ENSIKLOPEDIA
Radang saluran napas
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional. |
| Bronkitis | |
|---|---|
| Gambar A menunjukkan lokasi paru-paru dan saluran bronkial. Gambar B adalah pembesaran dari saluran bronkial normal. Gambar C adalah pembesaran dari saluran bronkial yang mengalami bronkitis. | |
| Pelafalan | |
| Spesialisasi | Penyakit menular, pulmonologi |
| Gejala | Batuk disertai lendir, mengi, sesak napas, rasa tidak nyaman di dada[1] |
| Jenis | Akut, kronis[1] |
| Frekuensi | Akut: ~5% populasi per tahun[2][3] Kronis: ~5% populasi[3] |
Bronkitis adalah peradangan pada bronki (saluran udara besar dan sedang) di dalam paru-paru yang menyebabkan batuk. Bronkitis biasanya bermula dari infeksi pada hidung, telinga, tenggorokan, atau sinus. Infeksi tersebut kemudian menjalar turun menuju bronki. Gejala yang timbul meliputi batuk berdahak, mengi, sesak napas, dan nyeri dada. Bronkitis dapat bersifat akut maupun kronis.[1]
Bronkitis akut umumnya ditandai dengan batuk yang berlangsung sekitar tiga minggu,[4] dan juga dikenal sebagai demam dada.[5] Lebih dari 90% kasus disebabkan oleh infeksi virus.[4] Virus-virus ini dapat menyebar melalui udara saat penderita batuk atau melalui kontak langsung.[6] Sejumlah kecil kasus disebabkan oleh infeksi bakteri seperti Mycoplasma pneumoniae atau Bordetella pertussis.[4] Faktor risiko meliputi paparan asap tembakau, debu, dan pencemaran udara lainnya.[6] Pengobatan bronkitis akut biasanya melibatkan istirahat, pemberian parasetamol (asetaminofen), dan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) untuk meredakan demam.[7][8]
Bronkitis kronis didefinisikan sebagai batuk produktif—batuk yang menghasilkan sputum—yang berlangsung selama tiga bulan atau lebih dalam setahun selama setidaknya dua tahun berturut-turut.[9][10] Banyak penderita bronkitis kronis juga menderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).[11] Merokok tembakau adalah penyebab paling umum, dengan sejumlah faktor lain seperti pencemaran udara dan genetika yang memainkan peran lebih kecil.[12] Perawatan meliputi berhenti merokok, vaksinasi, rehabilitasi, serta sering kali penggunaan bronkodilator inhalasi dan steroid.[13] Beberapa penderita mungkin memerlukan terapi oksigen jangka panjang.[13]
Bronkitis akut merupakan salah satu penyakit yang cukup umum terjadi.[7][14] Sekitar 5% orang dewasa dan 6% anak-anak mengalami setidaknya satu episode per tahun.[2][15] Bronkitis akut adalah jenis bronkitis yang paling sering ditemukan.[16] Sebaliknya, di Amerika Serikat pada tahun 2018, sebanyak 9,3 juta orang didiagnosis menderita bronkitis kronis yang lebih jarang terjadi.[17][18]
Bronkitis akut

Bronkitis akut, yang juga dikenal sebagai demam dada, adalah peradangan jangka pendek pada bronki di dalam paru-paru.[4][6] Gejala yang paling umum adalah batuk yang dapat disertai maupun tidak disertai produksi sputum.[4][19] Gejala lainnya dapat meliputi batuk berdahak, mengi, sesak napas, demam, dan rasa tidak nyaman di dada.[6] Jika timbul demam, biasanya bersifat ringan.[20] Infeksi ini dapat berlangsung selama beberapa hari hingga sepuluh hari.[6] Batuk dapat menetap selama beberapa minggu setelahnya, dengan durasi total gejala biasanya sekitar tiga minggu.[4][6] Gejala dapat bertahan hingga enam minggu.[7]
Penyebab
Pada lebih dari 90% kasus, penyebabnya adalah infeksi virus.[4] Virus-virus ini dapat menyebar melalui udara saat penderita batuk atau melalui kontak langsung.[6] Faktor risiko meliputi paparan asap tembakau, debu, dan polutan udara lainnya.[6] Sejumlah kecil kasus disebabkan oleh bakteri seperti Mycoplasma pneumoniae atau Bordetella pertussis.[4]
Diagnosis
Diagnosis biasanya didasarkan pada tanda dan gejala yang dialami seseorang.[20] Warna sputum tidak mengindikasikan apakah infeksi tersebut bersifat viral atau bakterial.[4] Menentukan organisme penyebab yang mendasarinya biasanya tidak diperlukan.[4] Penyebab lain dengan gejala serupa meliputi asma, pneumonia, bronkiolitis, bronkiektasis, dan PPOK.[2][4] Rontgen dada mungkin berguna untuk mendeteksi pneumonia.[4]
Tanda umum lainnya dari bronkitis adalah batuk yang berlangsung selama sepuluh hari hingga tiga minggu. Jika batuk berlangsung lebih dari sebulan, kondisi ini mungkin berkembang menjadi bronkitis kronis. Selain itu, demam juga bisa muncul. Bronkitis akut biasanya disebabkan oleh infeksi virus. Biasanya, infeksi ini berupa rhinovirus, adenovirus, parainfluenza, atau influenza. Tidak ada pengujian khusus yang biasanya diperlukan untuk mendiagnosis bronkitis akut.[20]
Pengobatan
Salah satu bentuk pencegahan adalah menghindari kebiasaan merokok dan iritan paru lainnya.[21] Sering mencuci tangan juga dapat memberikan perlindungan.[21] Pengobatan bronkitis akut biasanya meliputi istirahat, pemberian parasetamol (asetaminofen), dan OAINS untuk membantu meredakan demam.[7][8] Penggunaan obat batuk tidak memiliki banyak dukungan bukti ilmiah, dan tidak disarankan untuk anak-anak di bawah usia enam tahun.[4][22] Terdapat bukti tentatif bahwa salbutamol mungkin berguna dalam mengobati mengi; namun, obat ini dapat menyebabkan kegelisahan dan tremor.[4][23] Antibiotik umumnya tidak boleh digunakan.[19] Pengecualian berlaku jika bronkitis akut disebabkan oleh pertusis.[4] Bukti tentatif mendukung penggunaan madu dan pelargonium untuk membantu meringankan gejala.[4] Istirahat yang cukup dan minum banyak cairan juga sering disarankan.[24] Efek tanaman obat Tiongkok belum jelas.[25]
Epidemiologi
Bronkitis akut merupakan salah satu penyakit yang paling sering terjadi[7][14] serta jenis bronkitis yang paling umum dijumpai.[5] Sekitar 5% orang dewasa terjangkit penyakit ini, dan sekitar 6% anak-anak mengalami setidaknya satu episode setiap tahunnya.[2][15] Penyakit ini lebih sering terjadi pada musim dingin.[2] Lebih dari 10 juta orang di Amerika Serikat mengunjungi penyedia layanan kesehatan setiap tahunnya akibat kondisi ini, dengan sekitar 70% di antaranya menerima antibiotik yang sebagian besar sebenarnya tidak diperlukan.[7] Terdapat berbagai upaya untuk mengurangi penggunaan antibiotik pada kasus bronkitis akut.[14]
Bronkitis kronis
Bronkitis kronis adalah penyakit saluran pernapasan bawah,[26] yang didefinisikan dengan adanya batuk produktif yang berlangsung selama tiga bulan atau lebih dalam setahun selama setidaknya dua tahun berturut-turut.[1][10] Batuk ini terkadang disebut sebagai batuk perokok karena sering kali diakibatkan oleh kebiasaan merokok. Ketika bronkitis kronis terjadi bersamaan dengan penurunan aliran udara, kondisi ini dikenal sebagai penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).[27][26] Banyak penderita bronkitis kronis juga mengidap PPOK; akan tetapi, sebagian besar penderita PPOK tidak menderita bronkitis kronis.[10][28] Estimasi jumlah penderita PPOK yang juga mengalami bronkitis kronis berkisar antara 7–40%.[29][30] Estimasi jumlah perokok dengan bronkitis kronis yang juga mengidap PPOK adalah 60%.[31]
Istilah "bronkitis kronis" digunakan dalam definisi PPOK sebelumnya, namun kini tidak lagi disertakan dalam definisi tersebut.[10][32][33] Istilah ini masih digunakan secara klinis.[34] Meskipun bronkitis kronis dan emfisema sering dikaitkan dengan PPOK, keduanya tidak diperlukan untuk menegakkan diagnosis.[34] Sebuah konsensus di Tiongkok memberikan komentar mengenai tipe gejala PPOK yang mencakup bronkitis kronis dengan eksaserbasi yang sering.[35]
Bronkitis kronis ditandai dengan hipersekresi mukus dan musin.[9][36] Kelebihan lendir ini diproduksi oleh peningkatan jumlah sel goblet, dan pembesaran kelenjar submukosa sebagai respons terhadap iritasi jangka panjang.[37] Kelenjar mukosa di submukosa mensekresikan lebih banyak lendir dibandingkan sel goblet.[38] Musin mengentalkan lendir, dan konsentrasinya ditemukan tinggi pada kasus bronkitis kronis, serta berkorelasi dengan tingkat keparahan penyakit.[39] Kelebihan lendir dapat mempersempit saluran napas, sehingga membatasi aliran udara dan mempercepat penurunan fungsi paru-paru, serta berujung pada PPOK.[35][40] Kelebihan lendir ini bermanifestasi sebagai batuk produktif kronis, sementara tingkat keparahan dan volume sputumnya dapat berfluktuasi selama periode eksaserbasi akut.[35] Pada PPOK, mereka yang memiliki fenotipe bronkitis kronis disertai kelebihan lendir kronis, mengalami kualitas hidup yang lebih buruk dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya.[35][41]
Peningkatan sekresi ini pada awalnya dibersihkan melalui batuk.[36] Batuk sering kali memburuk segera setelah bangun tidur, dan sputum yang dihasilkan mungkin berwarna kuning atau hijau serta dapat bercampur dengan bercak darah.[42] Pada tahap awal, batuk dapat menjaga pembersihan lendir. Namun, dengan sekresi berlebih yang terus-menerus, pembersihan lendir menjadi terganggu, dan ketika saluran napas tersumbat, batuk menjadi tidak efektif.[43] Pembersihan mukosiliar yang efektif bergantung pada hidrasi saluran napas, getaran silia, dan laju sekresi musin. Setiap faktor ini terganggu pada bronkitis kronis.[44] Bronkitis kronis dapat menyebabkan jumlah eksaserbasi yang lebih tinggi dan penurunan fungsi paru yang lebih cepat.[40][45] ICD-11 mencantumkan bronkitis kronis dengan emfisema (bronkitis emfisematosa) sebagai "PPOK spesifik tertentu".[46][47]
Penyebab
Sebagian besar kasus bronkitis kronis disebabkan oleh merokok tembakau.[48][49] Bronkitis kronis pada orang dewasa muda yang merokok dikaitkan dengan peluang yang lebih besar untuk berkembang menjadi PPOK.[50] Terdapat hubungan antara merokok ganja dan bronkitis kronis.[51][52] Selain itu, inhalasi kronis terhadap pencemaran udara, uap yang mengiritasi, atau debu dari paparan berbahaya dalam pekerjaan seperti pertambangan batu bara, penanganan biji-bijian, manufaktur tekstil, peternakan,[53] dan pengecoran logam juga dapat menjadi faktor risiko berkembangnya bronkitis kronis.[54][55][56] Bronkitis yang disebabkan oleh cara ini sering disebut sebagai bronkitis industri, atau bronkitis akibat kerja.[57] Meski jarang, faktor genetik juga turut berperan.[58]
Kualitas udara juga dapat memengaruhi sistem pernapasan, di mana tingkat nitrogen dioksida dan belerang dioksida yang lebih tinggi berkontribusi terhadap gejala bronkial. Belerang dioksida dapat menyebabkan peradangan yang dapat memperparah bronkitis kronis dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi.[59]
Pencemaran udara di tempat kerja merupakan penyebab dari beberapa penyakit tidak menular (PTM) termasuk bronkitis kronis.[60]
Pengobatan
Penurunan fungsi paru pada bronkitis kronis dapat diperlambat dengan berhenti merokok.[61][62] Bronkitis kronis dapat diobati dengan sejumlah obat-obatan dan terkadang terapi oksigen.[1] Rehabilitasi paru juga dapat digunakan.[1]
Pembedaan telah dibuat antara eksaserbasi (perburukan mendadak) bronkitis kronis, dan bronkitis kronis yang stabil. Bronkitis kronis stabil dapat didefinisikan sebagai definisi normal bronkitis kronis, ditambah dengan tidak adanya eksaserbasi akut dalam empat minggu sebelumnya.[45] Sebuah tinjauan Cochrane menemukan bahwa mukolitik pada bronkitis kronis dapat sedikit menurunkan kemungkinan terjadinya eksaserbasi.[63] Mukolitik guaifenesin adalah pengobatan yang aman dan efektif untuk bronkitis kronis stabil. Obat ini memiliki keunggulan karena tersedia dalam bentuk tablet lepas lambat yang bertahan selama dua belas jam.[64] Erdostein adalah mukolitik yang direkomendasikan oleh NICE.[65] GOLD juga mendukung penggunaan beberapa mukolitik yang justru tidak disarankan ketika kortikosteroid inhalasi sedang digunakan, dan secara khusus menyebut erdostein memiliki efek yang baik terlepas dari penggunaan kortikosteroid. Erdostein juga memiliki sifat antioksidan. Erdostein terbukti secara signifikan mengurangi risiko eksaserbasi, serta memperpendek durasi penyakit dan masa rawat inap di rumah sakit.[66] Pada mereka yang memiliki fenotipe bronkitis kronis PPOK, penghambat fosfodiesterase-4 roflumilast dapat mengurangi eksaserbasi yang signifikan.[37]
Epidemiologi
Bronkitis kronis memengaruhi sekitar 3,4–22% populasi umum.[67] Individu berusia di atas 45 tahun, perokok, mereka yang tinggal atau bekerja di daerah dengan polusi udara tinggi, dan siapa pun yang menderita asma memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami bronkitis kronis.[68] Rentang angka yang luas ini disebabkan oleh perbedaan definisi bronkitis kronis yang dapat didiagnosis berdasarkan tanda dan gejala atau diagnosis klinis gangguan tersebut. Bronkitis kronis cenderung lebih sering menyerang pria dibandingkan wanita. Meskipun faktor risiko utama bronkitis kronis adalah merokok, masih terdapat kemungkinan sebesar 4–22% bagi bukan perokok untuk terkena penyakit ini. Hal ini mengindikasikan adanya faktor risiko lain seperti menghirup bahan bakar, debu, asap, dan faktor genetik.[40] Di Amerika Serikat, pada tahun 2016, 8,6 juta orang didiagnosis menderita bronkitis kronis, dengan 518 kematian yang dilaporkan. Tingkat kematian akibat bronkitis kronis per 100.000 populasi adalah 0,2.[17]
Sejarah
Kondisi bronkitis telah dikenal selama berabad-abad dalam berbagai budaya yang berbeda, termasuk Yunani Kuno, Tiongkok, dan India, di mana adanya dahak berlebih dan batuk dicatat sebagai tanda pengenal kondisi yang sama. Pengobatan awal untuk bronkitis kronis antara lain meliputi bawang putih, kayu manis, dan ipecac.[69] Perawatan modern kemudian dikembangkan pada paruh kedua abad ke-20.[70]
Dokter asal Inggris, Charles Badham, adalah orang pertama yang mendeskripsikan kondisi ini dan menamai bentuk akutnya sebagai bronkitis akut dalam bukunya Observations on the inflammatory affections of the mucous membrane of the bronchiæ (Pengamatan tentang radang selaput lendir bronki), yang diterbitkan pada tahun 1808. Dalam buku ini, Badham membedakan tiga bentuk bronkitis, termasuk akut dan kronis. Edisi kedua buku yang telah diperluas diterbitkan pada tahun 1814 dengan judul An essay on bronchitis (Sebuah esai tentang bronkitis).[69] Badham menggunakan istilah catarrh untuk merujuk pada gejala utama batuk kronis dan hipersekresi mukus pada bronkitis kronis, serta mendeskripsikan bronkitis kronis sebagai gangguan yang melumpuhkan.[71]
Pada tahun 1901, sebuah artikel diterbitkan mengenai pengobatan bronkitis kronis pada lansia. Gejala yang dideskripsikan tetap tidak berubah. Penyebabnya diperkirakan dipicu oleh kelembapan, cuaca dingin, dan kondisi berkabut, sementara pengobatan ditujukan pada berbagai campuran obat batuk, stimulan pernapasan, dan tonik. Dicatat pula bahwa ada faktor lain di luar cuaca yang diperkirakan turut berperan.[72] Eksaserbasi kondisi ini juga dideskripsikan pada masa tersebut. Dokter lain, Harry Campbell, dirujuk setelah menulis di British Medical Journal seminggu sebelumnya. Campbell menyarankan bahwa penyebab bronkitis kronis adalah zat-zat beracun, dan merekomendasikan udara murni, makanan sederhana, serta olahraga untuk mengeluarkan racun tersebut dari dalam tubuh.[72]
Sebuah program penelitian bersama dilakukan di Chicago dan London dari tahun 1951 hingga 1953, di mana gambaran klinis dari seribu kasus bronkitis kronis dirinci. Temuan tersebut dipublikasikan di jurnal Lancet pada tahun 1953.[73] Dinyatakan bahwa sejak diperkenalkan oleh Badham, bronkitis kronis telah menjadi diagnosis yang semakin populer. Studi tersebut meneliti berbagai hubungan seperti cuaca, kondisi di rumah dan di tempat kerja, usia onset, penyakit masa kanak-kanak, kebiasaan merokok, serta sesak napas. Disimpulkan bahwa bronkitis kronis hampir selalu mengarah pada emfisema, terutama jika bronkitis tersebut telah berlangsung lama.[73]
Pada tahun 1957, dicatat bahwa pada saat itu terdapat banyak investigasi yang dilakukan terhadap bronkitis kronis dan emfisema secara umum, serta di kalangan pekerja industri yang terpapar debu.[74] Kutipan-kutipan diterbitkan bertanggal dari tahun 1864, di mana Charles Parsons telah mencatat konsekuensi perkembangan emfisema dari bronkitis. Hal ini dipandang tidak selalu berlaku. Temuannya berkaitan dengan studinya tentang bronkitis kronis di antara pekerja tembikar.[74]
Sebuah pertemuan CIBA (sekarang Novartis) pada tahun 1959, dan pertemuan American Thoracic Society pada tahun 1962, mendefinisikan bronkitis kronis sebagai komponen dari PPOK, dengan istilah-istilah yang tidak berubah hingga kini.[71][75]
Bronkitis eosinofilik
Bronkitis eosinofilik adalah batuk kering kronis yang didefinisikan oleh adanya peningkatan jumlah sejenis sel darah putih yang dikenal sebagai eosinofil. Kondisi ini menunjukkan hasil normal pada pemeriksaan sinar-X dan tidak memiliki keterbatasan aliran udara.[76]
Bronkitis bakteri berkepanjangan
Bronkitis bakteri berkepanjangan (Protracted bacterial bronchitis/PBB) pada anak-anak, didefinisikan sebagai batuk produktif kronis dengan hasil kumbah bronkoalveolar positif yang sembuh dengan pemberian antibiotik.[77][78] Bronkitis bakteri berkepanjangan biasanya disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae non-tipe (non-typable), atau Moraxella catarrhalis.[78] Bronkitis bakteri berkepanjangan (berlangsung lebih dari 4 minggu) pada anak-anak dapat dibantu dengan antibiotik.[79]
Bronkitis plastis

Bronkitis plastis adalah kondisi langka di mana sekresi yang menebal menyumbat bronki.[81][82] Sumbatan tersebut bersifat kenyal atau terasa seperti plastik (itulah asal namanya). Sumbatan berwarna terang ini mengikuti bentuk percabangan bronki yang diisinya, dan dikenal sebagai cast bronkial (cetakan bronkial).[81] Ketika cast ini dibatukkan keluar, teksturnya lebih padat dibandingkan dahak biasa atau sumbatan lendir pendek dan lunak yang terlihat pada beberapa penderita asma.[81] Namun, beberapa penderita asma memiliki sumbatan yang lebih besar, lebih padat, dan lebih kompleks. Sumbatan ini berbeda dari cast yang terlihat pada penderita bronkitis plastis yang terkait dengan penyakit jantung bawaan atau kelainan pembuluh limfatik, terutama karena adanya eosinofil dan kristal Charcot–Leyden pada cast yang terkait asma, namun tidak pada kondisi lainnya.[81]
Cast menghalangi aliran udara, dan dapat mengakibatkan inflasi berlebih (overinflasi) pada paru-paru di sisi yang berlawanan. Bronkitis plastis biasanya terjadi pada anak-anak. Beberapa kasus dapat diakibatkan oleh kelainan pada pembuluh limfatik. Kasus lanjut mungkin menunjukkan kemiripan pencitraan dengan bronkiektasis.[82]
Bronkitis plastis eosinofilik
Bronkitis plastis eosinofilik merupakan subtipe dari bronkitis plastis yang lebih sering ditemukan pada anak-anak. Gejala yang muncul dapat berupa batuk dan mengi, serta pencitraan medis mungkin memperlihatkan paru-paru yang kolaps sepenuhnya.[83] Tergantung pada ukuran cast dan lokasinya, kondisi ini dapat muncul dengan gejala ringan, atau terbukti fatal.[83]
Bronkitis Aspergillus
Bronkitis Aspergillus adalah jenis aspergilosis, sebuah infeksi jamur yang disebabkan oleh Aspergillus, sejenis kapang umum yang menyerang bronki. Berbeda dengan jenis aspergilosis paru lainnya, penyakit ini dapat menyerang individu yang tidak mengalami imunokompromais.[84][85] Pada individu yang imunokompeten, bronkitis Aspergillus dapat bermanifestasi sebagai infeksi pernapasan persisten atau gejala yang tidak merespons antibiotik, namun dapat membaik dengan pemberian antijamur.[86]
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 "Bronchitis". NHLBI. Diakses tanggal 9 June 2019.
- 1 2 3 4 5 Wenzel, RP; Fowler, AA III (16 November 2006). "Clinical practice. Acute bronchitis". The New England Journal of Medicine. 355 (20): 2125–30. doi:10.1056/nejmcp061493. PMID 17108344.
- 1 2 Vos T, Flaxman AD, Naghavi M, Lozano R, Michaud C, Ezzati M, Shibuya K, Salomon JA, Abdalla S, Aboyans V, et al. (December 2012). "Years lived with disability (YLDs) for 1160 sequelae of 289 diseases and injuries 1990–2010: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2010". Lancet. 380 (9859): 2163–96. doi:10.1016/S0140-6736(12)61729-2. PMC 6350784. PMID 23245607.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kin, S (1 October 2016). "Acute Bronchitis". American Family Physician. 94 (7): 560–565. PMID 27929206.
- 1 2 "Antibiotics Aren't Always the Answer". Centers for Disease Control and Prevention (dalam bahasa American English). 25 September 2017.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 "What Is Bronchitis?". August 4, 2011. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 April 2015. Diakses tanggal 1 April 2015.
- 1 2 3 4 5 6 Tackett, KL; Atkins, A (December 2012). "Evidence-based acute bronchitis therapy". Journal of Pharmacy Practice. 25 (6): 586–90. doi:10.1177/0897190012460826. PMID 23076965. S2CID 37651935.
- 1 2 "How Is Bronchitis Treated?". August 4, 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 2 April 2015. Diakses tanggal 1 April 2015.
- 1 2 Templat:Cite MeSH
- 1 2 3 4 Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease - GOLD (PDF). 2018. hlm. 4–5, 25. Diakses tanggal 29 May 2019.
- ↑ Reilly, John J.; Silverman, Edwin K.; Shapiro, Steven D. (2011). "Chronic Obstructive Pulmonary Disease". Dalam Longo, Dan; Fauci, Anthony; Kasper, Dennis; Hauser, Stephen; Jameson, J.; Loscalzo, Joseph (ed.). Harrison's Principles of Internal Medicine (Edisi 18th). McGraw Hill. hlm. 2151–9. ISBN 978-0-07-174889-6.
- ↑ Decramer M, Janssens W, Miravitlles M (April 2012). "Chronic obstructive pulmonary disease". Lancet. 379 (9823): 1341–51. CiteSeerX 10.1.1.1000.1967. doi:10.1016/S0140-6736(11)60968-9. PMC 7172377. PMID 22314182.
- 1 2 Rabe KF, Hurd S, Anzueto A, Barnes PJ, Buist SA, Calverley P, Fukuchi Y, Jenkins C, Rodriguez-Roisin R, van Weel C, Zielinski J (September 2007). "Global strategy for the diagnosis, management, and prevention of chronic obstructive pulmonary disease: GOLD executive summary". Am. J. Respir. Crit. Care Med. 176 (6): 532–55. doi:10.1164/rccm.200703-456SO. hdl:2066/51740. PMID 17507545. S2CID 20863981.
- 1 2 3 Braman, SS (January 2006). "Chronic cough due to acute bronchitis: ACCP evidence-based clinical practice guidelines". Chest. 129 (1 Suppl): 95S – 103S. doi:10.1378/chest.129.1_suppl.95S. PMC 7094612. PMID 16428698.
- 1 2 Fleming, DM; Elliot, AJ (March 2007). "The management of acute bronchitis in children". Expert Opinion on Pharmacotherapy. 8 (4): 415–26. doi:10.1517/14656566.8.4.415. PMID 17309336. S2CID 46247982.
- ↑ "Bronchitis". WebMD (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 13 January 2024.
- 1 2 "FastStats". Centers for Disease Control and Prevention (dalam bahasa American English). 23 May 2019. Diakses tanggal 30 May 2019.
- ↑ Villarroel, MA; Blackwell, DL; Jen, A (2019), "Summary Health Statistics: National Health Interview Survey, 2018" (PDF), ftp.cdc.gov (dalam bahasa American English), diakses tanggal 22 March 2020
- 1 2 Smith, Susan M.; Fahey, Tom; Smucny, John; Becker, Lorne A. (2017). "Antibiotics for acute bronchitis". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2017 (6) CD000245. doi:10.1002/14651858.CD000245.pub4. hdl:10779/rcsi.10778735.v1. ISSN 1469-493X. PMC 6481481. PMID 28626858.
- 1 2 3 Sethi, Sanjay (May 2023). "Acute Bronchitis". Merck Manuals Professional Edition (dalam bahasa American English).
- 1 2 "How Can Bronchitis Be Prevented?". NIH. August 4, 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 2 April 2015.
- ↑ Smith, SM; Schroeder, K; Fahey, T (24 November 2014). "Over-the-counter (OTC) medications for acute cough in children and adults in community settings". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2014 (11) CD001831. doi:10.1002/14651858.CD001831.pub5. PMC 7061814. PMID 25420096.
- ↑ Becker, Lorne A.; Hom, Jeffrey; Villasis-Keever, Miguel; van der Wouden, Johannes C. (2015-09-03). "Beta2-agonists for acute cough or a clinical diagnosis of acute bronchitis". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2015 (9) CD001726. doi:10.1002/14651858.CD001726.pub5. ISSN 1469-493X. PMC 7078572. PMID 26333656.
- ↑ "Acute Bronchitis | Bronchitis Symptoms | MedlinePlus" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-11-30.
- ↑ Jiang, Lanhui; Li, Ka; Wu, Taixiang (15 February 2012). "Chinese medicinal herbs for acute bronchitis". Cochrane Database of Systematic Reviews. 2012 (2) CD004560. doi:10.1002/14651858.CD004560.pub4. PMC 7202254. PMID 22336804.
- 1 2 "ICD-11 - ICD-11 for Mortality and Morbidity Statistics". icd.who.int. Diakses tanggal 15 August 2021.
- ↑ "Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) - Pulmonary Disorders". MSD Manual Professional Edition. Diakses tanggal 3 June 2019.
Chronic bronchitis becomes chronic obstructive bronchitis if spirometric evidence of airflow obstruction develops.
- ↑ Widysanto, A; Mathew, G (January 2019). "Chronic Bronchitis". StatPearls [Internet]. PMID 29494044. NBK482437.
Chronic bronchitis ... is very often secondary to chronic obstructive pulmonary disease (COPD).
- ↑ Lee, Sang-Do (2017). COPD: Heterogeneity and Personalized Treatment (dalam bahasa Inggris). Springer. hlm. 150. ISBN 978-3-662-47178-4.
- ↑ Maselli, DJ (May 2019). "Clinical Epidemiology of COPD: Insights From 10 Years of the COPDGene Study". Chest. 156 (2): 228–238. doi:10.1016/j.chest.2019.04.135. PMC 7198872. PMID 31154041.
- ↑ Dotan, Y; So, JY; Kim, V (9 April 2019). "Chronic Bronchitis: Where Are We Now?". Chronic Obstructive Pulmonary Diseases. 6 (2): 178–192. doi:10.15326/jcopdf.6.2.2018.0151. PMC 6596437. PMID 31063274.
with CB by symptoms (18.9%), approximately 60% had COPD (i.e., had also airflow obstruction on spirometry)
- ↑ "Chronic obstructive pulmonary disease (COPD)". www.who.int (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 15 July 2019.
The more familiar terms "chronic bronchitis" and "emphysema" have often been used as labels for the condition.
- ↑ "COPD: Definition". WHO. Diakses tanggal 15 July 2019.
The more familiar terms 'chronic bronchitis' and 'emphysema' are no longer used, but are now included within the COPD diagnosis.
- 1 2 Ferri, Fred (2019). Ferri's Clinical Advisor. Elsevier. hlm. 331. ISBN 978-0-323-53042-2.
- 1 2 3 4 Shen, Y (30 January 2018). "Management of airway mucus hypersecretion in chronic airway inflammatory disease: Chinese expert consensus (English edition)". International Journal of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. 13: 399–407. doi:10.2147/COPD.S144312. PMC 5796802. PMID 29430174.
- 1 2 Voynow, J (Feb 2009). "Mucins, mucus, and sputum". Chest. 135 (2): 505–512. doi:10.1378/chest.08-0412. PMID 19201713.
- 1 2 Vestbo, J.; Hurd, S. S.; Agustí, A. G.; Jones, P. W.; Vogelmeier, C.; Anzueto, A.; Barnes, P. J.; Fabbri, L. M.; Martinez, F. J.; Nishimura, M.; Stockley, R. A.; Sin, D. D.; Rodriguez-Roisin, R. (2013). "Global strategy for the diagnosis, management, and prevention of chronic obstructive pulmonary disease: GOLD executive summary". American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine. 187 (4): 347–65. doi:10.1164/rccm.201204-0596PP. hdl:11380/904090. PMID 22878278.
- ↑ Weinberger, Steven (2019). Principles of Pulmonary Medicine. Elsevier. hlm. 98. ISBN 978-0-323-52371-4.
- ↑ "New Insights on Chronic Bronchitis:Diagnostic Test and Better Treatments on the Horizon". nhlbi.nih.gov. September 2017. Diakses tanggal 3 August 2019.
- 1 2 3 Kim, V; Criner, G (Feb 2013). "Chronic bronchitis and chronic obstructive pulmonary disease". Am J Respir Crit Care Med. 187 (3): 228–237. doi:10.1164/rccm.201210-1843CI. PMC 4951627. PMID 23204254.
- ↑ Global Strategy for Prevention, Diagnosis and Management of COPD: 2021 Report (PDF). Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. 25 November 2020. hlm. 106. Diakses tanggal 3 August 2021.
- ↑ Cohen, Jonathan; Powderly, William (2004). Infectious Diseases, 2nd ed. Mosby (Elsevier). Chapter 33: Bronchitis, Bronchiectasis, and Cystic Fibrosis. ISBN 978-0-323-02573-7.
- ↑ Foster, W (2002). "Mucociliary transport and cough in humans". Pulm Pharmacol Ther. 15 (3): 277–282. doi:10.1006/pupt.2002.0351. PMID 12099778.
- ↑ Ghosh, A (October 2015). "Airway hydration and COPD". Cell Mol Life Sci. 72 (19): 3637–52. doi:10.1007/s00018-015-1946-7. PMC 4567929. PMID 26068443.
- 1 2 Ohar, JA; Donohue, JF; Spangenthal, S (23 October 2019). "The Role of Guaifenesin in the Management of Chronic Mucus Hypersecretion Associated with Stable Chronic Bronchitis: A Comprehensive Review". Chronic Obstructive Pulmonary Diseases. 6 (4): 341–349. doi:10.15326/jcopdf.6.4.2019.0139. PMC 7006698. PMID 31647856.
- ↑ "ICD-11 - Mortality and Morbidity Statistics". icd.who.int.
- ↑ "ICD-11 - Mortality and Morbidity Statistics". icd.who.int.
- ↑ "Understanding Chronic Bronchitis". American Lung Association. 2012. Diarsipkan dari asli tanggal 18 December 2012. Diakses tanggal 30 December 2012.
- ↑ Forey, BA; Thornton, AJ; Lee, PN (June 2011). "Systematic review with meta-analysis of the epidemiological evidence relating smoking to COPD, chronic bronchitis and emphysema". BMC Pulmonary Medicine. 11 (36): 36. doi:10.1186/1471-2466-11-36. PMC 3128042. PMID 21672193.
- ↑ Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (PDF). 2019. hlm. 13. Diakses tanggal 25 May 2019.
- ↑ Ribeiro, L (October 2016). "Effect of cannabis smoking on lung function and respiratory symptoms: a structured literature review". npj Primary Care Respiratory Medicine. 26 16071. doi:10.1038/npjpcrm.2016.71. PMC 5072387. PMID 27763599.
- ↑ Pfeifer, A (May 2006). "Pulmonary consequences of marijuana smoking". Ugeskr Laeger. 168 (18): 1743–6. PMID 16729923.
- ↑ Szczyrek, M; Krawczyk, P; Milanowski, J; Jastrzebska, I; Zwolak, A; Daniluk, J (2011). "Chronic obstructive pulmonary disease in farmers and agricultural workers-an overview". Annals of Agricultural and Environmental Medicine. 18 (2): 310–313. PMID 22216804.
- ↑ Fischer, BM; Pavlisko, E; Voynow, JA (2011). "Pathogenic triad in COPD: oxidative stress, protease-antiprotease imbalance, and inflammation". International Journal of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. 6: 413–421. doi:10.2147/COPD.S10770. PMC 3157944. PMID 21857781.
- ↑ National Heart Lung and Blood Institute (2009). "Who Is at Risk for Bronchitis?". National Institutes of Health. Diarsipkan dari asli tanggal 4 January 2013. Diakses tanggal 30 December 2012.
- ↑ National Institute of Occupational Safety and Health (2012). "Respiratory Diseases Input: Occupational Risks". NIOSH Program Portfolio. Centers for Disease Control and Prevention. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 December 2012. Diakses tanggal 30 December 2012.
- ↑ "Industrial bronchitis: MedlinePlus Medical Encyclopedia". medlineplus.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 28 May 2019.
- ↑ "What Causes COPD". American Lung Association (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 24 February 2019.
- ↑ "Ambient (outdoor) air quality and health". who.int. 2 May 2018. Diakses tanggal 11 July 2019.
- ↑ "Protecting workers' health". who.int. November 2017. Diakses tanggal 12 July 2019.
- ↑ Fauci, Anthony S.; Daniel L. Kasper; Dan L. Longo; Eugene Braunwald; Stephen L. Hauser; J. Larry Jameson (2008). Chapter 254. Chronic Obstructive Pulmonary Disease Harrison's Principles of Internal Medicine (Edisi 17th). New York: McGraw-Hill. ISBN 978-0-07-147691-1.
- ↑ Willemse, BW; Postma, DS; Timens, W; ten Hacken, NH (March 2004). "The impact of smoking cessation on respiratory symptoms, lung function, airway hyperresponsiveness and inflammation". The European Respiratory Journal. 23 (3): 464–476. doi:10.1183/09031936.04.00012704. PMID 15065840.
- ↑ Poole, Phillippa; Sathananthan, K; Fortescue, R (May 2019). "Mucolytic agents versus placebo for chronic bronchitis or chronic obstructive pulmonary disease". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 5 (7) CD001287. doi:10.1002/14651858.CD001287.pub6. PMC 6527426. PMID 31107966.
- ↑ Albrecht, H. H.; Dicpinigaitis, P. V.; Guenin, E. P. (2017). "Role of guaifenesin in the management of chronic bronchitis and upper respiratory tract infections". Multidisciplinary Respiratory Medicine. 12 31. doi:10.1186/s40248-017-0113-4. PMC 5724298. PMID 29238574.
- ↑ "Erdosteine". NICE. Diakses tanggal 20 July 2021.
- ↑ Meldrum OW, Chotirmall SH (June 2021). "Mucus, Microbiomes and Pulmonary Disease". Biomedicines. 9 (6): 675. doi:10.3390/biomedicines9060675. PMC 8232003. PMID 34199312.
- ↑ Kim, Victor; Criner, Gerard J. (2015). "The chronic bronchitis phenotype in chronic obstructive pulmonary disease". Current Opinion in Pulmonary Medicine. 21 (2). Ovid Technologies (Wolters Kluwer Health): 133–141. doi:10.1097/mcp.0000000000000145. ISSN 1070-5287. PMC 4373868. PMID 25575367.
- ↑ Kochanek, Kenneth (June 2016). "Deaths: Final Data for 2014" (PDF). National Vital Statistics Reports. 65 (4): 1–122. PMID 27378572.
- 1 2 Ziment I (1991). "History of the treatment of chronic bronchitis". Respiration; International Review of Thoracic Diseases. 58 (Suppl 1): 37–42. doi:10.1159/000195969. PMID 1925077.
- ↑ Fishman AP (May 2005). "One hundred years of chronic obstructive pulmonary disease". American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine. 171 (9): 941–8. doi:10.1164/rccm.200412-1685OE. PMID 15849329.
- 1 2 Petty, TL (2006). "The history of COPD". International Journal of Chronic Obstructive Pulmonary Disease. 1 (1): 3–14. doi:10.2147/copd.2006.1.1.3. PMC 2706597. PMID 18046898.
- 1 2 "Chronic Bronchitis". The Hospital. 31 (786): 48–49. 19 October 1901. PMC 5211570. PMID 29819251.
- 1 2 Oswald, NC; Harold, JT; Martin, WJ (26 September 1953). "Clinical pattern of chronic bronchitis". Lancet. 265 (6787): 639–43. doi:10.1016/s0140-6736(53)90369-9. PMID 13098028.
- 1 2 Meiklejohn, A (July 1957). "A house-surgeon's observations on bronchitis in North Staffordshire pottery workers in 1864". British Journal of Industrial Medicine. 14 (3): 211–2. doi:10.1136/oem.14.3.211. PMC 1037807. PMID 13446354.
- ↑ "Terminology, Definitions, and Classification of Chronic Pulmonary Emphysema and Related Conditions: A Report of the Conclusions of a Ciba Guest Symposium". Thorax. 14 (4): 286–299. December 1959. doi:10.1136/thx.14.4.286. PMC 1018516.
- ↑ Longo, Dan (2012). Harrison's Principles of Internal Medicine. McGraw Hill. hlm. 284. ISBN 978-0-07-174889-6.
- ↑ Goldsobel, AB; Chipps, BE (March 2010). "Cough in the pediatric population". The Journal of Pediatrics. 156 (3): 352–358.e1. doi:10.1016/j.jpeds.2009.12.004. PMID 20176183.
- 1 2 Craven, V; Everard, ML (January 2013). "Protracted bacterial bronchitis: reinventing an old disease". Archives of Disease in Childhood. 98 (1): 72–76. doi:10.1136/archdischild-2012-302760. PMID 23175647. S2CID 34977990.
- ↑ Marchant, JM; Petsky, HL; Morris, PS; Chang, AB (31 July 2018). "Antibiotics for prolonged wet cough in children". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2018 (7) CD004822. doi:10.1002/14651858.CD004822.pub3. PMC 6513288. PMID 30062732.
- ↑ Kamaltynova, E. M.; Krivoshchekov, E. V.; Yanulevich, O. S.; Kavardakova, E. S. (2017-08-11). "Plastic bronchitis associated with corrected cardiac anomaly in a child". Bulletin of Siberian Medicine. 16 (2): 180–186. doi:10.20538/1682-0363-2017-2-180-186. ISSN 1819-3684.
- 1 2 3 4 Kotloff, Robert; McCormack, Francis X. (2016-08-16). Rare and Orphan Lung Diseases, An Issue of Clinics in Chest Medicine, E-Book (dalam bahasa Inggris). Elsevier Health Sciences. hlm. 405–408. ISBN 978-0-323-46274-7.
- 1 2 Panchabhai, TS; Mukhopadhyay, S; Sehgal, S; Bandyopadhyay, D; Erzurum, SC; Mehta, AC (November 2016). "Plugs of the Air Passages: A Clinicopathologic Review". Chest. 150 (5): 1141–1157. doi:10.1016/j.chest.2016.07.003. PMC 6026239. PMID 27445091.
- 1 2 Gipsman, AI; Feld, L; Johnson, B (November 2023). "Eosinophilic plastic bronchitis: Case series and review of the literature". Pediatric Pulmonology. 58 (11): 3023–3031. doi:10.1002/ppul.26650. PMC 10928548. PMID 37606213.
- ↑ "Aspergillus bronchitis | Aspergillus & Aspergillosis Website". www.aspergillus.org.uk.
- ↑ Kosmidis, Chris; Denning, David W. (1 March 2015). "The clinical spectrum of pulmonary aspergillosis". Thorax (dalam bahasa Inggris). 70 (3): 270–277. doi:10.1136/thoraxjnl-2014-206291. PMID 25354514. Diakses tanggal 8 November 2019.
- ↑ Chrdle, Ales; Mustakim, Sahlawati; Bright-Thomas, Rowland J.; Baxter, Caroline G.; Felton, Timothy; Denning, David W. (December 2012). "Aspergillus bronchitis without significant immunocompromise". Annals of the New York Academy of Sciences. 1272 (1): 73–85. Bibcode:2012NYASA1272...73C. doi:10.1111/j.1749-6632.2012.06816.x. PMID 23231717.
Pranala luar
- NIH entry on Bronchitis
- MedlinePlus entries on Acute bronchitis and Chronic bronchitis
- Mayo Clinic factsheet on bronchitis
| Klasifikasi | |
|---|---|
| Sumber luar |