Invasi Jepang dan perkuatannya
Berakhirnya Kampanye Kepulauan Aleut dan kemajuan di Kepulauan Solomon, ditambah dengan meningkatkan pasokan sumber daya manusia dan material, memberikan Angkatan Laut Amerika Serikat modal untuk meluncurkan invasi ke Pasifik Tengah pada akhir 1943. Laksamana Chester Nimitz telah berargumen agar invasi ini dilaksanakan pada awal 1943, tapi sumber dayanya belum tersedia karena sedang digunakan untuk Operasi Cartwheel, pengepungan Rabaul di Kepulauan Bismarck. Rencananya adalah mendekati kepulauan Jepang dengan cara “lompat pulau” (island hopping): mendirikan pangkalan laut dan udara di sebuah kepulauan untuk mendukung serangan ke kepulauan berikutnya. Kepulauan Gilbert adalah langkah awal dari rangkaian ini.
Pada tanggal 10 Desember 1941, tiga hari setelah serangan ke Pearl Harbor, 300 tentara Jepang ditambah pekerja dari Pasukan Pendarat Khusus Invasi Kepulauan Gilbert telah tiba di Atol Makin dan mendarat disana tanpa perlawanan. Terletak di timur Kepulauan Marshall, Makin akan menjadi pangkalan pesawat amfibi yang bagus, memperluas jangakuan patroli udara Jepang lebih dekat ke Pulau Howland, Pulau Baker, Tuvalu, Kepulauan Phoenix dan Kepulauan Ellice yang semuanya dikuasai Sekutu dan melindungi sisi timur perimeter Jepang dari serangan Sekutu
Serangan Marinir ke Makin
Pada tanggal 17 Agustus 1942, 211 orang Marinir dari Raider Marinir 2 di bawah pimpinan Kolonel vans Carlson dan Kapten James Roosevelt didaratkan di Makin dari dua kapal selam, USS Nautilus dan USS Argonaut. Garnisun Jepang hanya menugaskan antara 83 sampai 160 orang di bawah pimpinan seorang perwira muda. Para Raider menewaskan sekitar 83 serdadu Jepang, memusnahkan garnisun, dan menghancurkan instalasi-instalasi dengan kerugian 21 orang tewas (sebagian besar karena serangan udara) dan 9 ditawan. Jepang memindahkan tawanan mereka ke Atol Kwajalein, di mana nantinya mereka dipenggal. Tujuan dari serangan tersebut adalah untuk membingungkan Jepang akan tujuan Amerika Serikat di Pasifik, tapi akibatnya Jepang menjadi sadar akan pentingnya Kepulauan Gilbert secara strategis dan memperkuat pertahanan disana.
Setelah serangan Carlson, Jepang memperkuat Kepulauan Gilbert, yang tadinya hanya dijaga sekadarnya. Makin dijaga oleh garnisun dari sebuah kompi Pasukan Khusus Pangkalan 5 (700 – 800 orang) pada bulan Agustus 1942, dan pekerjaan pembangunan pangkalan pesawat amfibi dan pertahanan pantai di atol itu dilanjutkan dengan sungguh-sungguh. Sebelum bulan Juli 1943 pangkalan pesawat amfibi di Makin rampung dan siap menampung pembom amfibi Kawanishi H8K “Emily”, pesawat tempur apung Nakajima A6M2-N “Rufe” dan pesawat intai apung Aichi E13A “Jake”. Pertahanannya juga sudah selesai dibangun walaupun tidak sebesar yang di Atol Tarawa (pangkalan udara utama Angkatan Laut Jepang di Kepulauan Gilbert). Korps Udara Chitose dan 653 juga ditempatkan di sini. Sementara Jepang memperkuat pertahanan mereka di Kepulauan Gilbert, Pasukan Amerika sedang merencanakan perebutan kembali kepulauan tersebut.
Rencana penyerangan Amerika Serikat
Pada bulan Juni 1943 Kastaf Gabungan mengarahkan Laksamana Chester W. Nimitz, Komandan Armada Pasifik (CINCPAC), untuk menyerahkan rencana pendudukan Kepulauan Marshall. Mulanya Nimitz dan Laksamana Ernest J. King, Kepala Operasi AL, ingin menyerang tepat di jantung lingkar pertahanan terluar Jepang, tapi semua rencana untuk menyerag Kepulauan Marshall langsung dari Pearl Harbor akan membutuhkan kapal pengangkut dan personil yang lebih banyak dari yang dimiliki oleh Armada Pasifik saat itu. Dengan mempertimbangkan kekurangan ini dan terbatasnya pengalaman tempur pasukan Amerika Serikat, King dan Nimitz memutuskan untuk merebut Kepulauan Marshall dengan operasi bertahap melalui Kepulauan Ellice dan Gilbert. Kepulauan Gilbert terletak 300 km selatan Kepualaun Marshall dan masih dalam jangkauan pesawat B-24 milik Angkatan Darat Amerika Serikat yang berpangkalan di Kepulauan Ellice, yang dapat menyediakan dukungan pemboman dan pengintaian jarak jauh untuk operasi di Kepulauan Gilbert. Dengan memikirkan keunggulan-keunggulan, pada tanggal 20 Juli 1943 Kastaf Gabungan memutuskan untuk merebut Atol Tarawa dan Abernama di Kepulauan Gilbert, plus Pulau Nauru di dekatnya. Operasi tersebut dinamai Operasi Galvanic.
May. Jen. Holland M. Smith, USMC
May. Jen. Ralph C. Smith, USA
Pada tanggal 4 September pasukan amfibi Armada 5 Amerika Serikat ditugaskan ke Korps Amfibi V di bawah pimpinan Mayjen Mar. Holland M. Smith. Korps Amfibi V hanya punya dua divisi, Divisi Marinir 2 berpangkalan di Selandia Baru, dan Divisi Infantri 27 Angkatan Darat Amerika Serikat yang berpangkalan di Hawaii. Divisi Infantri 27 tadinya merupakan kesatuan Garda Nasional New York sebelum dipanggil untuk tugas federal pada bulan Oktober 1940. Divisi tersebut dipindahkan ke Hawaii dan tinggal di sana selama 1½ tahun sebelum dipilih oleh Letjen Robert C. Richardson, Jr., Komandan Angkatan Darat Amerika Serikat di Pasifik Tengah untuk invasi ke Kepulauan GIlbert. Kapten James Jones (ayah dari mantan Komandan Korps Marinir, James L. Jones), Perwira pemimpin Kompi Intai Amfibi, VAC melakukan pengintaian periskop di Kepulauan Gilbert di atas kapal selam USS Nautilus, menghasilkan catatan akurat tentang pantai pendaratan untuk invasi mendatang.[1]
Divisi Infantri 27 ditugaskan untuk memasok pasukan pendaratan dengan satu tim tempur resimental (Resimen Infantri 165, “Fighting 69th” yang terkenal dari Garda Nasional New York), diperkuat oleh satu batalion tim pendarat (Batalion 3, Resimen Infantri 105), didukung oleh Batalion Artileri Medan 105 dan Batalion Tank 193, di bawah pimpinan Mayjen Ralph C. Smith, seorang veteran Perang Dunia I, yang telah dilantik pada bulan November 1942. Beliau adalah salah satu perwira yang sangat dihormati di Angkatan Darat Amerika Serikat saat itu. Pada bulan April 1943, Divisi Infantri 27 telah memulai persiapan untuk operasi amfibi.
Perencanaan peran Divisi Infantri 27 dalam “Galvanic” (bagian Angkatan Darat dinamai “Kourbash”) dimulai awal Agustus 1943, dengan Pulau Nauru di barat Kepulauan Gilbert sebagai tujuan awal. Tidak seperti target lainnya, Nauru memang sebuah pulau, berukuran jauh lebih besar dan lebih kuat pertahanannya.
Namun, pada bulan September 1943 tugas Divisi 27 diganti. Sukarnya menyediakan dukungan laut dan udara secara bersamaan dengan operasi di Tarawa dan jarak Nauru yang lebih jauh, ditambah dengan kurangnya kapal pengangkut untuk mengangkut seluruh Divisi untuk merebut Nauru yang lebih besar dan lebih kuat pertahanannya, menyebabkan Laksamana Nimitz meindahakan target Divisi 27 dari Nauru ke Atol Makin, di timur laut Kepulauan Gilbert. Para staf Divisi Infantri 27 mengetahui perubahan target pada tanggal 28 September, membatalkan rencana Nauru, dan mulai merencanakan perebutan Makin.[2]
Hancurnya banyak pesawat dan lumpuhnya empat kapal penjelajah berat mereka di Kepulauan Solomon membuat rencana awal Jepang untuk menyerang armada invasi Amerika dengan menggunakan pasukan yang berppangkalan di Truk di dekat Kepulauan Caroline (Mandat Pasifik Selatan) menjadi dibatalkan. Garnisun di Tarawa dan Makin dibiarkan menemui nasibnya.