Pada 1943, hanya ada beberapa pantai yang cocok untuk operasi pendaratan dan tidak ada jalan di sekitar pantai yang memungkinan pasukan dan kendaraan dapat bergerak maju dengan cepat.[1] Pendaratan utama akhirnya diluncurkan pada 26 Desember 1943, ketika Marinir Amerika Serikat mendarat di kedua sisi semenanjung. Pasukan pendaratan di sisi barat bertindak sebagai pengalih perhatian dan memotong jalan pantai dekat Tauali untuk membatasi keleluasaan pergerakan pasukan Jepang, sedangkan pasukan pendaratan di sisi timur langsung maju ke utara menuju lapangan udara. Awalnya hanya menghadapi perlawanan ringan dari pihak Jepang, tetapi pergerakan marinir Amerika terhambat oleh medan rawa yang mengarahkan pasukan Amerika ke jalur pantai yang sempit. Serangan balasan tentara Jepang yang berlangsung secara singkat juga memperlambat gerak maju marinir Amerika. Pada akhir Desember, kedua lapangan terbang itu telah berhasil dikuasai dan dikonsolidasikan oleh Marinir Amerika Serikat. Pertempuran berlanjut hingga awal Januari 1944 dan pasukan Amerika memperluas perimeter mereka ke arah selatan dari lapangan terbang menuju teluk Borgen. Perlawanan terorganisir tentara Jepang berhenti pada 16 Januari 1944 ketika pasukan Amerika menguasai Bukit 660, tetapi operasi pembersihan di sekitar pulau itu masih berlanjut hingga pasukan Angkatan Darat Amerika Serikat tiba pada April 1944.