Rasisme anti-Arab atau Anti-Arab racism, yang juga dikenal sebagai Anti-Arabism, sentimen anti-Arab, atau Arabophobia, merujuk pada berbagai bentuk permusuhan, kebencian, diskriminasi, ketakutan, atau prasangka terhadap masyarakat Arab, dunia Arab, atau bahasa Arab. Fenomena ini berakar pada penolakan atau kebencian yang tidak rasional terhadap identitas etnis, budaya, atau linguistik Arab. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan pola-pola sosial, politik, dan historis yang memosisikan individu atau kelompok Arab sebagai “lain” atau sebagai ancaman, sehingga menjadi sasaran stereotip, marginalisasi, dan perlakuan diskriminatif dalam berbagai konteks.
Sejarah
Islamophobia di berbagai negara.
Sepanjang sejarah, terdapat sejumlah peristiwa besar yang secara luas diidentifikasi sebagai contoh anti-Arabisme. Di antaranya adalah pengusiran kaum Morisco dari Spanyol antara tahun 1609 dan 1614,[1] yang mencerminkan kebijakan homogenisasi religius dan etnis pasca-Reconquista; proses “ketertiban” atau penaklukan Aljazair oleh Prancis dari 1830 hingga 1875,[2] yang disertai kekerasan kolonial terhadap penduduk Arab; serta genosida di Libya yang dilakukan oleh Italia antara 1929 dan 1934.[3] Peristiwa lain yang kerap dikaitkan dengan sentimen anti-Arab meliputi Nakba di Palestina Mandat sejak 1947,[4] yang mengakibatkan perpindahan massal dan penderitaan luas masyarakat Arab Palestina, serta pembantaian Zanzibar pada tahun 1964, di mana kelompok Arab menjadi target kekerasan etnis.[5]
Dalam era modern, berbagai bentuk anti-Arabisme tetap terlihat di sejumlah wilayah dunia, termasuk di Amerika Serikat, Israel, serta beberapa bagian Eropa, Asia, Afrika, dan kawasan Amerika lainnya. Di Amerika Serikat, sentimen anti-Arab meningkat secara drastis setelah serangan 11 September 2001, memicu praktik pemprofilan rasial yang luas, tindakan diskriminatif dalam penegakan hukum dan kebijakan imigrasi, serta peningkatan signifikan dalam kejahatan kebencian terhadap warga Arab Amerika dan kelompok yang diasosiasikan dengan identitas Arab atau Muslim.[6]
Di Israel dan wilayah pendudukan Palestina, warga Arab Israel dan masyarakat Palestina menghadapi berbagai bentuk segregasi dan diskriminasi yang telah didokumentasikan oleh sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional dan dianalisis oleh beberapa akademisi yang menilai kondisi tersebut sebagai bentuk apartheid institusional. Bentuk-bentuk eksklusi ini mencakup perbedaan dalam kebijakan perumahan, akses layanan publik, status hukum, dan kebebasan bergerak.
Sebagai respons terhadap berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan tersebut, sejumlah organisasi advokasi didirikan, terutama di Amerika Serikat, untuk melindungi hak-hak sipil dan politik individu keturunan Arab. Organisasi seperti American-Arab Anti-Discrimination Committee (ADC) dan Council on American–Islamic Relations (CAIR) berperan aktif dalam menyediakan bantuan hukum, melawan stereotip di media, mempromosikan pendidikan publik, serta memperjuangkan kebijakan yang melindungi komunitas Arab dan Muslim dari diskriminasi dan prasangka rasial.
Definisi Arab
Orang Arab adalah mereka yang bahasa ibunya adalah bahasa Arab. Orang yang berasal dari keturunan Arab—terutama penutur asli bahasa Inggris dan Prancis keturunan Arab di Eropa dan Amerika—sering mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Arab. Karena praktik Islam yang sangat luas di antara populasi Arab, anti-Arab sering kali disalahartikan sebagai Islamofobia.[7]
Terdapat minoritas Arab non-Muslim yang cukup menonjol di dunia Arab. Minoritas ini mencakup orang Kristen Arab di Lebanon, Suriah, Palestina, Yordania, Mesir, Irak, Kuwait, dan Bahrain, serta negara-negara Arab lainnya.Ada juga minoritas Arab Yahudi, Druze, Baháʼí, dan orang-orang tanpa agama dalam jumlah yang cukup besar.[8]