Randstad N.V., umumnya dikenal sebagai Randstad dan ditulis dengan gaya randstad, adalah perusahaan multinasional konsultasi sumber daya manusia asal Belanda yang berkantor pusat di Diemen, Belanda. Bersama dengan Adecco, perusahaan ini merupakan salah satu dari dua firma penyedia tenaga kerja terbesar di dunia.[2]
Sejarah
Perusahaan ini didirikan dengan nama Uitzendbureau Amstelveen di Belanda pada tahun 1960 oleh Gerrit Daleboudt dan Frits Goldschmeding (1933–2024) berdasarkan sebuah ide untuk skripsi kuliah. Goldschmeding kemudian menjadi orang terkaya di Belanda.[3] Empat tahun kemudian, nama perusahaan itu diubah menjadi Randstad NV.[4]
Pada tahun 2008, perusahaan mengakuisisi Vedior seharga €3,3 miliar.[5] Pada tahun yang sama, perusahaan menjual unitnya di Portugal kepada Kelly Services.[2]
Pada Maret 2011, Frits Goldschmeding mengundurkan diri sebagai wakil ketua Dewan Pengawas. Masa jabatannya terakhir berlangsung dari 2007 hingga 2011.[3]
Pada September 2011, Randstad mengakuisisi Spherion seharga $770 juta.[6]
Pada Agustus 2016, Randstad mengakuisisi Monster.com seharga $429 juta secara tunai.[7] Pada September 2024, Monster bergabung dengan CareerBuilder, dan dana yang dikelola oleh Apollo Global Management menjadi pemilik mayoritas situs tersebut, dengan Randstad mempertahankan investasi minoritas.[8]
Sponsor
Randstad menjadi sponsor tim Formula Satu asal Britania, Williams F1, dari tahun 2006 hingga 2017.
Pada tahun 2019, Google melakukan kontrak dengan Randstad untuk mengumpulkan data untuk fitur autentikasi pengenalan wajah Pixel 4. Tujuan Google dalam proyek tersebut adalah membuat fitur tersebut lebih inklusif dengan mengumpulkan data wajah dari orang-orang berkulit gelap, dan peserta penelitian diberikan kupon hadiah senilai $5. Namun, New York Daily News melaporkan bahwa para pemimpin proyek dari Randstad diduga mengarahkan pekerjanya untuk memaksimalkan pengumpulan data dengan menipu peserta dan menargetkan tunawisma di Atlanta, Georgia.[10][11] Randstad menyatakan bahwa, setelah mendengar kekhawatiran mengenai cara penyampaian informasi kepada peserta dan memperoleh persetujuan, proyek tersebut ditangguhkan sementara dan para pemimpin proyek mendapatkan pelatihan ulang.[12] Setelah laporan tersebut diterbitkan, Google menghentikan riset lapangan dan sedang menyelidiki tuduhan tersebut.[13]