Piccak khakot dalam budaya Lampung adalah bagian dari prosesi arak-arakan yang diisi oleh para Panglima, Hulubalang, dan Prajurit kerajaan. Bermula dari Pekon Teratas, Kecamatan Kotaagung, Kabupaten Tanggamus sebagai salah satu bagian dari prosesi Arak-arakan. Arak-arakan berarti iring-iringan orang dan sebagainya yang berjalan atau bergerak bersama-sama. Sebagai pembuka jalan arak-arakan, barisan terdepan adalah empat pasang pelaku yang dua diantaranya sebagai pemapah arak-arakan dan dua lagi sebagai penyambut. Piccak khakot digunakan sebagai pembuka jalan arak-arakan bagi Sai Batin, Khatu, Penyimbang Adat, Dalom, Raja, dan Anak Metuha.[1]
Gerakan Piccak Khakot
Ngaduguk: Merupakan gerakan menunggu siaga berkuda-kuda mengamati serangan yang akan terjadi.
Ngabusukh: Merupakan gerakan untuk melakukan penyerangan baik itu Nyukhung, Machas, Macakh, Matcus.
Bukillah: Merupakan gerakan untuk menghindari dari serangan yaitu, Buang Luah, Buang Lom, Jaga Bah, Jaga Atas.
Natap Imbukh: Merupakan gerakan perjalanan maju dan berputar untuk membersihkan embun dan rumput yang ada diperjalanan yang akan dilintasi oleh iring-iringan.
Referensi
↑"Wayback Machine"(PDF). digilib.unila.ac.id. Diakses tanggal 2026-02-06.