Pada akhir tahun 633, kaum Muslim menguasai lembah Eufrat. Di lembah ini, Firaz, di ujung terluar Kekaisaran Persia di perbatasan Suriah (Syam), masih memiliki garnisun Persia. Khalid memutuskan untuk mengusir pasukan Persia dari pos terdepan ini karena khawatir pasukan Persia akan melakukan invasi ulang yang terencana ke wilayah yang telah direbut. Ia berbaris ke Firaz dengan pasukan Muslim setelah Pertempuran Ainut Tamr dan tiba di sana pada minggu pertama bulan Desember 633. Firaz adalah perbatasan antara kekaisaran Persia dan Bizantium, dan garnisun Persia serta Bizantium ditempatkan di sana. Dalam menghadapi pasukan Muslim, garnisun Bizantium memutuskan untuk membantu garnisun Persia.[6]
Khalid memberi musuh pilihan untuk menyeberangi Sungai Eufrat. Segera setelah musuh menyeberangi Sungai Eufrat, Khalid memerintahkan pasukan Muslim untuk bergerak. Pasukan gabungan Persia dan Bizantium menguasai sungai di belakang mereka. Di Firaz, Khalid menerapkan taktik yang sama seperti yang ia terapkan di Mazar. Ketika barisan depan kedua pasukan terlibat dalam pertempuran, Khalid menempatkan musuhnya di kedua sisi dengan bantuan sayap belakangnya. Dengan gerakan cepat, pasukan Muslim bergegas menuju jembatan di sungai, dan berhasil mendudukinya. Dengan demikian, musuh tertahan dalam gerakan menjepit. Khalid memenangkan pertempuran.
Setelah pertempuran ini, Khalid berdiam di al-Firadh selama sepuluh hari, sambil menginstruksikan kepada pasukannya untuk kembali ke Heraat lima hari sebelum berakhirnya bulan Dzulhijjah. Kemudian ia memerintahkan 'Ashim bin Amru agar berjalan terlebih dahulu. Sementara Khalid memerintahkan Syajarah bin al-A'az agar berjalan di tengan. Khalid bergerak ke wilayah Suriah (Syam) untuk membantu Abu Ubaidah bin Jarrah menghadapi Bizantium.[6]
↑Michael G. Morony, Iraq After the Muslim Conquest, (Gorgias Press, 2005), 225.
12Parvaneh Pourshariati, Decline and Fall of the Sasanian Empire:The Sasanian-Parthian Confederacy and the Arab Conquest of Iran, (I.B.Tauris, 2008), 201-202.