Pukat dasar laut dikenal juga dengan istilah bottom trawling adalah metode penangkapan ikan dengan menyeret pukat atau jaring penangkap di sepanjang dasar laut. Metode ini kadang disebut juga dragging (penarikan dasar).[1] Dalam komunitas ilmiah, bottom trawling dibagi menjadi dua tipe berdasarkan kedalaman dan posisi jaring. Benthic trawling adalah penarikan jaring tepat di dasar laut atau zona lubuk, sedangkan demersal trawling adalah penarikan jaring sedikit di atas zona lubuk tetapi tetap dekat dasar laut.[2][3][4] Metode ini berbeda dengan midwater trawling yang menyeret jaring lebih tinggi di kolom air. Midwater trawling menangkap ikan pelagis seperti ikan kembung dan teri, sedangkan bottom trawling menargetkan ikan dasar laut (ikan demersal) dan spesies semi-pelagis seperti ikan kod, cumi-cumi, udang, dan rockfish.[5]
Hasil tangkapan global dari bottom trawling diperkirakan melebihi 30 juta ton per tahun, jumlah yang lebih besar dibandingkan metode penangkapan ikan lainnya.[6][7] Kekhawatiran terkait dampak lingkungan dari praktik bottom trawling mendorong perubahan desain alat tangkap, termasuk penambahan turtle excluder devices untuk mengurangi tangkapan ikan dan spesies non-target (bycatch), serta pembatasan lokasi di mana bottom trawling diperbolehkan, misalnya di kawasan konservasi perairan.[8] Sebuah penelitian pada tahun 2021 memperkirakan bahwa bottom trawling dapat melepaskan antara 600 hingga 1.500 juta ton karbon dioksida per tahun akibat gangguan sedimen dasar laut, angka yang setara dengan emisi negara Jerman atau sektor penerbangan.[9][10][11][12] Namun estimasi tersebut memiliki tingkat ketidakpastian tinggi dan beberapa peneliti memberikan kritik karena angka tersebut dianggap terlalu besar.[13][14]
Desain
Desain alat tangkap untuk bottom trawling terdiri dari mekanisme untuk menjaga mulut jaring tetap terbuka secara vertikal dan horizontal, badan jaring yang mengarahkan ikan ke dalam, serta bagian akhir jaring atau cod-end dengan ukuran mata jaring yang sesuai sebagai tempat ikan dikumpulkan. Ukuran dan desain jaring ditentukan oleh spesies target, daya dan desain mesin kapal penangkap ikan, serta regulasi lokal yang berlaku.[15][16]
Beam trawling
Merupakan metode paling sederhana dalam bottom trawling. Pada metode ini, mulut jaring dijaga terbuka menggunakan balok logam yang kokoh, yang dipasang pada dua pelat logam di ujung balok. Pelat tersebut meluncur di dasar laut dan mengganggu sedimen saat trawl ditarik. Beam trawling umumnya diterapkan pada kapal berukuran kecil untuk menangkap ikan datar atau udang di perairan dekat pantai.[17][18]
Otter trawling
Otter trawling dinamai dari papan otter berbentuk persegi panjang yang menjaga mulut jaring tetap terbuka. Papan ini terbuat dari kayu atau baja dan mendorong jaring tetap terbuka saat ditarik, sekaligus menggali hingga 15 cm ke dasar laut untuk mendorong ikan ke dalam jaring. Jaring dijaga terbuka secara vertikal dengan pelampung di bagian atas dan bobbin (pemberat atau roda keci) di bagian bawah, yang disesuaikan dengan kondisi dasar laut. Beberapa bobbin dirancang khusus untuk mengangkat jaring saat mengenai rintangan.[19][20]
Badan jaring
Badan jaring berbentuk corong, lebar di bagian depan dan menyempit menuju cod-end, biasanya dilengkapi sayap di kedua sisi untuk mengarahkan ikan masuk. Panjang badan jaring disesuaikan agar aliran air cukup dan ikan tidak lolos. Jaring terbuat dari anyaman berlubang berlian dengan ukuran mata jaring yang mengecil ke arah cod-end. Perangkat pelepas ikan atau penyu, seperti panel persegi atau bycatch grill dipasang di bagian ini.[21]
Cod-end
cod-end merupakan ujung trailing jaring tempat ikan tertangkap. Ukuran mata jaring pada cod-end menentukan ukuran ikan yang dapat ditangkap. Regulasi ukuran mata jaring pada cod-end merupakan salah satu metode pengelolaan untuk mengurangi kematian ikan muda (belum mencapai ukuran dewasa) akibat trawling.[22][23]
Referensi
↑Seahorse, Project (2020-11-07). "end bottom trawling". Project Seahorse (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-01.
↑U, Van Anrooy, R. , Mukherjee, R. , Wakamatsu, H. , Song, L. , Muawanah, U. , Jin Cha, B. , Narayana Kumar, R. , Parappurathu, S. , Yadava, Y. S. , Tietze (2020-10-26). Techno-economic performance review of selected fishing fleets in Asia (dalam bahasa Inggris). Food & Agriculture Org. hlm.63–64. ISBN978-92-5-133490-4. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑FAO. 2001.Dragged gears: bottom otter trawls, pair trawls and beam trawls. FAO Fisheries Technical Paper No. 472. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations. Diakses secara daring dari https://www.fao.org/4/a1466e/a1466e02.pdf
↑Jennings, Simon; Kaiser, Michel; Reynolds, John D. (2009-04-01). Marine Fisheries Ecology (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. hlm.92–103. ISBN978-1-4443-1135-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)