Pinamou adalah sebuah ritual suku Nuaulu di Pulau Seram, Maluku, yang menandai pindahnya seorang gadis dari masa kanak-kanak ke dewasa pada saat menstruasi pertama. Dalam kepercayaan suku Nuaulu, darah menstruasi dianggap kotor atau tidak suci.[1] Oleh karena itu, seorang gadis yang baru mengalami menstruasi untuk pertama kalinya harus diasingkan agar darah tersebut agar tidak mengundang roh-roh jahat masuk ke dalam rumah atau menimbulkan bencana. Pengasingan ini dilakukan di posune, rumah berukuran kecil yang dibuat dengan kayu dan daun. Posune ini terletak di bagian belakang rumah atau di pinggiran kampung.[2] Selama di situ, sang gadis hanya dilayani oleh ibu dan saudara perempuannya. Posune adalah sebuah rumah kecil yang terbuat dari daun rumbia berukuran 2 x 2 meter dengan tinggi 1,5 meter.
Selama di Posune sang gadis yang sedang Pinamou hanya dibekali dengan bambu untuk tempat tidur, kain sarung, piring yang dibuat dari daun sagu, dan batu tungku untuk memasak. Selama di Posune, makanan mereka haruslah makanan alami, dan biasanya makanan yang direbus. Selama melakukan Pinamou maka sang gadis tidak boleh keluar dari Posune walaupun ke rumah orang tuanya. Jika telah selesai masa Pinamou maka akan dilakukan upacara adat dan berkeliling negeri (kampung) untuk menunjukkan bahwa perempuan itu sudah dewasa dan siap untuk menikah.[3]
Pelaksanaan
Ketika seorang anak perempuan pertama kali haid, ia akan memberi tahu ibunya, dan dari situlah tahapan Pinamou dimulai. Pinamou dipimpin oleh seorang mama biang, tetua adat wanita.[4] Prosesnya umumnya meliputi beberapa tahapan. Pertama, gadis tersebut diantar ke posune, sebuah rumah kecil berukuran sekitar 2 x 2 meter yang berfungsi sebagai tempat pengasingan. Selama di posune, mereka tidak boleh keluar, bahkan ke rumah orang tua sendiri, dan hanya menggunakan peralatan tradisional serta mengonsumsi makanan alami seperti ubi-ubian dan juga makanan yang hanya direbus. Tahapan berikutnya adalah ritual papar gigi, yaitu meratakan gigi menggunakan tiga batu khusus. Bagi masyarakat suku Nuaulu, seseorang yang memiliki gigi rata dan rapi dianggap lebih menarik.[5]
Kemudian, wajah dilumuri dengan lumpur, diikuti dengan pembersihan diri menggunakan arang yang dicampur perasan air daun kapas sebagai lulur, meskipun ada larangan mandi. Setelah masa pengasingan selesai, sang gadis akan diberikan pakaian baru dan suguhan makanan. Puncak tradisi ini ditandai dengan gadis yang menjalani tahap Pinamou berjalan mengelilingi kampung untuk menunjukkan kedewasaan dan kesiapan menikah, sekaligus membagikan minyak khusus sebagai simbol berkat. Prosesi ini diakhiri dengan pembersihan diri menggunakan air dari sungai Nua.[5]