Sejarah
Pada awal pembentukannya yaitu pada periode pasca perang kemerdekaan hingga masa orde lama, fasilitas kesehatan sangat terbatas, dan sebagian besar layanan kesehatan TNI AL didukung oleh fasilitas kesehatan peninggalan satuan kesehatan dari angkatan bersenjata Jepang dan Belanda yang tersisa setelah Perang Dunia II. Dalam periode ini, dibentuk Djawatan Kesehatan Angkatan Laut (Djankesal) untuk membangun sistem dukungan kesehatan yang dapat menopang keberlanjutan operasional TNI AL di tengah kondisi pasca kemerdekaan yang penuh tantangan. Djankesal mulai mengembangkan kapasitas personel kesehatan dengan pelatihan dan pendidikan tenaga medis lokal, dan membangun fasilitas kesehatan dasar di pangkalan-pangkalan utama TNI AL. Fokus utama adalah menangani berbagai krisis kesehatan yang dihadapi pasukan, termasuk penyakit menular yang umum terjadi pada masa tersebut, seperti malaria dan kolera.
Pada masa orde baru, dilakukan modernisasi dan penataan organisasi di tubuh TNI AL, termasuk Djankesal, dengan investasi dalam infrastruktur dan teknologi di bidang kesehatan. Fasilitas kesehatan diperluas dan ditingkatkan, termasuk pembangunan Rumah Sakit Angkatan Laut di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Djankesal mulai menerapkan sistem pelayanan kesehatan yang lebih terpadu dengan memanfaatkan teknologi informasi yang tersedia, meskipun masih sangat dasar. Djankesal mulai menjalin kerja sama dengan negara lain dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan pengembangan tenaga medis.
Setelah periode orde baru, terjadi restrukturisasi di berbagai lembaga pemerintah, termasuk di jajaran kesehatan TNI AL, untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi layanan. Fokus utamanya adalah meningkatkan akuntabilitas dan responsibilitas dalam penyediaan pelayanan dan dukungan kesehatan bagi seluruh personel TNI AL. Djankesal berganti nama menjadi Direktorat Kesehatan TNI Angkatan Laut (Ditkesal) dan terus berinvestasi dalam meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dengan mengirimkan tenaga medis untuk mengikuti pelatihan dan pendidikan lanjutan di dalam dan luar negeri. Sekitar tahun 1994, dilaksanakan kembali penataan organisasi TNI AL, termasuk perubahan nomenklatur Direktorat Kesehatan Angkatan Laut menjadi Dinas Kesehatan TNI Angkatan Laut (Diskesal). Diskesal berperan aktif dalam penanganan krisis kesehatan nasional, termasuk wabah penyakit dan penanggulangan bencana alam yang memerlukan respon cepat dan efisien dari tenaga medis TNI AL.
Pada masa kini Diskesal memanfaatkan teknologi canggih dalam pelayanan kesehatan, termasuk telemedicine dan sistem informasi kesehatan terintegrasi untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan. Peningkatan fasilitas kesehatan terus dilakukan, dengan pembangunan dan renovasi rumah sakit dan klinikklinik kesehatan di berbagai pangkalan TNI AL di seluruh Indonesia. Diskesal mengambil langkah antisipatif dan responsif dalam menghadapi ancaman kesehatan, baik yang bersifat nyata maupun potensial, dengan menyusun protokol kesehatan dan strategi penanggulangan yang komprehensif. Diskesal fokus pada peningkatan layanan kesehatan dengan pendekatan yang lebih modern dan berbasis fakta untuk mendukung kesiapan operasional TNI AL, memperkuat kerja sama dengan berbagai institusi kesehatan nasional dan internasional untuk pertukaran pengetahuan dan praktik terbaik dalam layanan kesehatan. Diskesal terus beradaptasi terhadap perkembangan lingkungan strategis.
Pada tahun 2025, berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 84 Tahun 2025 Dinas Kesehatan Angkatan Laut resmi berubah menjadi Pusat Kesehatan Angkatan Laut (Puskesal).[2]