Pewarnaan rambutSeorang penata rambut sedang mewarnai rambut pelanggannya.
Pewarnaan rambut atau pengecatan rambut adalah sebuah praktik mengubah warna rambut. Praktik ini memiliki beberapa tujuan yakni mencapai kecantikan, menutup uban, mengubah warna sesuai keinginan, bermode, atau mengembalikan warna rambut asli setelah luntur. Praktik ini dapat dilakukan secara profesional oleh penata rambut atau dilakukan oleh diri sendiri di rumah. Saat ini, pewarnaan rambut sangat populer. Praktik ini telah dilakukan oleh 75 persen wanita dan 18 persen pria yang tinggal di Copenhagen.[1]
Sejarah
Pewarnaan rambut adalah praktik kuno yang sudah dilakukan sejak ribuan tahun lalu dengan memanfaatkan berbagai macam bahan alami dan senyawa kimia. Catatan herbal dari Asyur yang berasal dari tahun 2177 SM menuliskan beberapa resep tertua untuk kosmetik, termasuk salah satunya yakni pewarna rambut. Di samping itu, Papirus Ebers dari Mesir Kuno yang ditulis sekitar tahun 1550 SM berisi cara mewarnai rambut dan alis yang mulai beruban.[2][3]
Tablet tanah liat dari Asyur yang berasal dari abad ke-7 SM juga menuliskan bagaimana penggunaan empedu sapi hitam, minyak cemara, licorice, dan madu untuk mengembalikan warna hitam pada rambut beruban. Pada waktu itu, bahan pewarna rambut umumnya berasal dari tumbuhan, seperti tumbuhan pacar kuku (Lawsonia inermis), indigo, Cassia obovata, sena, kunyit, dan amla. Selain itu, terdapat juga bahan alami lainnya seperti katam (Buxus dioica), kulit kenari hitam, oker merah, dan daun bawang.[2][3]
Efek samping
Beberapa pewarna rambut yang mengandung phenylenediamine telah menjadi perdebatan dan diteliti selama bertahun-tahun. Bahkan, dalam beberapa dekade terakhir, sejumlah produk dengan bahan ini telah ditarik dari pasaran.[4]
Proses pewarnaan rambut melibatkan bahan kimia yang dapat menghilangkan, mengganti, atau menutupi pigmen alami dalam batang rambut. Penggunaan bahan-bahan ini bisa menimbulkan berbagai efek samping, seperti iritasi kulit sementara, reaksi alergi, rambut menjadi rapuh atau mudah patah, perubahan warna kulit, hingga hasil pewarnaan yang tidak sesuai harapan.[5]