Rebana Mandar atau Rawana adalah istilah lokal untuk rebana dalam budaya Mandar, Sulawesi Barat dan budaya Arab yang dimainkan dengan cara ditabuh. Meskipun bukan alat musik asli Mandar, rawana telah menjadi bagian integral dari tradisi lokal sejak diperkenalkan melalui kontak budaya Islam-Arab.[1]
Sejarah
Rebana masuk ke wilayah Mandar bersamaan dengan munculnya Islam, diperkirakan sejak abad ke‑13. Awalnya dimainkan oleh laki‑laki (parrawana tommuane) dalam upacara keagamaan seperti khataman Al‑Qur’an dan sayyang pattu’duq (kuda menari) dengan tempo kuat dan cepat. Seiring waktu, kelompok perempuan mulai terbentuk. Kelompok ini dikenal sebagai Parrawana Towaine. Rebana ini pertama kali dimainkan di Timur Tengah pada saat pemyambutan Rasulullah ketika hijrah ke Madinah dengan diiringi lantunan shalawat"Thola'al badru 'alaina" sebagai ucapan syukur atas kedatangan Rasulullah.[2]
Bentuk dan Bahan
Rawana adalah alat musik membranofon berbentuk lingkaran drum, seperti bingkai kayu silinder berbalut kulit hewan. Terkadang, rawana juga dilengkapi logam jingles.[3] Di Mandar, kayu kelapa digunakan sebagai bingkai, dengan permukaan kulit kambing.[butuh rujukan]
Rawana terdiri dari bingkai kayu yang umumnya terbuat dari pohon mahoni. Kemudian, Rawana dilapisi dengan kulit kambing berdiameter antara 30cm hingga 80cm Ukuran yang beragam memengaruhi tajam atau nyaringnya irama. Rebana kecil menghasilkan nada tinggi, sementara ukuran besar menghasilkan suara lebih berat dan dalam.[4]
Peran Parrawana Towaine
Di Mandar, ada komunitas rebana perempuan yang dikenal sebagai Parrawana Towaine. Mereka memainkan rawana dalam acara keagamaan seperti Maulid Nabi Muhammad SAW dan zikir dengan pola tabuhan suara rebana dan vokal shalawat.[5]Cammana adalah seorang pendiri komunitas Sohibu Baiti dan memperluas tradisi rebana sebagai sarana pendidikan dan spiritual komunitas.[2][6]
Parrawana Towaine tidak menggabungkan rebana dengan kelompok tari. Beberapa kelompok pertunjukan rebana Mandar menggabungkan gerakan tubuh sederhana dan terkoordinasi dalam pementasannya. Meskipun demikian, unsur gerak ini tidak menjadi fokus utama dalam seni tersebut, melainkan hanya berfungsi sebagai penunjang ekspresi. Elemen yang paling menonjol tetap terletak pada vokal dan irama rebana, yang berperan penting dalam penyampaian zikir dan pesan budaya secara musikal.[butuh rujukan]
Cara Memainkan
Rawana dimainkan dengan cara menepuk permukaan kulit drum menggunakan tangan. Pemain biasanya duduk, membiarkan bingkai rawana bersandar pada lutut, lalu menabuh secara ritmis.[7]