ENSIKLOPEDIA
Pertempuran Wina
| Pengepungan dan Pertempuran Wina | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Perang Besar Melawan Turki, Perang Usmani–Habsburg, dan Perang Polandia–Usmani | |||||||||
Pertempuran Wina tanggal 12 September 1683 | |||||||||
| |||||||||
| Pihak terlibat | |||||||||
|
Negara-negara bawahan: |
| ||||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||||
|
|
| ||||||||
| Kekuatan | |||||||||
|
Dari 120.000 sampai tinggal 65.000 prajurit selama 60 hari pengepungan berikut sekitar 60 pucuk meriam[3] |
Garnisun Wina:
Bala pembebas:
Menurut Podhorodecki:
Total:
| ||||||||
| Korban | |||||||||
|
Total korban: Korban pertempuran: 48.544 prajurit gugur, 25% desersi, tidak terhitung yang gugur akibat terserang penyakit[3] Korban pertempuran: 8.000–20.000 prajurit[21]: 661 |
Total korban: Korban pengepungan: 12.000 prajurit[6] Korban pertempuran: 4.500 prajurit[21]: 661 3.500 prajurit gugur atau terluka (1.300 prajurit Polandia)[22] | ||||||||
Pertempuran Wina[a] berlangsung di bukit Kahlenberg, tidak jauh dari kota Wina, pada tanggal 12 September 1683,[1] sesudah dua bulan lamanya tentara Usmani mengepung kota itu. Pertempuran Wina menjadi ajang pertarungan Kekaisaran Romawi Suci yang dipimpin monarki Habsburg, bersama Persemakmuran Polandia-Lituania yang dipimpin Raja Polandia Jan Sobieski, melawan Kekaisaran Usmani bersama negara-negara bawahannya, dan negara-negara yang membayar upeti kepadanya.
Pertempuran Wina dimenangkan oleh gabungan tentara Kekaisaran Romawi Suci dan tentara Persemakmuran Polandia-Lituania, yang menandai awal kerja sama militer kedua negara itu dalam rangka menghadapi Usmani.
Sebagian sejarawan berpendapat bahwa pertempuran Wina menjadi titik balik dalam Perang Usmani–Habsburg, pertarungan Kekaisaran Romawi Suci melawan Kekaisaran Usmani selama 300 tahun. Pertempuran Wina merupakan puncak ketegangan militer yang sudah berlangsung selama 150 tahun semenjak gagalnya pengepungan Wina tahun 1529. Usmani kehilangan daya untuk terus melebarkan sayapnya ke Eropa, dan tidak pernah lagi mengusik kota Wina.[23][Keterangan 3] Pada perang susulan yang berlangsung hingga tahun 1699, Kekaisaran Romawi Suci menyatukan wilayah-wilayah yang berhasil direbutnya sehingga hampir seluruh wilayah Hongaria jajahan Usmani jatuh ke tangan Kaisar Leopold I.[23]
Garnisun Wina dipimpin oleh Jenderal Artileri Kekaisaran Romawi Suci Bupati Starhemberg, seorang priagung Austria, kawula Kaisar Romawi Suci Leopold I. Komando tertinggi berada di tangan Raja Polandia Jan Sobieski, pemimpin kawakan yang mengepalai pasukan pembebasan. Tentara Lituania menemui kendala dalam perjalanan, sehingga baru tiba di Wina sesudah pertempuran usai.[24] Pasukan-pasukan Kekaisaran Usmani dan negara-negara bawahannya dipimpin oleh Wazir Agung Merzifonlu Kara Mustafa Pasya.
Kekuatan tempur Usmani diperkirakan berada di kisaran 90.000[6] sampai 300.000[7][8][9][10] prajurit, dan menurut dokumen-dokumen gugus tempur yang ditemukan di tenda Kara Mustafa, prajurit-prajurit yang diturunkan pihak Usmani pada awal kampanye militer itu mula-mula berjulah 170.000 orang.[5] Tentara Usmani mulai mengepung kota Wina pada tanggal 14 Juli 1683. Pertempuran Wina diketahui melibatkan prajurit kavaleri dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah,
Pendahuluan

Kekaisaran Usmani sudah lama berhasrat merebut Wina, kota yang mengendalikan rute-rute perdagangan lintas darat maupun Sungai Donau menuju Jerman dan kawasan timur Laut Tengah. Beberapa tahun menjelang pengepungan Wina, Kekaisaran Usmani, di bawah arahan Wazir Agung Kara Mustafa Pasya, melakukan persiapan logistik besar-besaran, termasuk memperbaiki maupun membangun jembatan-jembatan serta jalan-jalan raya menuju Kekaisaran Romawi Suci dan pusat-pusat logistik Usmani, serta mengangkut amunisi, meriam, dan sumber-sumber daya lainnya dari seluruh wilayah Usmani ke pusat-pusat logistik tersebut maupun ke Jazirah Balkan. Pengepungan Szigetvár tahun 1566 menghalangi Sultan Suleiman Agung menyerang Wina, dan menghentikan pergerakan Usmani menuju Wina pada tahun itu. Wina baru kembali terancam bahaya pada tahun 1683. Pada tahun 1679, Wina diserang wabah penyakit.[25]

Di gelanggang politik, Kekaisaran Usmani memberikan bantuan militer kepada orang Hongaria dan kelompok-kelompok minoritas non-Katolik di daerah-daerah Hongaria yang dikuasai Habsburg. Di daerah-daerah itu, bertahun-tahun sebelum pengepungan terjadi, kerusuhan merajalela dan meningkat menjadi pemberontakan terang-terangan menentang usaha Kaisar Leopold I untuk menerapkan asas-asas Kontrareformasi maupun hasratnya untuk menumpas Protestantisme. Pada tahun 1681, pasukan Kurutz Protestan maupun pasukan-pasukan Kurutz anti-Habsburg lainnya, di bawah pimpinan Imre Thököly, diperkuat dengan tambahan pasukan yang lumayan besar dari pemerintah Usmani,[21]: 657 yang mengakui Imre Thököly sebagai Raja "Hongaria Hulu" (mencakup kawasan timur Slowakia dan beberapa daerah di kawasan timur laut Hungary saat ini, yang sebelumnya sudah direbut Imre Thököly dari wangsa Habsburg). Pemerintah Usmani juga berjanji akan menyerahkan "Kerajaan Wina" kepada orang Hongaria jika sudah direbut. Meskipun demikian, sebelum pengepungan terjadi, Kekaisaran Romawi Suci dan Kekaisaran Usmani sudah membina hubungan damai selama 20 tahun berdasarkan Perjanjian Damai Vasvár.
Pada tahun 1681 dan 1682, bentrok antara pasukan Imre Thököly dan pasukan Kekaisaran Romawi Suci (perbatasan ketika itu berada di kawasan utara Hongaria) kian memanas, dan pergerakan pasukan Habsburg ke kawasan tengah Hongaria menjadi alasan kuat Wazir Agung Kara Mustafa Pasya untuk meyakinkan Sultan Mehmed IV dan para menterinya untuk mengizinkan pengerahan tentara Usmani. Sultan Mehmed IV mengizinkan Mustafa Pasya untuk beroperasi sampai ke Puri Győr (ketika itu disebut Yanıkale oleh orang Turki, dan Raab oleh orang Jerman) dan Puri Komárom (disebut Komaron oleh orang Turki, dan Komorn oleh orang Jerman), yang sama-sama terletak di kawasan barat laut Hongaria, dan mengepung kedua puri itu. Tentara Usmani dimobilisasi pada tanggal 21 Januari 1682, dan perang dimaklumkan pada tanggal 6 Agustus 1682.
Dari segi logistik, melancarkan invasi pada bulan Agustus atau September 1682 akan sangat berisiko bahkan mustahil dilakukan, lantaran kampanye militer selama tiga bulan akan membuat tentara Usmani sampai ke Wina bertepatan dengan tibanya musim dingin. Namun selang waktu 15 bulan antara mobilisasi dan pelancaran invasi besar-besaran menjadi kesempatan bagi Wina untuk mempersiapkan pertahanan, sekaligus kesempatan bagi Kaisar Leopold untuk mengumpulkan pasukan dari seluruh Kekaisaran Romawi Suci dan mengikat persekutuan dengan Polandia, Venesia, dan Paus Inosensius XI. Persekutuan pertahanan antara Kekaisaran Romawi Suci dan Polandia disepakati dan dituangkan ke dalam Perjanjian Warsawa pada tahun 1683. Kaisar Leopold berjanji akan membantu Raja Jan Sobieski jika Usmani menyerang Kraków, dan sebagai gantinya pihak Polandia berjanji akan mengerahkan tentaranya ke Wina jika kota itu diserang.[21]: 656, 659
Pada tanggal 31 Maret, satu lagi maklumat perang – yang dikirim Wazir Agung Kara Mustafa Pasya atas nama Sultan Mehmed IV – tiba di istana kekaisaran di Wina. Keesokan harinya, unsur-unsur tempur Usmani mulai bergerak dari Edirne di Rumelia. Pasukan-pasukan Usmani tiba di Beograd pada awal bulan Mei. Tentara Transilvania di bawah pimpinan Pangeran Mikhael Apafi dan sepasukan prajurit Hongaria di bawah pimpinan Imre Thököly datang bergabung, lantas bersama-sama mengepung Puri Győr, sementara sisa pasukan Usmani berkekuatan 150.000 prajurit bergerak menuju Wina.[21]: 660 Pada tanggal 7 Juli, 40 kilometres (25 mil) di timur kota Wina, tiba pasukan Tatar Krimea berkekuatan sekitar 40.000 prajurit,[21]: 660 dua kali lipat dari jumlah prajurit Kekaisaran Romawi Suci di daerah itu. Kaisar Leopold dan seisi istana berikut 60.000 warga Wina mengungsi ke Passau, sementara Adipati Karel menarik pasukannya yang berkekuatan 20.000 prajurit ke Linz.[21][26]: 660 Pasukan utama Usmani tiba di Wina pada tanggal 14 Juli. Satu-satunya pasukan yang masih bertahan di Wina adalah pasukan Bupati Ernst Rüdiger von Starhemberg yang berkekuatan 15.000 prajurit.[21]: 660 Georg Rimpler, teknisi militer asal Saksen yang ditugaskan untuk melakukan persiapan perang melawan orang Turki, mulai mempersiapkan kota Wina untuk menghadapi pengepungan – kebanyakan rencana praperang Austria menganggarkan pertempuran melawan orang Turki di sekitar kota Győr, tetapi rencana itu dibuyarkan kedatangan pasukan Usmani.[27][28]
Raja Polandia, Jan Sobieski, menepati janji Polandia dalam Perjanjian Warsasa, menyiapkan ekspedisi pembebasan ke Wina pada musim panas tahun 1683, dan direncanakan bertolak dari Kraków pada tanggal 15 Agustus. Apabila saat itu tiba, sebagian besar wilayah Polandia akan kehilangan kekuatan bertahan. Situasi semacam ini dapat saja dimanfaatkan oleh Imre Thököly untuk menginvasi Polandia. Sebagai langkah pencegahan, Kazimierz Jan Sapieha menangguhkan pergerakan pasukan Lituania, dan menyerbu daerah pegunungan Hongaria, sehingga baru tiba di Wina sesudah kota itu bebas dari pengepungan.[24]
Tidak seberapa lama kemudian, timbul ketegangan di antara Polandia dan praja-praja Jerman – khususnya Austria – terkait pembebasan kota Wina. Pembayaran upah dan kebutuhan hidup sehari-hari para prajurit selama berkirab menuju Wina menjadi perkara sengketa utama. Raja Jan Sobieski bersikeras tidak mau menanggung ongkos pengerahan pasukan Polandia ke Wina, lantaran dialah yang paling berjasa menyelamatkan kota Wina; tetapi pemerintah Wina juga tidak dapat mengabaikan ongkos pengerahan pasukan dari praja-praja Jerman lainnya. Pemerintah Habsburg mengumpulkan sebanyak mungkin uang untuk membayar ongkos tersebut dan membuat berbagai kesepakatan dengan pihak Polandia demi menghemat pengeluaran.[29]
Kejadian-kejadian selama pengepungan
Pasukan utama Usmani mengepung kota Wina pada tanggal 14 Juli. Hari itu juga, Kara Mustafa menyampaikan surat tuntutan seturut adat perang Usmani, mengimbau pemerintahan kota Wina untuk menyerah kepada Kekaisaran Usmani.[Keterangan 4] Ernst Rüdiger Graf von Starhemberg, pemimpin 15.000 prajurit yang tersisa, berikut 8.700 sukarelawan dan 370 pucuk meriam, menolak untuk menyerah. Baru beberapa hari berselang dia menerima kabar tentang pembantaian massal di Perchtoldsdorf,[30] sebuah kota kecil di sebelah selatan Wina. Warga kota itu sudah menyerahkan kunci pintu kota sesudah menerima surat tuntutan menyerah dari pasukan Usmani, tetapi tetap saja dibunuh. Operasi-operasi pengepungan dimulai pada tanggal 17 Juli.[21]: 660
Warga kota Wina sudah merubuhkan banyak rumah di sekitar tembok kota, membersihkan puing-puingnya, dan membiarkan tanahnya tetap kosong, supaya tidak ada tempat berlindung dari tembakan pihak bertahan apabila prajurit-prajurit Usmani mencoba menerjang masuk ke dalam kota.[21]: 660 Kara Mustafa Pasya mengakalinya dengan memerintahkan prajurit-prajurit Usmani menggali parit-parit panjang menuju kota Wina, untuk membantu melindungi diri dari tembakan musuh selagi mereka bergerak mendekati tembok kota.
Pihak Usmani membawa 130 pucuk meriam ringan dan 19 pucuk kaliber sedang, sedangkan pihak bertahan Wina memiliki 370 pucuk meriam.[6] Gorong-gorong digali di bawah landasan tembok kota untuk nantinya diisi dengan bubuk mesiu dalam jumlah yang cukup untuk meluluhlantakkan tembok.[21][31]: 660 Menurut Andrew Wheatcroft, kubu terdepan sudah berumur 150 tahun dan sebagian besar sudah lapuk dimakan waktu. Untuk mengakalinya, pihak bertahan memancangkan batang-batang pohon berukuran raksasa ke dalam tanah di sekeliling tembok kota. Tindakan ini menggagalkan rencana pihak Usmani untuk menuntaskan pengepungan dalam waktu singkat, lantaran mengulur waktu yang diperlukan pihak Usmani untuk menerobos kubu lama dengan tambahan waktu sepanjang hampir tiga minggu.[32] Keberhasilan mengulur waktu penyerangan, ditambah lagi dengan keterlambatan pihak Usmani untuk mengerahkan pasukan sesudah memaklumkan perang, memungkinkan bala pembebas untuk tiba pada bulan September.[21]: 660 Beberapa sejarawan menduga bahwa Kara Mustafa bermaksud untuk merebut Wina dalam keadaan utuh, lengkap dengan segala harta kekayaan di dalamnya, sehingga tidak habis-habisan menggempur kota itu, supaya tidak tidak memicu penjarahan, yang biasanya terjadi berbarengan dengan penyerbuan dan dianggap sebagai hak dari prajurit-prajurit pihak pemenang.[33]
Pengepungan Usmani memutuskan hampir semua jalur pasokan pangan ke kota Wina.[34] Orang-orang sudah kehabisan tenaga sampai-sampai Ernst Rüdiger von Starhemberg merasa perlu menurunkan perintah untuk menembak mati prajurit yang kedapatan tertidur saat bertugas jaga. Pasukan pertahanan Wina yang semakin kehilangan harapan sudah berada di ambang kekalahan ketika pada bulan Agustus, pasukan Kekaisaran Romawi Suci yang dipanglimai Karel, Adipati Lotharingen, mengalahkan Thököly di Bisamberg, 5 km (3,1 mil) di barat laut Wina.
Pada tanggal 6 September, pasukan-pasukan Polandia di bawah pimpinan Raja Jan Sobieski menyeberangi Sungai Donau, 30 km (19 mi) di barat laut Wina, tepatnya di Tulln, untuk bergabung dengan pasukan-pasukan Kekaisaran Romawi Suci dan pasukan-pasukan tambahan dari Saksen, Bayern, Baden, dan praja-praja lain di Kekaisaran Romawi Suci. Raja Prancis, Louis XIV, menolak mengulurkan bantuan kepada saingannya, wangsa Habsburg, lantaran baru saja menganeksasi Elzas.[31] Kira-kira 5.000 kazaki Zaporizhia dipimpin Semyon Paliy turut bergabung dengan bala pembebas.[19]
Persekutuan yang terjalin di antara Raja Jan Sobieski dan Kaisar Leopold I menjadi sebab bergabungnya pasukan husar Polandia dengan tentara persekutuan. Jabatan panglima tentara persekutuan Eropa dipercayakan kepada Raja Jan Sobieski, panglima perang kenamaan dengan segudang pengalaman tempur melawan tentara Usmani. Ketenarannya kian melambung sesudah ia berhasil membuat pasukan Usmani menelan kekalahan telak dalam Pertempuran Khotin tahun 1673, dan kini memimpin bala tentara berkekuatan 70.000–80.000 prajurit, menghadapi tentara Usmani yang dikabarkan berkekuatan 150.000 prajurit.[21]: 661 Keberanian dan bakat kepemimpinan alami Raja Jan Sobieski sudah terkenal di Eropa.
Pada permulaan bulan September, sekitar 5.000 prajurit zeni kawakan Usmani seudah berkali-kali menggempur tembok di antara selekoh Burg, selekoh Löbel, dan ravelin Burg, dan membuat celah-celah selebar kira-kira 12 meter (39 kaki). Pihak bertahan menanggapinya dengan menggali gorong-gorong sendiri guna menggagalkan usaha menimbun bubuk mesiu di dalam gorong-gorong. Pihak Usmani akhirnya berhasil menduduki ravelin Burg dan tembok rendak di sekitarnya pada tanggal 8 September. Sebagai langkah antisipasi kalau sampai pihak penyerang nanti berhasil tembok kota, warga Wina mulai mempersiapkan diri untuk bertempur di dalam kota.[31]
Korban jiwa di pihak Usmani selama pengepungan
| Jumlah awal kesatuan Usmani[35] | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
Hanya pasukan pengawal istana dan pasukan anak buah kepala daerah pada tabel di samping yang dapat dipastikan jumlahnya, yaitu 78.500 prajurit dan 44.200 prajurit, sementara jumlah-jumlah selebihnya, yaitu 50.000 prajurit Tatar, 10.000 prajurit Walakia, 170.000 tenaga layanan penunjang dan lain-lain, adalah jumlah yang sudah dibulatkan. Berdasarkan angka-angka tersebut, Kahraman Şakul mengklaim bahwa tabel awanama tersebut memperlihatkan jumlah prajurit pengawal istana dan prajurit anak buah kepala daerah yang terhitung, sedangkan jumlah prajurit daerah (40.000 prajurit kavaleri daerah) dan prajurit negara bawahan (100.000 prajurit) adalah jumlah yang diharapkan hadir. Sebagai contoh, jumlah prajurit Tatar, Bogai, dan Sirkasia mencapai lebih dari 100.000 orang, sementara menurut tabel di samping, orang Tatar (sebutan umum bagi Khanat Krimea beserta negera-negara bawahannya) hanya mengerahkan 50.000 prajurit.[36]
Menurut catatan-catatan Usmani, pasukan pengawal istana yang dikerahkan ke Wina terdiri atas 25.529 yeniceri, 3.045 cebeci (pasukan peralatan), dan 4.000 prajurit penembak meriam, sehingga jumlah keseluruhannya adalah 32.574 prajurit, bukan 60.000 prajurit seperti yang tercantum pada tabel di samping. Oleh sebab itu, menurut perhitungan Kahraman Şakul, tentara Usmani diperkuat kurang lebih 120.000 prajurit dan 156 pucuk meriam. Dari 120.000 prajurit tersebut, 30.000 prajurit ditempatkan di puri-puri yang sudah direbut, dan dikerahkan untuk mengganggu pergerakan bala pembebas ke Wina.[37]

Menurut Duta Besar Austria Kunitz, tentara Usmani yang mengepung kota Wina sudah menyusut menjadi 90.000 pejuang pada tanggal 12 Agustus. Kunitz juga mengklaim diberitahu para tawanan Usmani bahwa jumlah korban di pihak Usmani sudah mencapai 20.000 jiwa menjelang akhir bulan Agustus (menurut sumber-sumber Austria lainnya, korban di pihak Usmani mencapai 12.000 jiwa sampai dengan tanggal 13 Agustus, yang menunjukkan bahwa jumlah korban jiwa di pihak Usmani terus bertambah dari hari ke hari selama pengepungan berlangsung[38]). Menurut catatan pihak Usmani yang dirampas seusai pertempuran, jumlah korban sudah mencapai 48.544 jiwa sampai dengan tanggal 10 September, yakni 10.000 yeniceri, 12.000 sipahi (pasukan elit kavaleri bobot berat), 16.000 beldar (penggali gorong-gorong), 6.000 prajurit zeni (lağımcı dalam bahasa Turki, artinya penambang), 2.000 sipahi daerah, dan 2.000 prajurit Tatar, sehinggan jumlah keseluruhan korban mencapai 48.544 jiwa.[39] Di samping itu, desersi (menurut sumber-sumber Usmani dan Luigi Marsigli, 1/4 tentara Usmani melakukan desersi[3]) dan sakit penyakit menyusutkan kekuatan tempur Usmani secara besar-besaran.
Menurut sumber-sumber Usmani, jumlah prajurit menyusut dari 120.000 (menurut Kunitz, keseluruhan prajurit Usmani berjumlah 180.000 orang, dan 1/3 tentara Usmani ditempatkan jauh dari lokasi pengepungan[36]) menjadi 40.000 orang saja. Kahraman Şakul menggabungkan informasi Kunitz tentang 90.000 pejuang per 12 Agustus dengan daftar korban jiwa dari pihak Usmani, dan memperkirakan bahwa tentara Usmani terdiri atas 90.000 orang (65.000 prajurit, 25.000 tenaga layanan penunjang, dan sekitar 60 pucuk meriam),[3] tetapi informasi Kunitz tentang 90.000 pejuang adalah data per 12 Agustus dan daftar dari pihak Usmani adalah data per 10 September.[39] Negara-negara bawahan Usmania, yakni Transilvania, Walakia, dan Moldavia, ditugaskan untuk mempertahankan jembatan-jembatan di rute-rute yang penting untuk penarikan mundur pasukan, sehingga tidak ikut bertempur. Pihak Usmani berharap negara-negara bawahan Tatar akan ikut bertempur, tetapi prajurit-prajurit aswasada Tatar yang sebagian besar tidak berpasukan terbukti tidak banyak gunanya dalam pertempuran, tidak seperti dalam penyerbuan-penyerbuan sebelumnya. Sisa kekuatan tempur Usmani yang terdiri atas 28.400 sampai 50.000 prajurit nantinya akan berhadapan dengan bala pembebas yang terdiri atas 65.000 prajurit (angka keliru 68.000 prajurit muncul akibat 3.000 kontingen Polandia yang sebelumnya sudah bergabung dengan bala pembebas dihitung dua kali) dengan 165–200 pucuk meriam.[40]
Persiapan tempur
Untuk menghentikan pengepungan, bala pembebas yang terdiri atas pasukan-pasukan Polandia dan pasukan-pasukan Kekaisaran Romawi Suci buru-buru melakukan persiapan. Sekalipun tentaranya terdiri atas pasukan-pasukan multinasional, dan pendeknya waktu persiapan yang cuma enam hari, struktur kepemimpinan yang efektif dapat dibentuk, terpusat pada Raja Polandia beserta pasukan kavaleri bobot beratnya (pasukan Husar Polandia). Liga Suci tersebut menuntaskan masalah ongkos dengan menggunakan semua dana yang mampu disediakan pemerintah, pinjaman dari beberapa bankir dan bangsawan kaya, serta sejumlah besar uang dari Sri Paus.[29] Pihak Habsburg dan pihak Polandia juga sepakat bahwa pihak Polandia akan menanggung ongkos pasukannya selama berada di Polandia, dan kaisar yang akan menanggung ongkos begitu pasukan Polandia memasuki wilayah Romawi Suci. Meskipun demikian, kaisar akan mengakui Raja Jan Sobieski sebagai pihak yang paling berhak menjarah perkemahan musuh sesudah apabila pertempuran dimenangkan oleh Liga Suci.[29][41]

Tentara gabungan Usmani, yang dipanglimai Kara Mustafa, tidak terlalu bersatu padu, menghadapi masalah motivasi dan loyalitas, juga kesulitan melakukan persiapan untuk menghadapi bala pembebas semakin dekat. Kara Mustafa memercayakan pertahanan belakang kepada Khan Krimea beserta pasukan kavalerinya yang beranggotakan 30.000 hingga 40.000 aswasada. Ada keraguan terkait seberapa besar partisipasi prajurit Tatar dalam perang terakhir sebelum pertempuran Wina. Khan Tatar tidak mau melancarkan serangan selagi bala pembebas menyeberangi Sungai Donau dengan menggunakan jembatan-jembatan apung, dan tidak mau pula melancarkan serangan saat bala pembebas keluar dari Hutan Wina. Sekutu-sekutu Usmani dari Walakia dan Moldavia juga terbukti tidak dapat diandalkan. Gheorghe Duca, Pangeran Moldavia, tertawan.[28] Șerban Cantacuzino, yang bersimpati kepada koalisi Kristen,[42] ikut mundur sesudah pasukan kavaleri Raja Jan Sobieski menyerbu.[28] Șerban Cantacuzino sudah berunding dengan pasukan Kekaisaran Romawi Suci supaya Walakia bergabung dengan pihak Kristen, dengan harapan mendapatkan kedudukan sebagai pelindung umat Kristen di Jazirah Balkan. Sebagai gantinya, pihak Habsburg menjanjikan kepadanya takhta Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Usmani.[43]
Pasukan-pasukan konfederasi Kristen mengisyaratkan kedatangan mereka di Kahlenberg dengan menyalakan api unggun. Pasukan yang bertahan di Wina menanggapi isyarat itu dengan mengutus Jerzy Franciszek Kulczycki, seorang bangsawan, diplomat, sekaligus saudagar Polandia yang fasih berbahasa Turki, untuk menyusup ke tengah-tengah pasukan Turki, memata-matai mereka, dan memberitahu bala pembebas mengenai kapan serangan gabungan akan dilaksanakan.[28]
Jalannya pertempuran
Pertempuran pecah sebelum semua satuan tempur dikerahkan ke posisi masing-masing. Pada pukul 4:00 dini hari, tanggal 12 September, pihak Usmani melancarkan serangan untuk mengacaukan pengerahan pasukan-pasukan Liga Suci.[21]: 661 Prajurit-prajurit Jerman yang lebih dulu menyerang balik. Adipati Karel maju memimpin tentara Kekaisaran Romawi Suci di divisi sayap kiri dan pasukan-pasukan lain dari Kekaisaran Romawi Suci di divisi tengah. Sesudah bertempur dengan sengit dan berulang kali diserang balik pihak Usmani, Adipati Karel berhasil menguasai beberapa posisi penting, terutama desa Nussdorf dan desa Heiligenstadt yang dipagari benteng. Pada tengah hari, tentara kekaisaran sudah berhasil membuat pihak Usmani menderita kerusakan yang cukup parah, dan tanda-tanda kemenangan semakin jelas terlihat.[44] Pada waktu yang sama, Cantacuzino dan anak-anak buahnya (yang diam-diam mendukung koalisi Kristen) berusaha menyabotase pengepungan Usmani dengan meninggalkan jembatan penyeberangan sungai Donau di pulau Brigittenau, tempat prajurit-prajurit Walakia ditempatkan untuk melindungi sayap kiri Usmani.[43] Mustafa Pasya membalas dengan mengerahkan sebagian besar pasukannya, tetapi menahan beberapa kesatuan Yeniceri dan Sipahi untuk nanti dikerahkan serentak menggempur kota. Kendati gagal tercapai, para pimpinan pihak Usmani berencana merebut Wina sebelum pasukan yang dipimpin Raja Jan Sobieski tiba di medan tempur. Pasukan zeni Usmani sudah menyiapkan sejumlah besar bahan peledak di bawah Löbelbastei[45] untuk membobol tembok. Total ada sepuluh gorong-gorong berisi bahan peledak yang siap untuk diledakkan, tetapi lokasinya terlacak dapat dilumpuhkan oleh pihak bertahan.
Saat hari beranjak petang, pecah pertempuran besar di sisi lain medan tempur manakala pasukan infanteri Polandia maju menyerang divisi sayap kanan Usmani. Sekalipun bala pembebas sudah tiba, beberapa divisi tentara usmani masih saja sibuk berusaha membobol pertahanan kota, sehingga pasukan-pasukan Polandia berkesempatan untuk memasuki medan tempur. Pada pukul 4 sore, prajurit-prajurit Polandia sudah berhasil merebut desa Gersthof, yang selanjutnya dijadikan pangkalan untuk melancarkan serangan kavaleri.[18] Tentara Usmani terjepit di antara pasukan Polandia dan pasukan Kekaisaran Romawi Suci. Adipati Karel dan Raja Jan Sobieski secara terpisah mengambil keputusan yang sama, yaitu maju menekan dan mengalahkan pasukan-pasukan Usmani secara telak.[46]
Pasukan-pasukan Jerman kembali melancarkan serangan di front kiri pada pukul 3:30 sore. Mula-mula mereka mendapatkan perlawanan sengit dan tidak dapat maju lebih jauh lagi. meskipun demikian, pada pukul 5 sore, mereka akhirnya dapat bergerak maju sehingga berhasil merebut desa Unterdöbling dan desa Oberdöbling. Pasukan-pasukan Kekaisaran Romawi Suci sudah semakin mendekati posisi tengah Usmani ("Türkenschanze", sekarang Türkenschanzpark),[46] dan begitu mereka bersiap-siap melancarkan serangan penghabisan, pasukan kavaleri Polandia pun maju menerjang.[28]

Pasukan kavaleri Polandia dikabarkan perlahan-lahan keluar dari hutan, disambut tempik sorai pasukan infanteri yang sudah menunggu kedatangan mereka. Pada pukul 4 sore, satu detasemen Husar beranggotakan 120 prajurit melancarkan serangan penjajakan, dan berhasil menyingkap kerentanan pihak Usmani terhadap serangan, tetapi memakan banyak korban. Pada saat melancarkan serangan penjajakan ini, mereka mulai mendekati Türkenschanze, yang ketika itu sudah disasar untuk diserang tiga pasukan berbeda (pasukan Polandia dari arah barat, pasukan Saksen dan Bayern dari arah barat laut, dan pasukan Austria dari arah utara). Pada saat itu Wazir Usmani menutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan mundur ke markasnya di perkemahan utama yang terletak kebih jauh ke selatan. Namun ketika itu, banyak prajurit Usmani sudah meninggalkan medan tempur.[18]
Bala pembebas akhirnya siap untuk melancarkan serangan penghabisan. Sekitar pukul 6:00 sore, Raja Jan Sobieski memerintahkan pasukan kavaleri Polandia untuk menyerang dalam empat regu, tiga regu prajurit Polandia dan satu regu prajurit Kekaisaran Romawi Suci. 18,000 horsemen charged down the hills, serbuan kavaleri terbesar dalam sejarah.[47][48] Raja Jan Sobieski memimpin penyerbuan[21]: 661 di ujung tombak barisan 3.000 prajurit kavaleri penombak bobot berat Polandia, yakni prajurit-prajurit "Husar Bersayap". Prajurit-prajurit Tatar Lipka yang berjuang di pihak Polandia memasang berkas jerami pada ketopong untuk membedakan mereka dari prajurit-prajurit tatar yang berjuang di pihak Usmani.[49] Dalam waktu singkat, pasukan kavaleri Polandia berhasil menembus barisan pertahanan Usmani, yang sudah kelelahan dan patah semangat sehingga mulai berancang-ancang untuk kabur meninggalkan medan tempur. Pasukan kavaleri Polandia langsung bergerak menuju perkemahan Usmani dan markas Kara Mustafa. Prajurit-prajurit garnisun Wina yang tersisa langsung keluar dari benteng untuk ikut bertempur.[21]: 661
Pasukan-pasukan Usmani kelelahan dan patah semangat sesudah gagalnya upaya membobol pertahanan Wina dengan terowongan dan bahan peledak, the assault on the city and the advance of the Holy League infantry on the Türkenschanze.[21]: 661 Less than three hours after the decisive cavalry charge, tentara Liga Suci sudah memenangkan pertempuran dan berhasil mempertahankan kota Wina. Perwira Katolik pertama yang memasuki kota Wina adalah Ludwig Wilhelm, Tumenggung Baden-Baden, di ujung tombak barisan prajurit tarkulnya.[18] Sesudah itu, Raja Jan Sobieski memparafrasakan ucapan terkenal Yulius Kaisar (veni, vidi, vici) dengan berkata "venimus, vidimus, Deus vicit" - "kami datang, kami lihat, Allah berjaya".[21]: 661 [28]
Kebiadaban
Sewaktu pengepungan berlangsung, prajurit-prajurit Usmani menyerbu desa-desa di sekitar kota Wina, dan mengangkut banyak warga sipil yang selamat ke Turki untuk dijadikan budak. Di desa Perchtoldsdorf yang terletak di luar kota Wina, prajurit-prajurit Usmani membantai kaum pria, sementara wanita dan kanak-kanak dijadikan budak.[50][51]
Warga desa Perchtoldsdorf berjuang melawan invasi dan membarikade diri di dalam sebuah benteng gereja. Prajurit-prajurit Usmani berjanji akan menjamin keselamatan nyawa dan harta warga desa jika bersedia menyerah. Namun ketika mereka menyerah, prajurit-prajurit Usmani mengumpulkan kaum pria di alun-alun pasar, melucuti senjata mereka, lalu menbantai mereka. Kaum wanita dan kanak-kanak ditawan, dan diangkut sebagai tawanan perang kafir dari darul harbi untuk diperbudak.[52]
Prajurit-prajurit Usmani biasanya membunuh kaum pria dewasa dan lebih suka memperbudak kaum wanita serta kanak-kanak, tetapi ada juga pria-pria yang diperbudak. Secara keseluruhan, ada 57.220 orang yang diculik dan diangkut sebagai budak semasa Usmani menggarong zona perbatasan Austria dan Hongaria pada tahun 1683; ada 6.000 orang pria, 11.215 orang perempuan yang sudah kawin, 14.922 orang perempuan yang belum kawin di bawah umur 26 tahun (204 orang di antaranya adalah bangsawati); dan 26.093 orang kanak-kanak.[53]
Pascaperang

Sejarawan Usmani sezaman, Silahdar Findiklili Mehmed Aga, menyifatkan pertempuran ini sebagai kekalahan dan kegagalan besar bagi Kemaharajaan Usmani, musibah terbesar yang dialami sejak pengasasan negara Usmani pada tahun 1299.[54] Pihak Usmani kehilangan paling sedikit 20.000 jiwa saat pengepungan berlangsung,[21]: 661 sementara kerugian yang timbul dalam pertempuran melawan pasukan Raja Jan Sobieski mencapai sekitar 15.000 korban jiwa (menurut Podhorodecki)[55] atau 8.000–15.000 korban jiwa dan 5.000–10.000 prajurit yang tertawan (menurut Tucker).[21]: 661 Jumlah korban di pihak bala pembebas yang dipenggawai Raja jan Sobieski jauh lebih kecil, yakni sekitar 3.500 korban jiwa dan luka-luka, sudah termasuk 1.300 prajurit Polandia.[55] Estimasi Tucker sedikit lebih tinggi, yaitu 4.500 jiwa.[21]: 661 Garnisun Wina yang berkekuatan 10.000 prajurit serta populasi warga sipil, lantaran berbagai sebab, kehilangan sekitar setengah dari jumlahnya yang semula saat pengepungan berlangsung.[6]
Pasukan-pasukan Liga Suci dan warga kota Wina mengambil banyak sekali barang jarahan dari tentara Usmani. Raja Jan Sobieski menjabarkannya di dalam sepucuk surat kepada permaisurinya yang ia tulis beberapa hari seusai pertempuran sebagai berikut:
Milik kami jua tumpukan harta kekayaan yang belum pernah didengar orang ... tenda, biri-biri, sapi, juga unta yang tidak sedikit jumlahnya ... kemenangan seperti ini belum pernah dikenal orang, musuh hancur binasa, kehilangan segala-galanya. Mereka terpaksa kabur semata-mata demi menyelamatkan nyawa ... Panglima Starhemberg menyambut saya dengan peluk cium, dan menyebut saya sebagai juru selamatnya.[56]
- Pulang dari Wina karya Józef Brandt, tentara Polandia pulang membawa jarahan
- Bendera tentara Usmani yang dirampas dalam peristiwa pengepungan Wina
- Kasula berbahan kain tenda tentara Turki yang dirampas tentara Polandia di Wina, dari tahun 1683
Starhemberg dengan segera memerintahkan perbaikan benteng pertahanan kota Wina untuk mengantisipasi kemungkinan serangan balasan Usmani. Meskipun demikian, Wina tidak pernah lagi dikepung Kekaisaran Usmani.
Akibat kekalahan Usmani dalam pertempuran ini, Kara Mustafa Pasya dieksekusi mati di Beograd pada tanggal 25 Desember dengan cara yaang sepatutnya, yaitu dicekik dengan menggunakan tambang sutra yang masing-masing ujungnya ditarik oleh beberapa orang, atas perintah Yeniceri Agasi.
Meskipun pihak persekutuan Katolik meraih kemenangan, masih ada ketegangan antarpanglima dan pasukan mereka. Raja Jan Sobieski menuntut supaya pasukan-pasukan Polandia mendapat giliran pertama mengambil jarahan dari perkemahan Usmani, dengan demikian pasukan-pasukan Jerman dan Austria hanya akan mendapatkan sisa-sisanya.[57] Selain itu, para pejuang Protestan dari praja Saksen, yang datang untuk ikut membebaskan kota Wina, kabarnya dicaci-maki warga Katolik di desa-desa sekitar Wina. Mereka segera angkat kaki meninggalkan medan tempur tanpa mengambil jatah jarahan, dan menolak ikut serta dalam pengejaran susulan.[57]
Raja Jan Sobieski selanjutnya membebaskan Grau dan kawasan barat laut Hongaria pascapertempuran Parkany, tetapi penyakit disentri menghentikan usahanya mengejar pasukan Usmani.[21]: 662 Karel, Adipati Lotharingen, merebut Buda dan hampir seluruh wilayah Hongaria pada tahun 1686, menjadikan kawasan selatan Hongaria dan sebagian besar wilayah Transilvania menjadi wilayah kewenangan Habsburg pada tahun 1687, dan merebut kota Beograd pada tahun 1688.[21]: 663–664
Kekalahan Usmani di Wina dirayakan dengan gegap-gempita di Iran. Agaknya berita kekalahan tersebut sangat menggugah semangat rezim Safawi, sampai-sampai Syah Sulaiman I (bertakhta tahun 1666–1694) mempertimbangkan untuk menyerbu Bagdad, yang dikuasai Usmani sejak tahun 1639 berdasarkan Perjanjian Zuhab.[58] Wangsa Safawi yang berkuasa di Iran ketika akhirnya tidak jadi melancarkan kampanye militer baru, lantaran para pejabat (khususnya faksi sida-sida yang dominan di lingkungan istana) merasa prihatin melihat penurunan kekuatan tempur Safawi, sehingga menganggap kampanye militer sebagai langkah yang kurang bijaksana.[58] Menurut Profesor Rudi Matthee, para sida-sida "bukannya tidak ingin Usmani sedikit dipermalukan lagi, tetapi tidak ingin kekuasaan Usmani binasa, lantaran bakal melenyapkan sekat yang selama ini membendung sepak terjang umat Kristen Eropa".[58]
Signifikansi


Kemenangan di Wina menjadi batu pijakan bagi Tumenggung Baden-Baden, Pangeran-Pemilih Bayern, dan Pangeran Savoye untuk menaklukkan Hongaria dan beberapa daerah di Balkan (hanya sementara) dalam jangka waktu beberapa tahun pascapertempuran Wina. Pihak Usmani masih cukup kuat untuk terus bertempur selama 16 tahun, tetapi akhirnya kehilangan Hongaria dan Transilvania. Pada tahun 1699, Kekaisaran Romawi Suci dan Kekaisaran Usmani menandatangani Perjanjian Karlowitz, yang menyerahkan sebagian besar wilayah Hongaria kepada wangsa Habsburg. Pertempuran Wina menamatkan riwayat ekspansi Usmani ke Eropa. Tindakan-tindakan Raja Louis XIV mempersengit perseteruan Prancis–Jerman, sehingga pada bulan berikutnya, meletus Perang Réunions di kawasan barat Kekaisaran Romawi Suci yang sudah lemah saat itu.
Lantaran Raja Jan Sobieski sudah memasrahkan kerajaannya kepada perlindungan Santa Perawan Maria (Bunda Częstochowa) sebelum pertempuran Wina, Paus Inosensius XI mengabadikan kemenangannya dengan menjadikan hari besar Nama Tersuci Maria, yang pada masa itu hanya dirayakan di Kerajaan Spanyol dan Kerajaan Napoli, sebagai hari besar seluruh Gereja Katolik. Hari besar ini dulu lazim dirayakan pada hari Minggu dalam astawara peringatan Kelahiran Maria (tanggal 9 sampai 15 September). Kemudian hari, ketika Paus Pius X menghendaki agar ibadat hari Minggu dirayakan sebagaimana mestinya, perayaan hari besar Nama Tersuci Maria dipindahkan ke tanggal 12 September, yakni hari kemenangan pertempuran Wina. Paus Inosensius XI bahkan mengubah lambang kebesarannya dengan menambahkan lambang Rajawali Putih Polandia. Sesudah meraih kemenangan di Wina, Raja Jan Sobieski juga dianugerahi gelar "Pembela Iman" (bahasa Latin: Defensor Fideicode: la is deprecated ) oleh Sri Paus.[59] Untuk mengenang jasa-jasa Raja Jan Sobieski, orang Austria membangun sebuah gereja di puncak bukit Kahlenberg yang berdiri di sebelah utara kota Wina. Pada tahun 2024, kota Wina menolak pembangunan monumen Raja Jan Sobieski lantaran khawatir dapat memicu islamofobia dan sentimen anti-Turki.[60]
- Prasasti peresmian gereja Congregatio Resurrectionis di atas bukit Kahlenberg
- Monumen Kazaki Zaporoski di Leopoldsberg, Wina
- Prasasti peringatan 300 tahun kemenangan melawan Usmani di gapura kota Wina
- Moldauer Kapelle menyimpan replika salib Cantacuzino
- Monumen Raja Jan Sobieski di Polandia, karya Czesław Dźwigaj
Serangan 11 September
Sebagian pihak berpendapat bahwa Al-Qaeda memilih tanggal 11 September 2001 sebagai tanggal pelaksanaan serangan teroris di seluruh Amerika Serikat sebab tanggal itu mengandung arti penting sebagai titik balik dalam pertempuran Wina.[61] Menurut Lawrence Wright, tanggal 11 September 1683 dipandang Al-Qaeda sebagai tanggal dunia Barat meraih dominansi atas Islam; tanggal 11 September 318 tahun kemudian akan menandai kelahiran kembali kekuatan Islam.[62]
Legenda
Berikut ini adalah beberapa legenda berkaitan dengan pertempuran Wina:
- Konon croissant diciptakan di Wina untuk merayakan kemenangan pascapertempuran Wina tahun 1683 atau pascapengepungan Wina tahun 1529. Croissant sengaja dibuat meniru bentuk gambar bulan sabit di bendera Turki. Meskipun legenda ini didukung oleh petunjuk bahwa orang Prancis menggolongkan croissant ke dalam kelompok Viennoiserie (penganan Wina), dan adanya keyakinan yang meluas di Prancis bahwa Marie Antoinettelah yang membawanya dari Wina ke Prancis pada tahun 1770, tidak ada bukti bahwa croissant sudah dikenal sebelum abad ke-19.
- Legenda lain menyebutkan bahwa bagel pertama kali dibuat di Wina sebagai hadiah kepada Raja Jan Sobieski karena berhasil mengalahkan bangsa Turki.
- Seusai pertempuran, warga Wina menemukan berkarung-karung biji kopi di perkemahan Turki yang sudah ditinggal lari pemiliknya. Konon dengan bermodalkan berkarung-karung kopi yang tertinggal inilah Jerzy Franciszek Kulczycki membuka warung kopi yang ketiga di Eropa.
- Konon ketika bangsa Turki melarikan diri dari Wina, alat-alat musik mereka tertinggal, dan sejak saat itu bangsa Eropa mengenal simbal, tambur, dan triangle.
Baca juga
- Perang Besar melawan Turki
- Perang-perang yang dilancarkan Kekaisaran Usmani di Eropa
- Sejarah Wina
- Scutum: rasi bintang yang diberi nama pada tahun 1684 untuk mengenang Pertempuran Wina
- The Day of the Siege: September Eleven 1683, film drama sejarah berbahasa Inggris tahun 2012, arahan sutradara Renzo Martinelli, produksi Polandia dan Italia, didasarkan atas Pertempuran Wina.
Keterangan
- ↑ bahasa Jerman: Schlacht am Kahlenbergcode: de is deprecated , pertempuran di bukit gundul; bahasa Polandia: odsiecz wiedeńskacode: pl is deprecated , pembebasan Wina, atau bitwa pod Wiedniem; Turki Otoman: بچ محاصرهسىcode: ota is deprecated Beç muḥāṣarası, pengepungan Beç; bahasa Turki: İkinci Viyana Kuşatmasıcode: tr is deprecated , pengepungan Wina yang kedua
- ↑ Estimasi terendah adalah 90.000 prajurit,[6] sedangkan menurut estimasi terdahulu mencapi 300.000 prajurit[7][8][9][10]
- ↑ Garnisun Wina: 15.000 prajurit[16] + 8.700 sukarelawan,[6] 370 pucuk meriam
Bala pembebas: 50.000–60.000 prajurit Jerman,[17] 15.000–20.000 prajurit Polandia,[17][18] 5.000 prajurit Kazaki[19][20] - ↑ Kekalahan tentara Usmani di luar gapura kota Wina 300 tahun silam jamak dianggap sebagai awal dari kemunduran Kekaisaran Usmani. Namun Walter Leitsch mempertanyakan, benarkah pertempuran Wina merupakan titik balik dalam sejarah Eropa? ... Bgaimanapun juga, pertempuran Wina menjadi penanda titik balik, bukan hanya usaha Usmani untuk melebarkan sayap ke wilayah Kristen yang terhenti, tetapi juga pada perang susulan yang berlangsung hingga tahun 1698, hampir seluruh wilayah Hongaria direbut kembali oleh pasukan Kaisar Leopold I. Mulai dari tahun 1683, Turki Usmani tidak lagi menjadi ancaman bagi dunia Kristen. ... Pertempuran Wina juga menjadi titik balik di bidang lain. Keberhasilan tersebut diraih berkat kerja sama pasukan-pasukan kaisar, beberapa pangeran kekaisaran, dan Polandia. ... Meskipun demikian, kerja sama di antara dua negara nonmaritim yang berbatasan dengan wilayah kemaharajaan Usmani di Eropa, yakni kerjasama antara Kaisar dan Polandia, merupakan suatu hal baru. ... Walter Leitsch dalah Profesor Sejarah Eropa Timur dan Direktur Institut Penelitian Eropa Timur dan Selatan di Universitas Wina.[23]
- ↑ Dokumen aslinya hancur semasa Perang Dunia II. Untuk terjemahannya ke dalam bahasa Jerman, lih. Diarsipkan 29 May 2008 di Wayback Machine.
Rujukan
- 1 2 3 Finkel, Caroline (2006). Osman's Dream: The Story of the Ottoman Empire, 1300–1923. Basic Books. hlm. 286–87. ISBN 978-0-465-02396-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 November 2023. Diakses tanggal 14 September 2021.
- 1 2 "Participarea lui Șerban Cantacuzino la cel de-al Doilea Asediul Vienei". Historia (dalam bahasa Rumania). 20 November 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 November 2020. Diakses tanggal 20 Maret 2022.
- 1 2 3 4 5 Şakul, Kahraman (2021). II. Vİyana Kuşatması Yedi Ejderin Fendi (dalam bahasa Turki). İstanbul: Timaş Publishing. hlm. 392. ISBN 978-6050835663.
- ↑ Forst de Battaglia, Otto (1982), Jan Sobieski, Mit Habsburg gegen die Türken, Styria Vlg. Graz, hlm. 215 of 1983 Polish translated edition
- 1 2 Wimmer, Jan (1983), Wiedeń 1683, MON, hlm. 306
- 1 2 3 4 5 6 7 Bruce Alan Masters, Gábor Ágoston: Encyclopedia of the Ottoman Empire, Infobase Publishing, 2009, ISBN 1438110251, 584.
- 1 2 Harbottle, Thomas (1905), Dictionary of Battles, E.P. Sutton & Co, hlm. 262
- 1 2 Clare, Israel (1876), The Centennial Universal History: A Clear and Concise History of All Nations, with a Full History of the United States to the Close of the First 100 Years of Our National Independence., J. C. McCurdy & Co., hlm. 252
- 1 2 Drane, Augusta (1858), The Knights of St. John: With the Battle of Lepanto and Siege of Vienna., Burns and Lambert, hlm. 136
- 1 2 American Architect and Building News. 29.767 (1890): 145. Print.
- 1 2 3 Podhorodecki, Leszek (2001), Wiedeń 1683, Bellona, hlm. 83
- 1 2 3 4 Şakul, Kahraman (2021). II. Viyana Kuşatması Yedi Ejderin Fendi (dalam bahasa Turki). İstanbul: Timaş Publishing. hlm. 394–395. ISBN 978-6050835663.
- ↑ Podhorodecki, Leszek (2001), Wiedeń 1683, Bellona, hlm. 106
- ↑ Podhorodecki, Leszek (2001), Wiedeń 1683, Bellona, hlm. 105
- ↑ Podhorodecki, Leszek (2001), Wiedeń 1683, Bellona, hlm. 83, 106
- ↑ Tucker, Spencer (2010). Battles That Changed History: An Encyclopedia of World Conflict. ABC-CLIO. hlm. 215. ISBN 978-1598844290. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 November 2023. Diakses tanggal 19 Oktober 2015.
- 1 2 Austria's Wars of Emergence, Michael Hochedlinger
- 1 2 3 4 The Enemy at the Gate, Andrew Wheatcroft. 2008.
- 1 2 Alexander Paly (2017). Історія України [History of Ukraine] (dalam bahasa Ukraina). Vol. 3. Kyiv: К.І.С. hlm. 381. ISBN 978-617-684-166-1.
- ↑ Dmytro Doroshenko (1939). History of the Ukraine. A. Vansovich. hlm. 325.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Tucker, Spencer (2010). A Global Chronology of Conflict. Vol. Two. Santa Barbara: ABC-CLIO, LLC. ISBN 978-1851096671. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 November 2023. Diakses tanggal 14 September 2021.
- ↑ Podhorodecki, Leszek (2001), Wiedeń 1683, Bellona, hlm. 140–141
- 1 2 3 Leitsch, Walter (July 1983). "1683: The Siege of Vienna". History Today. 33 (7). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Desember 2018. Diakses tanggal 19 Desember 2014.
- 1 2 Davies, Norman (1982), God's Playground, a History of Poland: The Origins to 1795, Columbia University Press, hlm. 487
- ↑ Nähere Untersuchung der Pestansteckung, hlm. 42, Pascal Joseph von Ferro, Joseph Edler von Kurzbek, royal publisher, Wina 1787.
- ↑ Andrew Wheatcroft (2009). The Enemy at the Gate: Habsburgs, Ottomans and the Battle for Europe. Random House. hlm. 120. ISBN 978-1-4090-8682-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Agustus 2024. Diakses tanggal 5 November 2020.
- ↑ Duffy, Christopher (2015). The Fortress in the Age of Vauban and Frederick the Great 1660–1789 (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-40859-8.
- 1 2 3 4 5 6 Ekkehard Eickhoff; Rudolf Eickhoff (2009). Venedig, Wien und die Osmanen: Umbruch in Südosteuropa 1645–1700. Klett-Cotta. hlm. 354. ISBN 978-3-608-94511-9.
- 1 2 3 Stoye, John. The Siege of Vienna: The Last Great Trial between Cross & Crescent. 2011 [tanpa ISBN][halaman dibutuhkan]
- ↑ Palmer, Alan, The Decline and Fall of the Ottoman Empire, hlm. 12, Barnes & Noble Publishing, 1992. ISBN 1-56619-847-X
- 1 2 3 Michael Gaitley, MIC (2015). The Second Greatest Story Ever Told. Marian Press – Association of Marian Helpers. hlm. 33–. ISBN 978-1-59614-319-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Agustus 2024. Diakses tanggal 5 November 2020.
- ↑ Melvyn Bragg, Andrew Wheatcroft, Dr. Claire Norton dan Jeremy Black (sejarawan) (14 May 2009). "The Siege of Vienna". In Our Time. 17:30 menit di. BBC Radio 4.
- ↑ Bates, Brandon J. (2003). "The Beginning of the End: The Failure of the Siege of Vienna of 1683" (PDF). Brigham Young University. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 22 Agustus 2006. Diakses tanggal 28 August 2006.
- ↑ Ripperton, Lisa. "The Siege of Vienna". The Baldwin Project. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Oktober 2018. Diakses tanggal 28 August 2006.
- ↑ Kahraman Şakul. II. Viyana Kuşatması: Yedi Ejderin Fendi, Timaş Yayınları. İstanbul 2021. hlmn. 229–231.
- 1 2 Şakul, Kahraman (2021). II. Viyana Kuşatması Yedi Ejderin Fendi (dalam bahasa Turki). İstanbul: Timaş Publishing. hlm. 228. ISBN 978-6050835663.
- ↑ Şakul, Kahraman (2021). II. Viyana Kuşatması Yedi Ejderin Fendi (dalam bahasa Turki). İstanbul: Timaş Publishing. hlm. 232–233. ISBN 978-6050835663.
- ↑ Şakul, Kahraman (2021). II. Viyana Kuşatması Yedi Ejderin Fendi (dalam bahasa Turki). İstanbul: Timaş Publishing. hlm. 302. ISBN 978-6050835663.
- 1 2 Şakul, Kahraman (2021). II. Vİyana Kuşatması Yedi Ejderin Fendi (dalam bahasa Turki). İstanbul: Timas Publishing. hlm. 391. ISBN 978-6050835663.
- ↑ Şakul, Kahraman (2021). II. Viyana Kuşatması Yedi Ejderin Fendi (dalam bahasa Turki). İstanbul: Timaş Publishing. hlm. 393. ISBN 978-6050835663.
- ↑ Henry Elliot Malden (2014). Salus Vienna Tua: The great siege of 1683. Soldiershop Publishing. hlm. 79–. ISBN 978-88-96519-84-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Agustus 2024. Diakses tanggal 5 November 2020.
- ↑ Ştefan Ştefănescu, "Defense of the Integrity of the Romanian States in the Sixteenth and Seventeenth Centuries", dalam Hie Ceausescu (penyunting), War Revolution and Society in Romania the Road to Independence, New York, Social Science Monographs, Boulder, 1983, hlm. 76.
- 1 2 "Participarea lui Șerban Cantacuzino la cel de-al Doilea Asediul Vienei". Historia (dalam bahasa Rumania). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 November 2020. Diakses tanggal 20 Maret 2022.
- ↑ Wheatcroft, Andrew (2008). The Enemy at the Gate, Prakata hlm. xix, hlm. 1.
- ↑ "Duell im Dunkeln" (dalam bahasa Jerman). 2DF. 6 November 2005. Diarsipkan dari asli tanggal 29 September 2007. Diakses tanggal 28 Agustus 2006.
- 1 2 idem
- ↑ A'Barrow, Stephen R (2016). Death of a Nation: A New History of Germany. Book Guild Publishing. hlm. 73. ISBN 978-1910508817.
- ↑ Overy, Richard (2014). A History of War in 100 Battles. Oxford University Press. hlm. 58. ISBN 978-0199390717.
- ↑ "The Battle of Vienna was not a fight between cross and crescent – Dag Herbjørnsrud | Aeon Essays". Aeon. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Juli 2018. Diakses tanggal 20 Juni 2019.
- ↑ Walters, E. N. (1997). My Memories of the Nimmerrichter-Barilitsch Family. Amerika Serikat: Gateway Press. XVII. 134
- ↑ Crankshaw, E. (1971). The Habsburgs: portrait of a dynasty. Storbritannien: Viking Press. hlm. 136
- ↑ Schimmer, Karl August (1879). The sieges of Vienna by the Turks. London : J. Murray. Contributor University of California Libraries. hlmn. 97-98
- ↑ Schimmer, Karl August (1879). The sieges of Vienna by the Turks. London : J. Murray. Contributor University of California Libraries. hlm. 172
- ↑ Abrahamowicz, Zygmunt (1973), Kara mustafa pod Wiedniem. Źródła muzułmańskie do dziejów wyprawy wiedeńskiej (Kara Mustafa di Wina. Sumber-sumber primer Muslim tentang sejarah perang Wina), Wydawnictwo Literackie, hlm. 164
- 1 2
- ↑ "Letter from King Sobieski to his Wife". Letters from King Sobieski to his wife. University of Gdansk, Department of Cultural Studies, Faculty of Philology. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Maret 2012. Diakses tanggal 4 Agustus 2011.
- 1 2 Stoye, John (2011) [2007]. The Siege of Vienna: The Last Great Trial between Cross & Crescent. Pegasus Books. hlm. 175.
- 1 2 3 Matthee, Rudi (2006). "Iraq IV. Relations in the Safavid Period". Encyclopaedia Iranica (Vol. XIII, Fasc. 5 and Vol. XIII, Fasc. 6). hlm. 556–560, 561. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Oktober 2022. Diakses tanggal 24 Januari 2019.
- ↑ "Chcą nam odebrać Victorię wiedeńską?". pch24.pl. 9 September 2013. Diakses tanggal 10 September 2016.
- ↑ "Vienna cancels statue of Polish king over 'Islamaphobia' fears". Brussels Signal. 13 November 2024.
- ↑ Hitchens, Christopher (3 October 2001). "Why the suicide killers chose September 11". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Agustus 2024. Diakses tanggal 8 November 2023.
- ↑ Hudson, John (3 May 2013). "How jihadists schedule terrorist attacks". Foreign Policy (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 April 2020. Diakses tanggal 8 November 2023.
Bacaan lanjutan
- Stéphane Gaber, Et Charles V arrêta la marche des Turcs, Presses universitaires de Nancy, 1986, ISBN 2-86480-227-9
- Bruce, George (1981). Harbottle's Dictionary of Battles. Van Nostrand Reinhold.
- Cezary Harasimowicz Victoria Warsaw 2007, novel ISBN 978-83-925589-0-3
- James Michener, Poland, sebuah novel, lih. Bab V "From the South"
- Alan Palmer, The Decline and Fall of the Ottoman Empire, Diterbitkan oleh Barnes & Noble Publishing, 1992. ISBN 1-56619-847-X
- Wheatcroft, Andrew. The Enemy at the Gate: Habsburgs, Ottomans and the Battle for Europe. New York: Basic Books, 2010. ISBN 978-0465020812
Pranala luar
- (dalam bahasa Inggris) Tentara Persemakmuran Polandia-Lituania pada abad ke-17 Diarsipkan 18 Oktober 2012 di Wayback Machine. dari kismeta.com
- (dalam bahasa Inggris) Pertempuran Wina Istana Museum Wilanów
- (dalam bahasa Jerman) TV Jerman: Türken vor Wien
- (dalam bahasa Jerman) Arte TV: Türken vor Wien
- (dalam bahasa Inggris) Husar Bersayap, Radoslaw Sikora, Bartosz Musialowicz, BUM Magazine, 2016.
- (dalam bahasa Inggris) "Pertempuran Wina Yang Sesungguhnya", esai Dag Herbjørnsrud di majalah Aeon, 24 Juli 2018.
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |



