Prasinococcus adalah genusalga hijau yang bersifat monotipik, mengandung satu-satunya spesies yaitu Prasinococcus capsulatus, yang juga merupakan anggota tunggal dari famili Prasinococcaceae.[2] Spesies alga uniseluler ini ditemukan pada tahun 1990 di perairan barat Samudra Pasifik, dan dikenal memiliki cara reproduksi yang khas serta morfologi yang menarik dan berpotensi dimanfaatkan secara bioteknologi. Meskipun hanya satu spesies yang diketahui dalam genus ini, terdapat beberapa galur berbeda, misalnya URI 266G yang merupakan klon asal Samudra Atlantik.[3]
Penemuan
Prasinococcus capsulatus, satu-satunya anggota genus ini yang telah diketahui, ditemukan di wilayah barat Samudra Pasifik selama ekspedisi penelitian menggunakan kapal riset *Sohgen-maru* pada bulan November–Desember 1990. Nama “capsulatus” diberikan berdasarkan keberadaan kapsul besar yang menyelimuti sel alga tersebut.[1]
Morfologi
Sel-sel Prasinococcus memiliki dinding sel yang kokoh tanpa sisik dan juga tidak memiliki flagela. Lobus mitokondria dan membran luar kloroplas menonjol ke dalam matriks pirenoi, ciri khas yang dianggap membedakan genus ini. Dinding selnya menampilkan semacam cincin menonjol yang dikelilingi lubang-lubang menembus dinding sel. Metode reproduksi aseksual-nya juga khas: setelah pembelahan sel, satu sel anak tetap berada di dalam dinding sel induk sementara sel lainnya terdorong keluar.[1]
Ciri paling menonjol dari morfologi P. capsulatus adalah kapsul besar yang tersusun dari eksopolisakarida yang dinamakan "capsulan". Capsulan diduga disintesis di dalam badan Golgi kemudian disekresikan melalui struktur khas berbentuk cincin dengan sepuluh pori yang disebut decapore (lingkaran sepuluh pori pada dinding sel). Setelah keluar melalui decapore, capsulan menjadi tampak secara mikroskopis dan diyakini mengalami ikatan silang dengan iondivalen yang terdapat dalam air laut. Penelitian terkini tengah berfokus pada potensi aplikasi capsulan serta upaya untuk memaksimalkan produksinya.[3]
Fungsi kapsul ini belum sepenuhnya dipahami, tetapi beberapa hipotesis telah diajukan. Salah satunya menyebut bahwa kapsul berfungsi melindungi sel-sel hasil pembelahan yang belum memiliki dinding sel tebal; hipotesis lain menyatakan bahwa kapsul berperan sebagai cetakan bagi pembentukan dinding sel baru pada sel anak. Selain itu, kapsul juga mungkin mengganggu proses penyaringan pada organisme pemangsa, sehingga mengurangi risiko predasi. Pada spesies sejenis, kapsul diketahui memiliki sifat antibakteri[4] dan pengamatan menunjukkan adanya kekurangan bakteri serta partikel virus dalam sampel tidak murni P. capsulatus.[3]
Pigmen fotosintetik yang dimiliki oleh Prasinococcus meliputi klorofil a dan b, prasinoxantin, Mg 2,4-diviriylphaeoporphyrin a5 monometil ester (Mg 2,4-D), serta 5,6-epoksi-3,3′-dihidroksi-5,6,7′,8′-tetrahidro-β-ε-karoten-11′ dan 19-olid (uriolide).[1]
123Sieburth, John McN.; Keller, Maureen D.; Johnson, Paul W.; Myklestad, Sverre M. (October 1999). "WIDESPREAD OCCURRENCE OF THE OCEANIC ULTRAPLANKTER, PRASINOCOCCUS CAPSULATUS (PRASINOPHYCEAE), THE DIAGNOSTIC "GOLGI-DECAPORE COMPLEX" AND THE NEWLY DESCRIBED POLYSACCHARIDE "CAPSULAN"". Journal of Phycology. 35 (5): 1032–1043. doi:10.1046/j.1529-8817.1999.3551032.x. S2CID86059264.
↑Davidson AT, Marchant HJ (1987). "Binding of manganese by Antarctic Phaeocystis pouchetii and the role of bacteria in its release". Marine Biology. 95 (3): 481–487. doi:10.1007/BF00409577. S2CID84709702.