Piña adalah jenis kain tradisional Filipina yang terbuat dari serat daun nanas. Nama "piña" sendiri berarti nanas dalam bahasa Spanyol. Kain ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, dan sering disebut sebagai "ratu kain Filipina" karena kehalusan dan keanggunannya. Kain piña memiliki tekstur yang halus, lembut, ringan tetapi kuat dan tahan lama, serta memiliki tampilan yang tembus cahaya.
Kain piña sebagian besar digunakan untuk membuat pakaian formal dan tradisional Filipina, seperti barong tagalog untuk pria dan baro't saya untuk wanita, serta digunakan sebagai bahan untuk membuat aksesoris seperti selendang dan saputangan.
Kain piña dinominasikan ke dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada tahun 2023.[1] Keputusan tersebut dibuat pada pertemuan Komite Antarpemerintah ke-18 untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda yang diadakan di Kasane, Botswana, pada tanggal 5–8 Desember 2023.[2]
Sejarah
Piña adalah kain tradisional Filipina yang berasal dari daun nanas, yang pertama kali dibawa ke Filipina oleh bangsa Spanyol pada abad ke-17. Kultivar nans 'Red Spanish' mulai dibudidayakan untuk industri tekstil, dengan teknik ekstraksi dan tenun yang mengadaptasi tradisi lokal menggunakan serat abacá.[3] Kain piña ditenun menjadi tekstil nipis yang dihiasi bordir rumit seperti calado dan sombrado, dan menjadi simbol kemewahan serta status sosial tinggi.[4]
Selama masa kolonial Spanyol, kain piña menjadi barang ekspor mewah yang digemari aristokrasi Eropa, bahkan dikenakan oleh tokoh kerajaan seperti Raja Alfonso XIII dan Ratu Victoria.[5] Di Filipina, piña digunakan dalam busana tradisional seperti barong tagalog dan traje de mestiza. Namun, industri pengolahan nanas mengalami kemunduran drastis akibat pendudukan Jepang pada masa Perang Dunia II, dan baru mulai direvitalisasi sejak tahun 1960-an. Produk sampingan dari industri nanas ini juga melahirkan kuliner khas seperti nata de piña dan berbagai hidangan berbahan nanas lainnya.[3][6]
Metode pembuatan
Untuk membuat kain piña, proses produksi yang dilakukan pertama kali dilakukan adalah daun nanas dipotong, dan seratnya dikikis secara manual dari daun menggunakan alat khusus. Benang piña ditenun menggunakan alat tenun tradisional. Piña sering ditenun bersama dengan serat lain seperti sutra (menghasilkan piña-seda) atau serat abaca (serat pisang) untuk menambah kekuatan, tekstur, atau membuatnya lebih terjangkau.[7]