Dainton, 2000; Stafford, Dainton, & Haas, 2000).
Dindia dan Emmers-Sommer (2006) mengidentifikasi tiga kategori perilaku pemeliharaan yang digunakan pasangan untuk menghadapi perpisahan. "Perilaku prospektif, seperti mengucapkan selamat tinggal kepada pasangan, yang mengatasi perpisahan yang diantisipasi; perilaku introspektif, yaitu komunikasi saat pasangan berjauhan; dan perilaku retrospektif yang pada dasarnya adalah berbicara secara tatap muka, yang menegaskan kembali hubungan setelah perpisahan." (Dindia, & Emmers-Sommer, 2006). Ini dikenal sebagai unit konstruk hubungan berkelanjutan (RCCUs). Perilaku pemeliharaan serta RCCUs berkorelasi dengan peningkatan kepuasan hubungan dan juga komitmen (Pistole et al., 2010).
Strategi mempertahankan hubungan jarak jauh
Dalam menjalani hubungan jarak jauh, diperlukan strategi khusus agar hubungan tetap berjalan baik meskipun tidak ada pertemuan fisik. Strategi utama yang dapat meningkatkan kepuasan pasangan dapat dilakukan dengan menjaga komunikasi yang rutin dan responsif melalui pesan teks. Pasangan yang lebih sering berinteraksi lewat pesan menunjukkan tingkat kepuasan hubungan yang lebih tinggi.[15] Namun, frekuensi bukanlah satu-satunya faktor penting. Kualitas interaksi seperti pesan yang berisi perhatian, dukungan emosional, dan humor, turut berperan besar dalam memperkuat ikatan emosional. Selain itu, ekspresi kasih sayang melalui teks, seperti ungkapan cinta dan kerinduan, terbukti meningkatkan persepsi bahwa pasangan saling peduli. Pasangan perlu mengelola ekspektasi dan rasa rindu secara realistis, karena penerimaan terhadap keterbatasan jarak membantu menjaga kestabilan emosi dan rasa percaya dalam hubungan.[16]
Strategi mempertahankan hubungan dan kepuasan hubungan dapat ditingkatkan melalui penggunaan teknologi komunikasi. Komunikasi yang rutin serta pemikiran positif tentang pasangan selama terpisah cenderung meningkatkan kepuasan hubungan yang dibantu oleh komunikasi melalui teknologi seperti pesan teks dan video call dapat menjadi strategi menjaga hubungan.[17] Menurut (Oktariani, 2018) beberapa strategi menjalani hubungan LDR dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
Communication: Berbicara dengan pasangan mengenai aktivitas sehari-hari adalah kebiasaan yang mampu mempererat ikatan lewat keterbukaan yang diberikan oleh masing-masing pihak. Keterbukaan yang ada dalam diri pasangan menegaskan betapa berartinya hubungan itu. Hal-hal tersebut membuat setiap pasangan berupaya untuk terus menjaga komitmen satu sama lain.
Be Nice: Bila terdapat suatu permasalahan, jangan ragu untuk mengalah agar permasalahan tidak berlarut dan cobalah meminta maaf ketika sudah tidak emosi guna menyelesaikan masalah.
Be Open: Jadilah terbuka tentang apapun kepada pasangan.Tidak saling tertutup, dingin, ataupun cuek serta hindari menutupi-nutupi hal pada pasangan.
Be Positive: Dengan memberikan pesan romantis sebelum tidur dapat menjadi upaya menjaga kehangatan hubungan dan bentuk perhatian kepada pasangan. Lakukanlah hal-hal kecil yang disukai oleh pasangan, meskipun tidak selalu bersifat romantis.
Focus on Improving Yourself: Apabila salah satu pihak cenderung mudah marah, sebaiknya lakukanlah perubahan demi menjaga hubungan yang harmonis antara keduanya. Mengubah kebiasaan yang kurang disukai oleh pasangan demi kebaikan bersama bisa memperkuat ikatan dalam hubungan. [18]
Dengan demikian, strategi komunikasi yang seimbang baik dalam frekuensi, kualitas, maupun ekspresi emosionalmerupakan kunci dalam mempertahankan hubungan jarak jauh yang memuaskan (Holtzman et al., 2021).[19]
Referensi
↑Maguire, Katheryn C.; Terry A. Kinney (February 2010). "When Distance is Problematic: Communication, Coping, and Relational Satisfaction in Female College Students' Long-Distance Dating Relationships". Journal of Applied Communication Research. 38 (1): 27–46. doi:10.1080/00909880903483573. S2CID144663621.
↑Mueller, Florian 'Floyd'; Vetere, Frank; Gibbs, Martin R.; Kjeldskov, Jesper; Pedell, Sonja; Howard, Steve (2005-04-02). "Hug over a distance". CHI '05 Extended Abstracts on Human Factors in Computing Systems. (dalam bahasa Inggris). ACM: 1673–1676. doi:10.1145/1056808.1056994. ISBN978-1-59593-002-6.
↑Sidelinger, R; Ayash, G; Godorhazy, A; Tibbles, D (2008). "Couples Go Online: Relational Maintenance Behaviors and Relational Characteristics Use in Dating Relationships". Human Communication.