Radar pada Perang Dunia II berperan penting dalam segala aspek dalam konflik teresebut.[1] Teknologi pelacak revolusioner berbasis radio ini digunakan pihak Sekutu dan Axis dalam Perang Dunia II. Tiap negara memiliki cerita evolusi radar yang berbeda dimulai dari pertengahan 1930-an.[2] Pada pecahnya perang di bulan September 1939, kedua Inggris dan Jerman memiliki fungsi radar sistem. Di Inggris, itu disebut RDF, (Range and Direction Finding / Pencarian Jarak dan Arah), sementara dalam Jerman nama Funkmessgerät (radio alat ukur) yang digunakan.
Di Amerika Serikat, teknologi yang ditunjukkan selama Desember 1934,[3] meskipun itu hanya ketika perang menjadi mungkin di mana AS menyadari potensi dari teknologi baru, dan mulai pembangunan sistem berbasis kapal dan darat. Yang pertama dari mereka menerjunkan oleh Angkatan laut AS pada awal tahun 1940, dan setahun kemudian oleh angkatan Darat AS. Akronim RADAR (RAdio Detection And Ranging) diciptakan oleh Angkatan Laut AS pada tahun 1940, dan istilah "radar" menjadi banyak digunakan.
Sementara manfaat dari operasi dalam bagian gelombang mikro dari spektrum radio telah diketahui, pemancar untuk menghasilkan sinyal gelombang mikro dengan kekuatan yang cukup masih belum tersedia; dengan demikian, semua sistem radar awal dioperasikan pada frekuensi yang lebih rendah (misalnya, HF atau VHF). Pada bulan Februari 1940, Inggris mengembangkan resonansi rongga magnetron, yang mampu memproduksi daya gelombang mikro dalam skala kilowatt, membuka jalan untuk sistem radar generasi kedua.[4]
Setelah Keruntuhan Prancis, ialah disadari oleh Inggris bahwa kemampuan manufaktur Amerika Serikat sangatlah penting untuk keberhasilan dalam perang; dengan demikian, meskipun Amerika belum ikut berperang, Perdana Menteri Winston Churchill memerintahkan bahwa teknologi rahasia Inggris akan dibagikan pada Amerika namun ditukarkan dengan kemampuan industrinya. Pada musim panas tahun 1940, Misi Tizard mengunjungi Amerika Serikat. Rongga magnetron ditunjukkan ke Amerika pada RCA, Bell Labs, dll. itu 100 kali lebih kuat dari apa yang pernah mereka lihat.[5] Bell Labs mampu menyamai kinerja magnetron milik Inggris, dan Laboratorium Radiasi di MIT didirikan untuk mengembangkan microwave radar. ia kemudian digambarkan sebagai "Kargo yang paling berharga yang pernah dibawa ke pantai kita".[6]
Amerika Serikat mulai mengembangkan radar sejak 1922. Memiliki dua pusat pengembangan radar yaitu Naval Research Laboratory untuk US Navy dan Signal Corps Laboratory untuk US Army. Mengembangkan radar 200MHz (1,5 m) sebelum perang pecah. Setelah bertukar teknologi dengan Inggris pada 1940, pusat riset radar kemudian dibagi menjadi tiga yaitu MIT Radiation Laboratory yang berfokus pada teknologi radar magnetron, Radio Research Laboratory yang berfokus pada Electronic countermeasure serta Combined Research Group bersama Inggris dan Kanada untuk mengembangkan IFF (Identification-Friend-Foe).
Amerika Serikat mengembangkan sistem radar 3GHz (10cm) pada 1941 dan 10GHz (3cm) pada 1942. Amerika Serikat memiliki beragam sistem radar berbasis darat, pesawat dan kapal laut pada beragam frekuensi. Menjelang akhir perang sistem-sistem lama seperti radar 200MHz telah digantikan radar S-band dan X-band yang lebih canggih. Program radar Amerika Serikat ditaksir mengabiskan dana hingga 2 miliar USD, atau sebanding dengan Proyek Manhattan.
Sebagai negara yang getol dalam sains, bukan hal yang aneh jika Jerman tergolong maju dalam pengembangan radar. Jika Amerika Serikat dan Inggris mengandalkan pusat riset khusus, Jerman justru menyerahkan pengembangan radarnya pada perusahaan swasta, Telefunken serta saingannya C. Lorenz AG di kemudian hari. Hasilnya cukup memuaskan, Jerman memiliki jaringan radar darat tercanggih di dunia dengan frekuensi 560MHz (53cm) pada akhir 1939 tetapi sedikit tertinggal dari Inggris dalam radar berbasis pesawat. Sayangnya Jerman menyerah untuk mengembangkan magnetron dan mulai tertinggal seiring berjalannya perang. Saat menyadari kesalahan mereka, Jerman yang sedang dalam kondisi porak poranda secara fantastis mampu mengejar ketertinggalannya. Walau akhirnya semua sudah terlambat untuk mengubah jalannya perang. Amerika Serikat memprediksi Jerman telah menghabiskan uang sebesar 2 miliar USD dalam risetnya.
Jepang
Jepang adalah kekuatan regional yang cukup diperhitungkan pada 1930an baik secara militer maupun teknologi. Riset radar mereka merupakan yang termaju saat itu dalam teknologi magnetron. Beribu sayang, kurangnya apresiasi pada teknologi ini serta riset yang tumpang tindih antara matra dan perusahaan swasta menghancurkan perkembangannya. Jepang cenderung menyalin seluruh teknologi radar Sekutu yang didapatnya sehingga Sekutu dengan mudah mengatasi sistem radar Jepang yang semakin terbelakang dari negara besar lainnya. Jepang lebih dahulu mengoperasikan radar 10cm dari Jerman pada 1944 tetapi selain itu tidak ada hal yang spesial.
Italia
Dari seluruh negara besar dalam Perang Dunia, Italia merupakan yang terbelakang dalam hal pengembangan radar. Hal ini dikarenakan staf risetnya yang bisa dihitung dengan jari, diperparah dengan dana yang tak sampai 13.000 Euro per tahun. Meski demikian, Italia berhasil mengembangkan radar 200MHz hingga tuntas pada 1941. Daya sistem radarnya bahkan lebih besar dari sistem radar Jerman manapun. Keterbatasan produksi dari SAFAR, sebuah perusahaan swasta Italia memaksa mereka bergantung pada radar Jerman. Menyerahnya Italia pada tahun 1943 menghancurkan usaha negara ini dalam mengembangkan sistem radarnya sendiri.
Prancis
Memasuki 1930, topik magnetron adalah topik yang sangat hangat di kalangan ilmuwan radio. Tak terkecuali Prancis yang tak ingin kalah bersaing. Pada tahun 1934 mereka melalui Compagnie générale de la télégraphie sans fil sudah memulai risetnya. Pada 1939 mereka sudah menguji purwarupa radar sentimetrik, tetapi Armée de l'Air dan Marine Nationale tidak tertarik dan menganggap radar ini tidak bisa digunakan secara praktis. Di sisi lain, upaya Prancis mengembangkan jaringan radar sebenarnya cukup ambisius dengan rencana pembangunan Chain Home ala Prancis dan perangkat peringatan dini 48,5MHz berdaya sangat besar yang sukses mendeteksi serangan Regia Aeronautica. Purwarupa radar pengendali tembakan desimetrik juga sudah disiapkan, tetapi semua upaya Prancis kandas dengan jatuhnya Prancis ke tangan Jerman.
Hungaria
Seperti halnya Soviet, Hungaria mungkin sama sekali tak dipandang dalam pengembangan radar pada Perang Dunia II. Minimnya dokumen tentu menjadi penyebab utama. Baru sejak beberapa tahun terakhir pengembangan radar Hungaria terungkap. Hungaria memiliki salah satu industri pembuatan radio terbesar di dunia pada tahun 1930. Tak heran bila mereka juga memiliki pengetahuan yang cukup untuk membuat sistem radar. Tetapi malang, semua itu belum bisa menghasilkan apapun. Hingga mereka melihat radar Jerman dan mencoba membuatnya sendiri. Hasilnya tidak mengecewakan, mereka berhasil meningkatkan daya dari radar pengendali tembakanJerman tanpa bantuan negara lain. Meski dalam hal kuantitas, Hungaria tak dapat menandingi Jerman dan Sekutu.
Belanda
Pengembangan radar Belanda sedikit mirip dengan Jerman, melalui perusahaan Philips yang terkenal dalam elektronika dan radio, menggunakan fasilitas Laboratorium Philips Natuurkundig. Sedangkan Koninklijke Landmacht melalui Laboratorium voor Fysieke Ontwikkeling juga mengembangkan radarnya. Belanda membuat radar 240MHz dan kemudian 430MHz pada 1938. Sementara Landmacht bersikap skeptis pada ketahanan dari sistem-sistem ini, Koninklijke Marine memberikan kepercayaan lebih agar radar ini dapat berkembang. Skala industri Belanda yang tak sebesar Jerman memastikan bahwa radar ini hanya akan diproduksi dalam jumlah yang kecil. Saat Jerman menduduki Belanda, sebagian besar unit dan purwarupa radar dihancurkan, atau dibawa ke Inggris.
Referensi
↑Brown, Louis; A Radar History of World War II, Inst. of Physics Publishing, 1999
↑Watson, Raymond C. Watson, Jr.; Radar Origins Worldwide: History of Its Evolution in 13 Nations through World War II, Trafford Publishing, 2009