Ahli filologi Martin L. West mengatakan, "Kalau ada bahasa Indo-Eropa, seharusnya ada suatu kelompok manusia yang menuturkannya: bukan kelompok manusia dalam pengertian sebuah bangsa, karena kemungkinan mereka tidak pernah membentuk kesatuan politik, dan bukan kelompok manusia dalam pengertian ras, karena kemungkinan mereka sama bercampurnya secara genetik seperti populasi modern manapun yang didefinisikan berdasarkan bahasa. Kalau bahasa kita adalah turunan dari bahasa mereka, itu tidak menjadikan mereka 'leluhur kita', tidak melebihi orang Romawi kuno yang merupakan leluhur dari orang Prancis, Rumania, dan Brasil. Orang Indo-Eropa adalah kelompok manusia dalam pengertian komunitas bahasa. Kita mungkin harus menganggap mereka sebuah jaringan klan dan puak yang luas, menghuni wilayah yang koheren dengan ukuran terbatas."[3]
Sementara 'orang Proto-Indo-Eropa' digunakan dalam kepakaran untuk menyebut kelompok penutur yang terkait dengan proto-bahasa dan budaya yang telah direkonstruksi, istilah 'orang Indo-Eropa' dapat merujuk pada semua kelompok manusia historis yang menuturkan suatu bahasa Indo-Eropa.[4]
Menggunakan rekonstruksi bahasa dari bahasa-bahasa Indo-Eropa kuno seperti Latin dan Sanskerta, disimpulkan fitur-fitur hipotetis bahasa Proto-Indo-Eropa. Dengan asumsi bahwa fitur-fitur linguistik ini mencerminkan budaya dan lingkungan orang Proto-Indo-Eropa, berikut adalah ciri-ciri kebudayaan dan lingkungan yang banyak diusulkan:
pastoralisme, mencakup sapi, kuda, dan anjing yang didomestikasi[5]
pertanian dan budidaya biji-bijian (serealia), mencakup teknologi yang umumnya dikaitkan dengan komunitas pertanian Neolitikum Akhir, misalnya bajak[6]
puisi pahlawan lisan atau lirik lagu yang menggunakan frasa umum seperti ketenaran yang tak pernah usai (*ḱléwos ń̥dʰgʷʰitom)[10] dan roda matahari (*sh₂uens kʷekʷlos).[11]
sistem kekerabatan patrilineal berdasarkan hubungan antara laki-laki[note 2]
Analisis filogenetik tahun 2016 terkait cerita rakyat Indo-Eropa menunjukkan bahwa satu cerita rakyat, Pandai Besi dan Iblis, dapat direkonstruksi ke periode Proto-Indo-Eropa. Cerita ini, ditemukan dalam cerita rakyat Indo-Eropa kontemporer dari Skandinavia hingga ke India, menceritakan seorang pandai besi yang menjual jiwanya kepada makhluk jahat (umumnya iblis dalam versi dongeng modern) sebagai gantinya mempunyai kemampuan untuk mengelas semua jenis material bersama-sama. Sang pandai besi kemudian menggunakan kemampuan baru itu untuk merekatkan iblis ke benda yang tak bisa dipindahkan (sering kali pohon), sehingga ia tidak mendapat kerugian dari penawaran itu. Menurut para penulis, rekonstruksi cerita rakyat ini ke PIE mengimplikasikan bahwa orang Proto-Indo-Eropa memiliki metalurgi, yang pada gilirannya "memberikan konteks yang masuk akal untuk evolusi budaya cerita dongeng tentang seorang pandai besi licik yang mencapai tingkat penguasaan dalam keahliannya melebihi manusia biasa".[12]
↑Anthony, David W. (26 July 2010). The horse, the wheel, and language: how Bronze-Age riders from the Eurasian steppes shaped the modern world. Princeton, N.J. ISBN9781400831104. OCLC496275617. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
12The Oxford Companion to Archaeology – Edited by Brian M. Fagan, Oxford University Press, 1996, ISBN0-19-507618-4, p 347 – J.P. Mallory
↑Hans J.J.G. Holm: The Earliest Wheel Finds, Their Archeology and Indo-European Terminology in Time and Space, and Early Migrations around the Caucasus. Archaeolingua Alapítvány, Budapest, 2019, ISBN978-615-5766-30-5
↑The Oxford introduction to Proto-Indo-European and the Proto-Indo-European world – J. P. Mallory, Douglas Q. Adams, Oxford University Press, 2006, ISBN0-19-929668-5, p. 249
↑Watkins: "Namun, untuk masyarakat yang berbahasa Indo-Eropa, kita dapat merekonstruksi dengan pasti kata untuk “dewa,” *deiw-os, dan nama dua kata dari dewa utama dari jajaran dewa, *dyeu-pəter- (bahasa Latin Iūpiter, bahasa Yunani Zeus patēr, bahasa Sanskerta Dyauṣ pitar, dan bahasa Luwia, Tatis Tiwaz)."[5]
↑Watkins: "Banyak istilah kekerabatan yang berhasil direkonstruksi. Mereka sepakat dalam memilih masyarakat yang patriarki, patrilokal (pengantin perempuan meninggalkan rumahnya untuk bergabung dengan keluarga suaminya), dan patrilineal (keturunan yang dihitung berdasarkan garis laki-laki). “Bapak” dan “kepala rumah tangga” adalah hal yang sama: pǝter-, bersama pasangannya, māter-."[5]