Pulau ini berada di bagian barat Pantai Pangandaran. Dapat dicapai dengan berjalan kaki ketika air laut surut.[2] Dari pusat Kota Tasikmalaya dapat ditempuh menggunakan kendaraan selama 2 sampai dengan 3 jam dan dari area wisata Tawang Wulan dapat dicapai dengan berkendara selama 15 menit.[1]
Toponimi
Nama Pulau Manuk atau Nusamanuk berasal dari penduduk sekitar yang dalam bahasa Sunda kata Nusa berarti pulau dan Manuk berarti burung. Hasil verifikasi memutuskan untuk menggabung kedua nama tersebut menjadi satu yaitu Nusamanuk.[1]
Pulau ini dimanakan demikian karena menjadi daerah migrasi burung-burung menuju selatan. Adapun burung yang tercatat pernah singgah secara periodik adalah camar dan bangau putih. Kawanan burung ini terakhir tercatat singgah pada 1990-an.[1]
Geografi
Pulau Manuk memiliki topografi berbukit dengan ketinggian rendah dengan titik tertingginya sekitar 20 mdpl. Untuk mencapai puncak pulau, perlu mendaki tebing. Pulau ini berupa batu karang yang terkikis oleh ombak samudera dengan kondisi pantai yang terjal dan berbatu.
Seperti pulau-pulau kecil lainnya, pulau Manuk tersusun dari tufa andesit dan batuan sendimen hasil aktivitas gunung berapi. Sebagian besar batuan berwarna hitam dengan bentuk tak beraturan.[2][3]
Kondisi perairan di sekitar pulau ini tergolong jernih dengan gelombang besar berjenis plunging, dengan ketinggian rata-rata ombaknya 1,5–4 m. Material dasar lautnya terdiri dari pasir putih pecahan dari karang.[2] Kecepatan arus di perairan pulau adalah 24–45cm/d yang dipengaruhi oleh pergerakan angin tergantung musim. Pasang surut perairan pulau ini termasuk dalam tipe campuran dan cenderung semi diurnal, di mana dalam satu hari kadang terjadi dua kali pasang surut dengan ketinggian dan periode yang berbeda.[1]
Objek wisata
Ada banyak kegiatan yang dapat dinikmati selama di Pulau Manuk. Selain dapat menikmati habitat binatang dan alam sekitar setelah mendapat izin dari petugas pengawas pulau, pasir pantai yang putih, serta air bening kebiru-biruan. Kondisi pantai yang berpasir putih tanpa karang, landai dengan ombak untuk berenang dan berselancar.
Pulau ini menjadi pelindung desa di belakangnya saat tsunami tahun 2006. Desa Cimanuk yang terletak 300 m di belakang pulau dalam kondisi baik karena gelombang tsunami tertahan oleh bongkahan batu karang.[1]
Di puncak bukit pulau terdapat mercusuar aktif tanpa penjaga dengan bantuan tenaga surya yang menyala otomatis di malam hari. Selain itu juga terdapat satu bangunan dalam kondisi tidak terawat di bawah mercusuar yang digunakan sebagai tempat istirahat nelayan dan petugas.[1]
Referensi
1234567Batubara, Rido; etal. (Rusandi; Roeroe; Sidqi; Hindrastuti) (2015). Jawa Barat, Menentang Laut Jawa hingga Samudra Hindia. Jakarta: Kompas. hlm.65–69. ISBN978-979-709-956-5. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
123"Nusamanuk". Direktorat pulau kecil-kecil Indonesia. Diakses tanggal 18 Oktober 2022.