Biografi
Syekh Jangkung Lahir Sekitar Tahun 1540 an M. beliau adalah putri dari Sunan Muria dan Nyai Sujinah atau Dewi Samaran adik dari Sunan Kudus. beliau terlahir dengan nama Raden Syarifuddin atau sering disebut dengan Saridin, beliau masih senasab dengan Rasulullah.
Syekh Jangkung mempunyai enam istri (sumber babad landoh) yaitu :
Pertama, Sarini dan dikarunia putra: Raden Bagus Momok Landoh
Kedua Raden Ayu Retno Jinoli yang merupakan kakak Sultan Agung kerajaan Mataram.
Ketiga Raden Ayu Pandan Arum Putri kerajaan Cirebon yang dianugerahi putra : Momok Hasan Bashori atau Raden Tirto Kusumo (Pangeran Tirtokusumo)
Keempat Nyai Ageng Bakirah putri dari ki Ageng Prayaguna (Makamnya di komplek makam landoh Kayen) dan dikaruniai putra: Momok Hasan Haji (Pangeran Dagan/Raden Kulub)
kelima rohayati putri sultan kerajaan palembang berputri Raden ayu Dyah Sunti
keenam putri dari ketib tuban Ki ageng Miguruh
Syekh Jangkung diperkirakan wafat sekitar tahun 15 Rojab 1563 Tahun Saka(Jawa) / 20 Oktober 1641 Masehi. Beliau dimakamkan di desa Landoh, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pati Jawa Tengah. Di kompleks makam Syekh Jangkung terdapat pula makam istrinya, yaitu Retno Jinoli dan RA. Pandan Arum.
Sanad ilmu dari orang tua angkatnya juga sebagai gurunya yaitu Kyai ageng kiringan
Perjalanan Hidup
Syekh Jangkung, dikenal sebagai Wali Allah penuh karomah, beliau punya sejarah panjang dengan berbagai macam versi dan terus menjadi buah bibir bagi masyarakat luas. Dari segi nama, ada yang menyebut Syekh Jangkung karena kisahnya bersama Sunan Kalijaga. Serta ada juga yang menjulukinya Kiai Landoh, karena pernah memelihara Kerbau Landoh.
Melalui ringkasan Drs. W. Darmanto, Penilik Kebudayaan Kecamatan Kajen dalam “Saridin, Seri I” yang sumbernya didapat dari cerita lisan masyarakat sekitar, Ada dua versi kisah kelahiran dan masa kecil Mbah Saridin.
Versi pertama, dari kisah tutur masyarakat ada yang menceritakan bahwa Mbah Saridin merupakan anak kandung Sunan Muria dan Dewi Sujinah, sengaja dipondokkan ke tempat Kyai Ageng Kiringan. Mengingat hubungan dekat antara dua keluarga; yaitu Syekh Muhammad Abdul Syakur, Bapak kandung dari Kyai Ageng Kiringan yang merupakan santri kesayangan Sunan Muria.
Sementara versi kedua, Kyai Ageng Kiringan merupakan ayah angkat dari Saridin. Kyai Ageng Kiringan atau Syekh Abdullah Asyiq Ibn Abdul Syakur bersama dengan Nyai Ageng Dewi Limaran atau Nyai Ageng Kiringan dan keduanya merupakan murid setia Sunan Muria. Kakak angkat Mbah Saridin, adalah Nyi Branjung, anak tunggal dari Kyai Ageng Kiringan dan Dewi Limaran. Ketika masih bayi, Mbah Saridin dilarung di aliran Sungai Tayu, Yitna. Kemudian diambil oleh Sunan Kalijaga dan diberikan kepada Kyai Ageng Kiringan yang sebelumnya telah bertirakat penuh tiga hari tiga malam di pinggiran sungai saat fajar tiba. Ibu kandung beliau sendiri merupakan Dewi Sujinah adik dari Sunan Kudus.
Sunan Muria juga berpengaruh besar terhadap jalan kewalian Mbah Saridin. Bila ditarik kesimpulan secara runtut, Mbah Saridin memiliki nasab kewalian dari Sunan Muria, dinaikkan garis ke atas sampai pada nama Sayyidina Huseinn. Namun mendapat gemblengan kanuragan dari tiga tokoh besar yakni Sunan Bonang, Sunan Kudus, serta Sunan Kalijaga. Adapun gelar Jangkung beliau dapat dari gurunya dan juga kakeknya yaitu Raden Sahid atau Sunan Kalijaga. Karena Saridin ini selalu dijangkung oleh gurunya. Makna kata jangkung menurut bahasa Indonesia dilindungi, diayomi, dipelihara, dididik, dan selalu dalam naungannya.[2]
Masa kecil
Bagi sebagian warga Pati, Jawa Tengah nama Syekh Jangkung tidak bisa dilepaskan dengan cerita mengenai kesaktian Syekh Jangkung atau juga dikenal sebagai Saridin yang begitu melegenda. Menurut Babad Pati, Saridin adalah anak angkat Kyai Ageng Kiringan yang ditemukan di pinggir sungai. Selama ini Kyai Ageng Kiringan memang mendambakan anak lelaki meski telah memiliki putri yang bernama Nyi Branjung. Berkat do‟anya yang khusuk pada suatu hari ditemukanlah seorang bayi laki-laki dengan perantara gaib Sunan Kalijaga yang mengatakan sesungguhnya bayi itu adalah putra sunan Muria, Bayi itu berselimutkan kain kemben yang berasal dari kain penutup dada sang ibu. “Asuhlah dengan bijak, agar kelak menjadi anak yang berbakti kepada orangtua dan agama. Adapun kemben itu kelak akan menjadi senjata yang ampuh untuk mengatasi setiap bahaya yang mengancamnya,” kata Sunan Kalijaga seperti dimimpikan oleh Kyai Ageng Kiringan.
Tentu saja Kyai dan Nyai Ageng Kiringan sangat berbahagia dan berjanji akan melaksanakan amanat dari Sunan Kalijaga itu sebaik-baiknya. Mereka sadar bahwa mereka hanyalah orang desa, bersepakatlah untuk memberi nama sang bayi itu sesuai dengan adat pedesaan, yaitu Syarifuddin. Untuk memudahkan masyarakat Jawa mengucapkannya sesuai logat, nama “Syarifuddin” berubah menjadi “Saridin”.
Dengan penuh kasih sayang suami istri itu mendewasakan Nyi Branjung dan Saridin sebagai kakak beradik hingga keduanya berumah tangga. Setelah beranjak remaja, Kyai Ageng Kiringan mengirimnya untuk berguru kepada Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang, wajar saja kalau Saridin memiliki ilmu pengetahuan Agama yang sangat luas. Akan tetapi tidak pernah membuat beliau menjadi sombong. Bahkan beliau bersikap lugu layaknya orang desa.
Setelah beranjak dewasa Nyi Branjung kakak Saridin dinikahkan dengan Prawiroyudo seorang abdi dalem tumenggung Niti Kusumo dari Mataram yang menjadi buronan. Setelah Kyai Ageng Keringan wafat, Prawiroyudo mengajak Branjung pindah ke Miyono. Setelah di Miyono Prawiroyudo berterus terang bahwa dirinya adalah buronan Kasultanan Mataram dan meminta agar ia kini di panggil Ki Branjung. Ketika tinggal bersama kakaknya di Miyono inilah Saridin bertemu dan menikah dengan Sarini putri tunggal Kyai Truno Upet. Dari pernikahan ini Saridin dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Momok.
Nyi Branjung dan Saridin oleh orang tuanya mendapat peninggalan warisan berupa kebun pohon durian. Dan keduanya telah setuju untuk membagi uang hasil penjualan panenan buah durian tersebut. Ki Branjung atau Prawiroyudo yang merupakan suami Nyi Branjung yang telah menyamarkan namanya dengan nama istrinya tersebut menjadi Branjung menawarkan kepada Saridin jika ada buah durian yang jatuh di malam hari maka yang memilikinya adalah Ki Branjung, sedangkan yang jatuh di siang hari maka yang memilikinya adalah Saridin. Untuk menjaga hubungan yang baik dengan saudaranya, Saridin menerima dengan senang hati tawaran Branjung tersebut. Saridin adalah seorang yang sakti, ia kemudian bersemedi pada malam hari memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar durian-durian itu tidak ada yang jatuh pada malam hari, tetapi berjatuhan pada siang hari. Dengan demikian sesuai dengan perjanjian maka durian-durian itu menjadi milik Saridin. Allah SWT mengabulkan permohonan Saridin.
Ternyata buah durian yang jatuh di siang hari lebih banyak daripada buah durian yang jatuh di malam hari. Sehingga membuat Ki Branjung mengadakan tawaran lagi, yaitu Saridin mendapat buah durian yang jatuh di malam hari dan kakaknya Branjung mendapat bagian buah durian yang jatuh di siang hari. Harapannya ialah memperoleh banyak durian yang berjatuhan di siang hari. Allah Maha Adil, sekali lagi Saridin memohon dan bersemedi agar durian-durian itu tidak dijatuhkan pada siang hari, tetapi pada malam hari. Permohonan Saridin terkabul, durian-durian berjatuhan pada malam hari. Hal ini membuat Branjung kecewa dan penasaran, karena tidak mendapatkan durian, maka mencari akal bagaimana cara untuk mendapatkan durian-durian itu. Maka munculah niat buruk Branjung untuk mencuri durian-durian yang jatuh pada malam hari.
Agar niat Ki Branjung untuk mencuri buah durian tidak diketahui oleh Saridin, ia menyamar dengan memakai pakaian dari kulit harimau. Saridin merasa keheranan mengapa buah durian yang biasanya jatuh banyak di malam hari tidak ada yang jatuh. Setelah diteliti ternyata dicuri oleh harimau. Saridin kemudian membuat tombak runcing dari bambu. Pada saat harimau mencuri buah durian, Saridin menusukkan tombak bambu tersebut tepat pada tubuh harimau hingga tewas. Tidak disangka ternyata yang dibunuh bukan harimau, tetapi kakak iparnya sendiri.