Pada saat evakuasi pasukan Inggris di Dunkirk pada tahun 1940, pasukan Inggris kehilangan banyak senjata akibat banyak tentara yang meninggalkan senjatanya. Dengan demikian beberapa pabrikan senjata mulai mencari alternatif pengganti (seperti Enfield dengan Sten-nya yang murah). Tapi pabrik senjata Sterling memiliki cara lain. Karena tidak memiliki waktu untuk merancang senjata baru, akhirnya Sterling memutuskan untuk menjiplak MP 28 milik Jerman. Senjata tersebut diberi nama Lanchester yang berasal dari nama pengembangnya, George H. Lanchester.
Produksi
Lanchester merupakan pistol mitraliur yang mahal (dengan harga lima kali lipat dari Sten) karena dibuat dengan bahan berkualitas tinggi dan pengerjaan yang sangat baik, berbeda jauh dengan Sten. Lanchester kebanyakan digunakan oleh Royal Navy (Angkatan Laut Britania Raya) karena Angkatan Darat Britania Raya mulai menerima suplai pistol mitraliur Thompson dari Amerika. Produksi pertama dimulai pada Juni 1941 dengan pemesanan awal sebanyak kurang lebih 50.000 pucuk.
Spesifikasi
Lanchester menggunakan sistem yang sama persis dengan MP 28 yaitu semburan kebelakang, baut terbuka dengan kaliber 9mm Parabellum. Lanchester memiliki housing magazen yang terbuat dari kuningan dan bayonet lug untuk bayonet standar 1907 milik Inggris. Pada seri pertama yaitu Mk.1, Lanchester memiliki fire selector yang kemudian dihilangkan pada versi Mk.1*. Lanchester menggunakan magazen 50 peluru yang mirip dengan magazen Sten sehingga keduanya dapat ditukar.
Operasi
Lanchester digunakan oleh Royal Navy hingga akhir Perang Dunia ke-2. Lanchester kemudian diisukan kepada personel Royal Navy yang berada di daerah kolonial. Lanchester juga digunakan pada saat Kedaruratan Malaya tahun 1947-1960 dan Pemberontakan Mau Mau pada tahun 1952-1960. Akhirnya, Lanchester resmi dipensiunkan oleh Royal Navy pada tahun 1978.