Amerika Serikat sebenarnya sengaja ingin melewatkan Kepulauan Caroline dan Palau untuk langsung merebut Kepulauan Mariana dan Taiwan. Dari tempat ini basis kedua komunikasi antara tanah air Jepang dan pasukan Jepang di selatan dan barat bisa dipotong. Selain itu, jika AS berhasil menguasai Kepulauan Mariana, Jepang akan lebih mudah dijangkau dengan serangan udara mengandalkan jenis baru Boeing B-29 Superfortress jarak jauh bomber dengan radius operasional hingga 1.500 mil (2.400km).
Meski bukan bagian dari rencana awal AS, Douglas MacArthur, komandan Asia Pasifik Barat Daya, mendapat izin untuk merengsek maju melalui Nugini dan Morotai menuju Filipina. Ini memungkinkan MacArthur untuk mewujudkan janjinya membebaskan Filipina, yang tercantum dalam pidato bertajuk "I Shall Return". Hal ini juga memungkinkan penggunaan pasukan dalam jumlah besar di Pasifik Barat Daya. Jepang, yang sudah mengira serangan akan terjadi di sekitar perbatasan perimeternya, segera bersiap untuk serangan di Kepulauan Caroline. Untuk pergantian dan suplai, mereka membutuhkan superioritas laut dan udara. Sehingga Operation A-Go, dilancarkan pada bulan Juni 1944.
Korban sipil
Sebagai wilayah bekas Spanyol dan kemudian Jerman, Liga Bangsa-Bangsa menjadikan Saipan wilayah mandat Jepang setelah Perang Dunia Pertama, sehingga banyak penduduk sipil Jepang di sana, sekitar 25.000. Setelah pertempuran, Amerika Serikat kemudian mendirikan kamp tahanan sipil pada tanggal 23 Juni 1944, yang dipenuhi 1.000 orang. Listrik dibiarkan menyala pada malam hari untuk menarik perhatian penduduk sipil Jepang lainnya dengan janji tiga kali makan tiap hari dan tidak akan ditembak selama perang terjadi.
Ketakutan penduduk Jepang akan terbujuk dengan perlakuan baik dari Amerika Serikat, Jepang melancarkan propaganda pidato Kaisar Hirohito untuk menghasut mereka untuk bunuh diri saat kedatangan Amerika Serikat. Kepada penduduk yang mati selama pertempuran, dijanjikan tempat yang sama seperti tentara Jepang di kehidupan setelah kematian nanti. Pesan propaganda ini sempat ditahan oleh Jenderal Hideki Tōjō pada 30 Juni, tetapi akhirnya disampaikan juga.
Saat tentara Amerika tiba di Saipan, 1.000 penduduk Jepang telanjur bunuh diri. Mereka yang tinggal di dekat tebing, melompat dan tewas. Tempat ini kini dikenal dengan nama Tebing Bunuh Diri atau Tebing Banzai. Salah satu sebab banyaknya bunuh diri adalah karena ditakut-takuti mitos bahwa tentara Amerika Serikat akan memutilasi mereka saat tertangkap.
Pertempuran jarak dekat membuat korban sipil banyak berjatuhan. Mereka sulit dibedakan dengan tentara Jepang. Salah satu teknik yang menimbulkan banyak korban sipil adalah pembersihan bungker perlindungan dengan peledak berkekuatan tinggi dan ditambahkan cairan mudah terbakar.
Saipan—a 2nd Marine Division pamphlet describing certain expected features of the invasion and combat, including the presence of a large civilian population.
Hoffman, Major Carl W., USMC (1950). "Saipan: The Beginning of the End". USMC Historical Monograph. Historical Branch, United States Marine Corps. Diakses tanggal 2005-12-19. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)