Buton adalah sebuah pulau di Sulawesi Tenggara. Pulau ini dikenal sebagai satu-satunya tempat di Indonesia yang memiliki cebakan aspal alami.[2] Kandungan aspal alam di pulau ini mencapai 663 juta ton.[3] Dengan asumsi bahwa kandungan aspal murni rata-rata 20% dari total deposit, maka kandungan aspal yang ada di Buton mencapai 132 juta ton, lebih dari cukup untuk kebutuhan dalam negeri yang per tahunnya mencapai 1,2 juta ton.[3]
Endapan aspal yang ada di Buton merupakan satu-satunya cadangan aspal alam di Indonesia. Selain di Buton, cadangan aspal alam lain dapat ditemukan di Trinidad,[5]Albania, serta Irak.[2] Kandungan aspal di Buton pertama kali diketahui pada awal abad ke-20, dengan penyelidikan pertama dilakukan oleh Elbert pada 1909, yang dilanjutkan oleh Departemen Tambang Pemerintah Hindia Belanda antara 1922-1930. Eksploitasi aspal pertama kali dilakukan oleh N.V. Mijnbouwen Cultuur Maatschappij Boeton. Perusahaan tersebut mengoperasikan tambang hingga pecahnya Perang Pasifik. Pada tahun 1954, penambangan aspal diambil alih oleh Butas (Buton Aspal), unit dari Departemen Pekerjaan Umum.[2] Pada tahun 2021, produksi aspal Buton mencapai 705,3 ribu ton, sepertiga dari total kapasitas terpasang sebesar 1,99 juta ton per tahun.[6]
Pembagian administrasi
Pulau Buton sebagian besar termasuk dalam wilayah Kabupaten Buton. Kabupaten dengan ibu kota Baubau ini memerintah bekas wilayah Kesultanan Buton, yang meliputi sebagian wilayah wilayah Buton, sebagian wilayah Muna, Pulau Kabaena, sedikit bagian pulau Sulawesi, serta pulau-pulau kecil lainnya yang ada di bagian selatan dan tenggara Pulau Buton. Sekarang dengan adanya pemekaran daerah, wilayah Kabupaten Buton akhirnya dipecah menjadi enan wilayah sebagai berikut.
Dari enam kabupaten/kota yang ada, Baubau, Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Selatan, dan Kabupaten Buton Utara merupakan wilayah administrasi yang ada di pulau ini.