Menurut tradisi kesultanan Banjar yang berlaku pada saat itu, di antara putera-putera dari seorang Sultan yang sedang berkuasa, maka putera sulung (Pangeran Ratu) dari permaisuri akan dilantik sebagai Sultan Muda dan putera kedua (Raden Dipati) dari permaisuri akan dilantik sebagai mangkubumi (Pangeran Mangkubumi) untuk menggantikan mangkubumi sebelumnya yang meninggal dunia.
Sebelum menjabat mangkubumi namanya adalah Pangeran Ismail. Ratoe Anom Ismail alias Ratu Anom Mangku [Bumi Sukma] Dilaga mendapat fitnah dengan tuduhan akan melakukan kudeta terhadap Sultan Sulaiman sehingga ia dihukum bunuh oleh abangnya yang juga besannya yaitu Sultan Sulaiman.[6][7]
Sulthan Sulaiman mengirim surat kepada Residen, tertanggal 23 Syawal 1220 Hijriyah(tahun 1805), di mana ia memberi pemberitahuan bahwa karena cemburu ia telah membunuh saudaranya Ratu Ismail. Dalam suratnya kepada Perusahaan, ia akan menjelaskan hal ini secara lebih rinci.
Sulthan Sulaiman mengirim surat kepada Residen, dengan meterai utuh, ditulis pada tanggal 5 Safar 1221 Hijriyah, diterima di Batavia pada tanggal 29 Mei1806. Isi: Sebuah laporan yang sangat rinci tentang alasan mengapa ia menyingkirkan saudaranya, Ratu Ismail, ia menghancurkan kebun lada, telah meminta bantuan pangeran Siak dan Riau untuk menolak pemerintah, dll. Sulthan Sulaiman mengklaim bahwa dia harus melakukan perbuatan ini untuk mencegah yang lebih buruk! Apa tanggapan Perusahaan terhadap hal ini dan bagaimana perilaku penduduk?[6]