Psikologi populer atau psikologi pop adalah istilah yang kerap digunakan untuk merujuk pada penggunaan konsep dalam psikologi yang sering kali disalahpahami, disederhanakan secara berlebihan, tidak didukung oleh bukti ilmiah, atau sudah tidak relevan secara akademis.[1] Istilah ini juga kerap digunakan untuk merujuk pada penggunaan konsep–konsep dan teori–teori dalam psikologi yang dipopulerkan oleh media massa.[2]
Industri dan implikasi
Psikologi populer telah berkembang menjadi industri tersendiri dan dapat ditemukan di berbagai media massa, seperti koran, saluran televisi, hingga internet. Namun, keakuratan dari informasi yang disampaikan oleh psikologi populer sering kali dipertanyakan oleh para ahli dan telah menjadi subjek kritik akademis. Banyak pihak yang menyoroti potensi penyebaran misinformasi dan penguatan stigma negatif terhadap psikologi dan kesehatan mental.[3]
Disebutkan pula bahwa beberapa aspek dari psikologi populer dapat membantu dalam konteks swadaya.[3]
Contoh umum
Contoh umum dari psikologi populer mencakup konsep-konsep atau pernyataan-pernyataan seperti:
Klaim bahwa manusia hanya menggunakan 10% kapasitas otaknya
Klaim bahwa pengidap skizofrenia cenderung memiliki beberapa kepribadian
Klaim bahwa orang dengan gangguan jiwa yang relatif parah cenderung melakukan kekerasan
Yang di mana, klaim–klaim tersebut telah dibantah keakuratannya melalui berbagai hasil penelitian.[3]