Desa Pesinggahan adalah salah satu dari dua belas desa dinas, dan salah satu dari dua puluh desa adat yang ada di Kecamatan Dawan. Desa ini memiliki objek wisata religius yang terkenal yaitu Pura Goa Lawah.
Etimologi
Menurut Monografi Desa Pesinggahan tahun 1983, Kata "Pesinggahan" berasal dari nama Arya Pasimpangan yang merupakan seorang penguasa di wilayah ini pada zaman pemerintahan Dalem Segening.[4]
Sejarah
Nama Desa Pesinggahan pada masa Bali Kuno (Bali sebelum jaman Pemerintahan Majapahit) belum ada disebutkan, mungkin wilayah ini dikuatkan dengan adanya pura-pura klan (paibon) Arya Simpangan di sekitar wilayah ini sampai ke Desa Adat Gelogor (Banjar Dinas Gelogor, Desa Pikat). Jadi, apabila hipotesis ini benar, maka nama Pesinggahan adalah berasal dari Arya Pasimpangan (Pasimpangan sama artinya dengan Pesinggahan) yang merupakan seorang penguasa di wilayah ini pada zaman pemerintahan Dalem Segening.
Mulanya, I Gusti Wayan Jelantik Pasimpangan (putra dari I Gusti Jelantik Paninggungan) berkuasa di wilayah ini. Ceritanya demikian pada zaman pemerintahan Dalem Pemayun Bekung di Bali (± tahun 1550–1580). Kiyai Pande Base Putra dari I Gusti Dauh Baleagung, mempunyai kedudukan jaksa dan mendapat hadiah wilayah timur Tukad Unda sebagai tanda kemenangan beliau di Sumbawa dan Tuban. Kiyai Pande Base bertempat tinggal di Desa Kamasan, sedangkan ayahanda beliau berdiam di Bukit Buluh, Desa Gunaksa.
Singkat cerita, pada zaman Kali, pemerintahan Dalem Bekung, Kiyai Pande Base bersama putranya yang bernama I Gusti Biasama gugur pada perang saudara di Gelgel yang terjadi pada tahun saka Sawang Sunia Panca Dewa (1504) atau 1582 M. Perang itu terjadi karena I Gusti Pande Base dianggap membangkang dan tidak mau turut dalam upacara Banyu Pengererata untuk menjernihkan suasana yang kusut karena kematian I Gusti Ngurah Telabah. I Gusti Dauh Baleagung mengira seluruh keturunannya telah habis tertumpas dalam perang saudara tersebut, akhirnya mengadopsi (meras) I Gusti Wayan Jelantik Pasimpangan sebagai putranya untuk melanjutkan tugas-tugasnya sebagai penguasa di wilayah ini.
Demikian nama Desa Pesinggahan menurut sejarah berasal dari nama seorang penguasa yang sangat dihormati (sejarah ini dikutip dari Monografi Desa Pesinggahan tahun 1983).[4]
Pemerintahan
Pembagian administratif
Desa Pesinggahan terbagi menjadi 5 banjar dinas, yaitu:
Desa Pesinggahan merupakan desa yang memiliki posisi strategis karena berada di wilayah pantai dan perbukitan sehingga penduduknya sebagian bermata pencaharian sebagi nelayan, sebagian sebagai petani, dan sebagian pula ada sebagai PNS dan pedagang. Potensi pendapatan asli desa sebagian besar bersumber dari objek Wisata Pura Goa lawah dan hal ini perlu dikembangkan dan digali secara lebih maksimal. Di desa Pesinggahan juga terkenal dengan Warung Lesehan Sate Ikan Lautnya karena di Desa Pesingahan terdapat beberapa Warung Lesehan khas Pesinggahan seperti Warung Sari Segara, Merta sari, Baruna, Rahayu dan sebagainya.
Saat ini Desa Pesinggahan juga sudah memiliki pelabuhan rakyat yang bekerja sama dengan PT Caspla Bali. Adapun rute yang dilayani adalah penyebrangan Pesinggahan-Buyuk (Nusa Penida dan Lembongan). Ke depan juga akan segera dibuka pelabuhan dari Pesinggahan ke Kepulauan Gili di Lombok.
Demografi
Penduduk desa Pesinggahan sampai dengan tahun 2015 sebanyak 3.797 jiwa terdiri dari 1.844 laki-laki dan 1.953 perempuan dengan sex ratio 94.[2]
Catatan
↑Belatung merupakan banjar dinas yang paling muda karena baru bergabung dengan Desa Pesinggahan, sebelumnya merupakan bagian dari Desa Pikat. Perpindahan ini disebabkan karena Banjar Dinas Belatung secara de facto berada di wilayah Desa Pesinggahan walaupun sejarah menunjukkan sebagian besar penduduknya berasal dari Banjar Dinas Pangi, Desa Pikat.