Juliana (pelafalan dalam bahasa Belanda:[jyliˈjaːnaː]ⓘ; Juliana Louise Emma Marie Wilhelmina; 30 April 1909–20 Maret 2004) adalah Ratu Belanda dari tahun 1948 hingga turun takhta pada tahun 1980.
Karena kesehatan Wilhelmina yang memburuk, Juliana mengambil alih tugas kerajaan secara singkat pada tahun 1947 dan 1948. Pada bulan September 1948, Wilhelmina turun takhta dan Juliana naik takhta Belanda. Masa pemerintahannya ditandai dengan dekolonisasi dan kemerdekaan Hindia Belanda (sekarang Indonesia) dan Suriname, serta pembentukan dan pembubaran Uni Belanda-Indonesia, di mana ia menjabat sebagai kepala negara. Terlepas dari serangkaian kontroversi yang melibatkan keluarga kerajaan, Juliana tetap menjadi sosok yang populer di kalangan orang Belanda.
Pada bulan April 1980, Juliana turun takhta demi putri sulungnya, Beatrix. Setelah kematiannya pada tahun 2004 pada usia 94 tahun, ia adalah mantan raja yang hidup paling lama di dunia.
Seperti yang tercantm di konstitusi Belanda kalau dia harus siap meneruskan takhta di umur 18, pendidikan Putri Juliana berlangsung lebih cepat dari kebanyakan anak lainnya. Setelah 5 tahun pendidikan dasar, sang Putri mendapatkan pendidikan lanjutannya (hingga tingkat pra-universitas) oleh tutor privat.
Pada 30 April1927, Putri Juliana merayakan ulangtahunnya yang ke delapan belas. Dibawah konstitusi, dia secara resmi telah sampai pada umur yang cukup dan diasumsikan sudah bisa menerima hak prerogatif kerajaan, jika dibutuhkan. Dua hari kemudian ibunya menempatkan dia di “Raad van State” (“Dewan Negara”). Seorang wanita yang pendiam, pemalu dan masih muda yang mana ibunya yang religius berat melarangnya untuk menggunakan make-up, Juliana tidak cocok dengan imej seorang Putri Kerajaan. Dia akan, tanpa terkecuali, dicintai nyaris semua rakyat Belanda.
Sejalan dengan berlalunya waktu, Ratu Wilhemina mulai mencari suami yang cocok untuk putrinya. Ini lumayan sulit untuk seorang Pangeran yang Protestan untuk cocok dengan standar Kerajaan Belanda yang ketat. Putri dari Britania Raya dan Swedia telah memberi calon tetapi ditolak oleh sang Putri. Setelah bertemu yang mulia Pangeran Bernard dari Lippe Bietersfeld pada Olimpiade Musim Dingin 1936 di Bavaria, Pertunangan kerajaan Putri Juliana diatur oleh ibunya. Pangeran Bernhard adalah seorang pebisnis yang baik dan biarpun bukanlah playboy, merupakan “orang kota” yang gaya hidupnya mencengangkan. Putri Juliana jatuh cinta berat dengan tunangannya, cinta yang bertahan seumur hidup dan tak terpisahkan selama peperangan dengan banyaknya skandal di luar nikah dan anak sang Pangeran yang diketahui publik. Di dokumen yang legal yang menyatakan apa yang harus Pangeran Jerman boleh dan tidak boleh dilakukan, dan jumlah uang yang dia bisa harapkan dari kekayaan besar Keluarga Kerajaan Belanda, sang Ratu Wilhemmia tidak ada lagi kesempatan. Dokumen tersebut ditandatangani dan pertunangan pasangan tersebut diumumkan pada 8 September 1936.
Pengumuman pernikahan memisahkan negara itu karena ada yang tidak percaya akan kepemimpinan Adolf Hitler. Setelah pernikahan, pada 24 November 1936, Pangeran Bernhard diberikan kewarganegaraan Belanda dan mengganti pengejaan namanya dari Jerman ke Belanda. Mereka menikah di Den Haag pada 7 Januari 1937, tanggal di mana kakek dan nenek Juliana, Raja William III dan Ratu Emma, menikah 58 tahun sebelumnya. Upacara sipilnya diadakan di Balai Kota The Hague dan pemberkatannya di Gereja Agung (St. Jacobskerek), juga di The Hague. Pasangan muda ini kemudian membeli rumah di Istana Soestdijk, Baarn.