Rasisme terhadap berbagai kelompok etnis dan minoritas telah menjadi bagian dari sejarah Australia sejak dimulainya kolonisasi Britania pada akhir abad ke-18.[1] Sejak mendaratnya bangsa Inggris di benua tersebut, masyarakat adat Australia—yang terdiri atas beragam kelompok Aborigin dan Penduduk Selat Torres—menghadapi pembatasan yang sangat berat terhadap kebebasan politik, sosial, dan ekonomi mereka. Sepanjang abad ke-19 dan ke-20, komunitas-komunitas ini mengalami berbagai bentuk kekerasan struktural dan langsung, termasuk genosida, pengusiran paksa dari tanah tradisional, kebijakan Stolen Generations yang memisahkan anak-anak dari keluarga mereka, serta serangkaian pembantaian yang terdokumentasi di berbagai wilayah.[2] Meskipun berbagai reformasi hukum telah dilakukan sejak pertengahan abad ke-20, diskriminasi sistemik terhadap masyarakat adat masih berlangsung hingga masa kini, tercermin dalam disparitas kesehatan, pendidikan, penguasaan tanah, peradilan pidana, dan representasi politik.
Selain itu, kelompok-kelompok etnis lain—termasuk komunitas Eropa non-Inggris, Afrika Sub-Sahara, Asia Timur dan Asia Tenggara, penduduk Kepulauan Pasifik, Arab, Iran, Amerika Latin, serta kelompok kecil Amerika Utara yang bermigrasi ke Australia—juga pernah atau masih menghadapi bentuk-bentuk diskriminasi, marginalisasi, dan pelecehan. Dalam sejarah awal kolonisasi dan masa perkembangan negara, imigran Italia, Yahudi, serta warga keturunan Irlandia seringkali menjadi sasaran xenofobia, prasangka agama, dan kebijakan eksklusioner, baik secara sosial maupun legal.[3]
Sejarah
Bentuk-bentuk rasisme di Australia telah muncul dalam berbagai cara sepanjang sejarah.[3] Salah satu contohnya adalah segregasi sosial dan pemisahan ruang hidup antara komunitas kulit putih dan kelompok etnis tertentu, termasuk masyarakat adat dan beberapa kelompok imigran. Kebijakan imigrasi yang bersifat diskriminatif—seperti White Australia Policy yang diberlakukan mulai tahun 1901 hingga secara bertahap dihapuskan pada paruh kedua abad ke-20—menjadi instrumen utama dalam membatasi masuknya orang non-Eropa.[4] Hukum naturalisasi pada masa awal negara juga dirancang untuk menghalangi non-kulit putih memperoleh kewarganegaraan. Selama berbagai periode konflik internasional, Australia juga menjalankan sistem kamp interniran, yang menahan warga negara asing atau warga keturunan tertentu (misalnya Jerman, Italia, Jepang, dan kemudian beberapa kelompok etnis lainnya) atas dasar kecurigaan kolektif atau alasan keamanan nasional yang luas dan tidak teruji.
Secara keseluruhan, sejarah rasisme di Australia mencerminkan interaksi kompleks antara kolonialisme, kebijakan negara, dan dinamika sosial yang berubah dari waktu ke waktu. Meskipun negara tersebut kini secara resmi mengadopsi prinsip multikulturalisme, warisan diskriminasi historis dan struktur sosial yang timpang masih memiliki dampak signifikan terhadap kelompok-kelompok tertentu di Australia modern.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.