Piprahwa pertama kali menarik perhatian arkeolog pada tahun 1898 ketika seorang administrator Inggris, William Claxton Peppé, menggali sebuah stupa di wilayah tersebut. Di dalam stupa, ia menemukan sebuah kotak batu berisi relik tulang dengan prasasti dalam Bahasa Brahmi kuno yang menyatakan bahwa relik tersebut adalah milik Buddha, dari suku Shakya.[1]
Penggalian lebih lanjut dilakukan antara tahun 1971–1977 oleh arkeolog India K. M. Srivastava dari Archaeological Survey of India (ASI). Srivastava mengidentifikasi Piprahwa sebagai bagian dari Kapilavastu kuno berdasarkan temuan arkeologis dan perbandingan dengan sumber-sumber teks Buddhis.[2]
Signifikansi Arkeologis
Piprahwa dianggap sebagai salah satu situs Buddhis paling penting di India karena:
Penemuan relik yang diduga milik Buddha.
Hubungannya dengan Kapilavastu kuno, tempat Buddha menghabiskan 29 tahun pertama hidupnya.
Struktur stupa yang mungkin merupakan salah satu yang tertua di dunia.[3]
Kontroversi
Identifikasi Piprahwa sebagai Kapilavastu kuno diperdebatkan. Beberapa sarjana seperti A. Führer dan John Marshall awalnya meragukan klaim ini, sementara yang lain seperti Srivastava mendukungnya. Situs Tilaurakot di Nepal juga diusulkan sebagai lokasi Kapilavastu.[4]
Struktur Situs
Situs Piprahwa mencakup:
Stupa Utama: Diduga berisi relik Buddha.
Vihara: Struktur biara kuno.
Benteng dan Gerbang Kota**: Bekas permukiman yang mungkin terkait dengan Shakya.
Artefak: Temuan termasuk tembikar, perhiasan, dan prasasti.