Tuan Galung Sinaga (dikenal sebagai Raja Israel Sinaga) adalah seorang penguasa dari marga Sinaga di daerah Parapat, Sumatera Utara.Ia dikenal sebagai penguasa pertama di Parapat yang memeluk agama Kristen. Raja Israel Sinaga menjalin persahabatan dengan misionaris Ludwig Ingwer Nommensen.[1]
Nama "Israel" diberikan kepadanya setelah ia di baptis ulang menurut aliran HKBP. Bukti keyakinan nya yang kuat terhadap Kekristenan, ia menghadiahkan sebidang tanahnya untuk ikut membangun gereja. Sekarang gereja itu adalah gereja HKBP Parapat. Selain pembangunan gereja HKBP, ia juga memberikan tanahnya untuk membangun Gereja Katolik Parapat serta keturunannya juga memberikan tanahnya untuk membangun masjid Taqwa Parapat.
Ia merupakan anak terakhir (ke-7) dari Raja Oppu Togadolok Sinaga yang merupakan penguasa/raja di daerah/kampung Parapat.
Raja Ompu Togadolog Sinaga merupakan putra sulung dari Raja Ompu Joara Bulan Sinaga yang menjadi penguasa/Bius kampung Parapat dan Girsang Sipangan Bolon (sekarang masuk ke Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara). Ia merupakan turunan asli klan bermarga Sinaga dari Urat Samosir. Raja Ompu Togadolog memiliki 7 Putra dari dua istri (Puang) yaitu boru Manurung menjadi Puang Bolon atau Permaisuri dan boru Gultom menjadi Puang Poso atau istri muda. Ketujuh anaknya, yaitu: Raja Ompu Togadolog Sinaga, Ompu Am Jaugan, Ompu Am Jamauli, Ompu Raja Bangbang Sinaga, Ompu Goling, Ompu Mudol, dan Raja Galung Israel Sinaga.
Setelah meninggal, putra pertamanya Oppu Togadolok Sinaga menjadi penguasa kampung Parapat. Namun karena meninggal dalam usia yang cukup muda, tahta diserahkan ke adiknya Raja Oppu Bangbang Sinaga (yang dikenal juga bergelar Raja Galumbang Laut Tawar). Setelah Raja Oppu Bangbang wafat, maka kekuasaan dilanjutkan ke adiknya Oppung Raja Galung (Israel) Sinaga. Setelah masuknya Kekristenan di Parapat dan sekitarnya, Raja Galung Sinaga dan kakaknya Raja Ompu Bangbang Sinaga akhirnya memeluk agama Kristen dengan nama baptis baru yaitu "Israel" dan untuk kakaknya diberi nama "Johannes".
Raja Israel Sinaga dikenal karena keadilan dalam mengambil keputusan selama berkuasa di Parapat. Ia juga menjalin kerjasama yang baik dengan Tuan dan Raja lainnya di daerah Sumatera Timur saat itu, seperti Sultan Asahan, Sultan Serdang, Tuan Sinaga Tanah Jawa, Tuan Purba, Tuan Damanik Sipolha dan Tuan Damanik Siantar. Saat pemerintahan Belanda, wilayah Parapat Girsang Sipangan Bolon masuk ke Wilayah Tuan Tanah Jawa. Sehingga timbul slogan "Sinaga Parapat bukan Sinaga Simalungun" yang sampai saat ini menjadi bahan diskusi di adat dan penelitian budaya. Israel Sinaga bersahabat dekat dengan Nommensen (misionaris terkemuka di tanah Batak), dan sering berdiskusi tentang budaya, bahasa, politik dan spiritual. Setelah memeluk Kekristenan, ia diberi gelar "Sintua" dari Dewan Gereja HKBP. Raja Israel Sinaga memiliki 8 putra dan 1 putri dari dua istri yang keduanya boru Manurung. Dari istri pertama, hanya melahirkan 1 putra saja, yaitu Gani Sinaga. Yang merantau ke daerah Kisaran dan memeluk Islam. Dari istri kedua, yang menjadi Puang Bolon, lahir 8 anak yaitu: Alexander Sinaga (Pejabat masa pemerintahan Belanda), Gidion Sinaga (Menjadi Lurah Pertama di Kampung Parapat), Markus Sinaga, Sophia Jinim br Sinaga (putri satu-satunya) Putrinya – Jinim Sophia br Sinaga menjadi Puang Bolon/Permaisuri Tuan Labuhan Asmin Damanik, Jambur Na Bolag Sipolha. Ia menjadi Permaisuri di kampung Sipolha, selanjutnya Tiopulus Sinaga (pegawai Dinas Kehutanan), Johan Sinaga (politikus dan Anggota Dewan Pariwisata Indonesia), Marinus Sinaga (Beacukai Propinsi Riau) dan Rajaidin Paulus Sinaga (apoteker).
Setelah Raja Israel Sinaga wafat, ia dan kakaknya serta leluhurnya dikebumikan di Kompleks Pemakaman Sinaga Sidabariba Parapat atau dikenal juga dengan Parbiusan. Setelah ia wafat, sesuai kesepakatan adat, tidak ada dari semua anaknya yang diangkat menjadi Penguasa/Bius. Penguasa dikembalikan ke keturunan pertama, yaitu kakaknya Raja Israel Sinaga yaitu Oppung Togadolok Sinaga (Anak pertama). Namun karena pecahnya Revolusi Sosial di Sumatera dan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, sistem penguasa di Parapat diatur dalam aturan negara dengan sistem pemerintahan. Sekarang keluarga Sinaga di wilayah Parapat berperan sebagai tokoh adat