Kasidah adalah seni suara yang bernapaskan Islam, di mana lagu-lagunya banyak mengandung unsur-unsur dakwah Islamiyah dan nasihat-nasihat baik sesuai ajaran Islam.[5][6] Biasanya lagu-lagu itu dinyanyikan dengan irama penuh kegembiraan yang hampir menyerupai irama-irama Timur Tengah dengan diiringi rebana,[7] yaitu sejenis alat tradisional yang terbuat dari kayu, dibuat dalam bentuk lingkaran yang dilobangi pada bagian tengahnya kemudian di tempat yang dilobangi itu di tempel kulit binatang yang telah dibersihkan bulu-bulunya.[8][9]
Awalnya rebana berfungsi sebagai instrument dalam menyayikan lagu-lagu keagamaan berupa pujian-pujian terhadap Allah SWT dan rasul-rasul-Nya, salawat, syair-syair Arab, dan lain lain.[10] Oleh karena itulah ia disebut rebana yang berasal dari kata rabbana, artinya wahai Tuhan kami (suatu doa dan pujian terhadap Tuhan).[11][9]
Lagu kasidah modern liriknya juga dibuat dalam bahasa Indonesia selain Arab. Grup kasidah modern membawa seorang penyanyi bintang yang dibantu paduan suara wanita. Alat musik yang dimainkan adalah rebana dan mandolin, disertai alat-alat modern, misalnya: biola, gitar listrik, keyboard dan flute.[10] Perintis kasidah modern adalah grup Nasida Ria dari Semarang yang semuanya perempuan. Lagu yang top yakni Perdamaian dari Nasida Ria. Pada tahun 1970-an, Bimbo, Koes Plus dan AKA mengedarkan album kasidah modern.
Sejarah
Seni kasidah berkembang seiring dengan lahirnya agama Islam. Bentuk awal kasidah ditampilkan oleh kaum Anshar pada masa hijrah Nabi Muhammad dari Makkah menuju Yatsrib (Madinah). Sejak saat itu, kasidah menjadi bagian dari tradisi keagamaan Islam.Selain sebagai ekspresi seni, kasidah juga kerap digunakan dalam berbagai kegiatan keagamaan, seperti acara marhaban untuk menyambut kelahiran bayi, syukuran bayi berusia empat puluh hari, serta peringatan hari-hari besar Islam lainnya. Berbeda dengan jenis musik lain yang masuk ke dalam budaya Indonesia, kasidah memperoleh penerimaan luas di kalangan ulama dan lingkungan pesantren sebagai bentuk kesenian bernuansa religius.[12]
Kategori
Kasidah Tradisional
Di Indonesia, kasidah menyebar seiring dengan berkembangnya pusat-pusat penyebaran Islam. Melalui kreativitas masyarakat lokal, kesenian ini mengalami berbagai penyesuaian tanpa meninggalkan ciri utamanya. Kasidah tradisional umumnya menggunakan syair berbahasa Arab, mengangkat kisah para nabi, berisi pujian kepada Tuhan, serta memiliki pola rima khas Timur Tengah. Seni kasidah di Indonesia dikenal dengan beragam sebutan sesuai daerah masing-masing. Di Semarang, kesenian ini dikenal sebagai Barzanji, di wilayah pesisir utara Jawa disebut gambus, sementara di Madura dan Jawa Timur dikenal dengan nama hadrah. Kasidah tradisional pada umumnya hanya diiringi oleh alat musik rebana. Rebana merupakan alat musik tradisional berbentuk lingkaran yang terbuat dari kayu dan dilapisi kulit binatang, serta dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tangan. Karena peran sentral alat musik ini, kasidah tradisional juga kerap disebut sebagai seni rebana. Istilah rebana berasal dari bahasa Arab rabbana yang berarti “Ya Tuhan”, mencerminkan fungsinya sebagai media pujian dan doa kepada Tuhan.[13]
Kasidah Modern
Seiring perkembangan zaman dan masuknya instrumen musik Barat dengan teknologi modern, para seniman kasidah mulai bereksperimen. Pada dekade 1960-an, kasidah mulai dibawakan dengan menggunakan alat musik modern seperti gitar, biola, bass, dan piano, selain rebana. Penggunaan instrumen modern tersebut membuat kasidah semakin diminati masyarakat. Pada periode ini muncul sejumlah grup kasidah modern, salah satunya adalah Assabab dari Semarang yang dipimpin oleh M. Zain dengan Juwariyah sebagai vokalis. Grup kasidah modern lain yang cukup dikenal secara luas adalah Nasida Ria. Kelompok ini telah menghasilkan sedikitnya 34 album berbahasa Indonesia dan dua album berbahasa Arab, serta melahirkan berbagai lagu populer. Salah satu lagu mereka yang terkenal mengangkat tema bom nuklir dan mendapat perhatian luas di berbagai platform digital. Berdasarkan artikel ilmiah berjudul Musik Kasidah dan Perannya dalam Dakwah Nusantara karya Tatu Siti Rohbiah, Nasida Ria dikategorikan sebagai kelompok kasidah modern. Tokoh penting di balik lahirnya Nasida Ria adalah M. Mudrikah Zain, yang juga berperan dalam pendirian grup Assabab. Assabab dikenal sebagai salah satu pelopor gerakan kasidah modern pada era 1960-an, yang kemudian turut memengaruhi perkembangan kasidah modern pada dekade 1970-an.[13]