Pieter Erberveld,[a] lahir di Ceylon, meninggal di Batavia, 12 April1722), adalah seorang tokoh yang tercatat pernah dihukum mati oleh VOC pada tahun 1722 karena dianggap memimpin konspirasi yang bertujuan untuk menjatuhkan kekuasaaan Belanda.
Biografi
Pieter Erberveld adalah orang Indo dengan ayah Jerman dan ibu Siam. Ayahya, Peter Erverlvelt, berasal dari kota Elberfeld yang sekarang menjadi bagian dari kota Wuppertal, lembah Ruhr, Jerman. Meskipun Erverlvelt tidak terdidik dan bahkan tidak dapat menuliskan namanya sendiri, di Batavia ia berhasil menjadi tuan tanah yang cukup dihormati serta sempat menjadi pemimpin kavaleri Batavia. Pieter Erberveld tumbuh dalam rumah tangga yang cukup kaya dan ia lebih terdidik dibanding ayahnya, tetapi karena statusnya sebagai orang Indo ia tidak mungkin menduduki jabatan pemerintahan yang tinggi.[1]
Menurut versi VOC, Erberveld bersekongkol dengan beberapa pejabat Banten di Batavia untuk membunuhi orang Belanda pada suatu perayaan pesta. VOC juga menuduh ia bersekongkol dengan keturunan Surapati di Jawa bagian timur. Tidak diketahui motivasi Elberfeld sesungguhnya, apakah ia memang ingin membantu orang Banten (dipimpin Raden Kartadriya) menguasai kembali Batavia, atau ia memiliki rencana sendiri, apabila Belanda enyah dari sana, karena ia sakit hati atas perlakuan Gubernur Jenderal Johan van Hoorn yang telah menyita tanahnya.
Rencana pembunuhan ini bocor karena ada budak yang melapor ke VOC. Versi lain mengatakan, kalau Sultan Banten-lah yang membocorkan karena ia khawatir akan pengaruh Elberfeld dan Kartadriya yang akan merongrong kekuasaannya.
Pada 22 April 1722, Erberveld, Kartadriya, dan 17 orang penduduk dijatuhi hukuman mati. Eksekusi dilaksanakan di halaman selatan Benteng Batavia, bukan di halaman stadhuis sebagaimana eksekusi lainnya pada masa itu karena pihak VOC masih mengkhawatirkan adanya pengikut Erberveld atau Kartadriya yang dapat membuat kerusuhan. Mereka dijatuhi hukuman mati dengan diperempatkan (quartering); kedua tangan dan kaki masing-masing diikat pada seekor kuda yang menarik ke arah masing-masing hingga tubuh mereka terbelah empat.[2]
Tugu dan prasasti
Setelah Erberveld dihukum mati, pemerintahan Belanda mendirikan sebuah tugu di tanah bekas kediaman Erberveld yang menghadap Jacatraweg (sekarang Jalan Pangeran Jayakarta). Kapan tepatnya tugu mulai dibangun tidaklah pasti karena tanggal pada tugu mendahului tanggal hukuman mati Erberveld. Tugu dipuncaki oleh tengkorak plester yang ditusuk tombak, dan di bawahnya terdapat prasasti yang mengecam Erberveld sebagai pengkhianat. Tugu tersebut dibiarkan tetap berdiri di tempat hingga masa pendudukan Jepang. Pada koran Unabara edisi 28 April 1942, diwartakan bahwa pihak Jepang memandang tugu Erberveld sebagai bekas penindasan Belanda yang tidak layak dikenang, dan berencana untuk menurunkan tengkorak pada tugu dalam sebuah upacara. Keseluruhan tugu kemudian dirobohkan, kemungkinan di hari yang sama dengan hari penurunan tengkorak.[3] Namun begitu, prasastinya dipertahankan dan disimpan di pekarangan stadhuis Batavia yang kini menjadi Museum Fatahillah. Tugu dan prasasti replika kemudian dibangun kembali di tapak asli, kemungkinan di awal atau pertengahan 1970-an. Sekitar tahun 1986 tugu tersebut dipindahkan ke Museum Prasasti Tanah Abang.[4] Secara singkat, tugu asli sudah dirobohkan tetapi prasasti aslinya masih disimpan di Museum Fatahillah, sementara tugu dan prasasti replika dari tahun 1970-an ada di Museum Prasasti.
Prasasti terdiri dari teks bahasa Belanda beraksara Latin serta teks bahasa Jawa beraksara Jawa. Cohen Stuart memberikan bacaan sebagaimana berikut:[5]
Bahasa Belanda
UYT EEN VERFOEYELYKE GEDAGTENISSE TEEGEN DEN GESTRAFTEN LANDVERRAADER PIETER ERBERVELD SAL NIEMANT VERMOOGEN TE DEESER PLAATSE TE BOUWEN, TIMMEREN, METSELEN, OFTE PLANTEN NU OFTE TEN EENIGEN DAAGE. BATAVIA DEN 14 APRIL A°. 1722
Pénget: saki(ng) péli(ng) jejennes maring si jail i(ng) negara, ka(ng) uwis kokum, pitér érbérfél, pacuhwan ana kang ngadheggaken umah gedhong, atawa kayu papan, atanapi ananandur, ing sajroni(ng) e(ng)gon iki, i(ng) mengko teka i(ng) sahana ni(ng) dina. titi. Batawiyah, ta(ng)gal pi(ng) pat belas, wulan april, i(ng) tahun séwu pitungatus ro likur.[b]
Sebagai pengingat ternista akan Pieter Erberveld si penghianat negeri yang telah dihukum, tiada seorang pun yang boleh mendirikan bangunan kayu, membuat bangunan batu, atau menanam tumbuhan di tempat ini selama-lamanya. Batavia, 14 April 1722.
Catatan
↑Dieja juga Pieter/Peter Erberfeld/Elberfeld/Elbervelt.
↑Alih aksara yang digunakan Cohen Stuart tepatnya berwujud: Pèngĕt: saki(ng) péli(ng) djĕdjĕnnĕs maring si djail i(ng) nĕgårå, ka(ng) oewis kokoem, Pitèr Erbèrfèl, patjoehwan ånå kang ngadhĕggakĕn oemah gĕdhong, atåwå kajoe papan, atanapi ananandoer, ing sajroni(ng) ĕ(ng)gon iki, i(ng) mĕngko tĕkå i(ng) sahana ni(ng) dinå. Titi. Batawiyah, ta(ng)gal pi(ng) pat-bĕlas, woelan April, i(ng) tahun sèwoe pitoeng-atoes ro-likoer.
Horton, William Bradley; Yamamoto, Mayumi (2018). The Hero of Batavia: Discourses on the Rebellion of Pieter Erberveld / Pahlawan dari Batavia: Narasi Pieter Erberveld Melawan Kompeni. Masup Jakarta. ISBN9786027200166.
Roo, L. W. G. de. "De conspiratie van 1721"(PDF). Tijdschrift voor Indische Taal-, Land en Volkenkunde. 15: 362‑97.
Taylor, Jean Gelman (2009). The Social World of Batavia: Europeans and Eurasians in Colonial Indonesia. University of Wisconsin Press.