Invasi awal ~1,000 4 kapal perang Pekan-pekan berikutnya 10,000-20,000
Korban
57 tewas
122 tewas 365 ditangkap
Invasi Dili oleh Indonesia terjadi pada 7 Desember 1975 saat para marinir dan pasukan parasut Indonesia diterjunkan di ibu kota Dili, Timor Timur. Serangan tersebut adalah permulaan operasi militer yang berujung pada integrasi Timor Timur.[1]
Pertempuran
Kapal-kapal angkatan laut Indonesia yang terdiri dari fregat KRI Ratulangi, korvet KRI Barakuda, kapal perusak kawalKRI Martadinata dan kapal reparasi KRI Jaya Wijaya tiba di lepas pantai Dili sekitar pukul 02:00. Dua fregat Angkatan Laut Portugis NRP Afonso de Albuquerque dan korvet João Roby juga hadir, tetapi kapal-kapal tersebut telah menutupi meriamnya dan tidak terlibat dalam pertempuran dengan pihak Indonesia. Pada pukul 03:00, lampu-lampu kota Dili dimatikan—yang dianggap oleh komandan Indonesia sebagai tanda bahwa kapal-kapal tersebut telah ditemukan—dan kapal-kapal tersebut menembaki kota tersebut.[2] Kapal pendarat KRI Teluk Bone juga hadir, membawa beberapa ratus partisan Timor dan marinir reguler Indonesia.[3]
Sekitar pukul 04.30, 400 marinir Indonesia mendarat dengan tank amfibi dan kendaraan pengangkut personel di pantai Kampung Alor. Mereka menghadapi perlawanan minimal, dan pada pukul 07.00 mereka telah mengamankan daerah sekitarnya.[3]
Pasukan terjun payung tersebut terdiri dari 550 prajurit yang menggunakan sepuluh pesawat Lockheed C-130 Hercules yang lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Iswahyudi di Madiun. Mereka berasal dari komando pasukan terjun payung Kopassus (saat itu Kopasandha) dan batalyon infanteri 501 Kostrad. Pesawat-pesawat tersebut mendekati Dili dari timur dan mulai menurunkan prajurit pada pukul 05:45. Satu pembongkarmuat tewas akibat tembakan FRETILIN, dan 72 prajurit membatalkan penerjunan tersebut.[4][5][6] Pasukan terjun payung tersebut ditembaki sebelum mencapai daratan, mengikuti perintah dari Gama, dan menjadi sasaran salah serang dari marinir.[7]:73
Brigadir Jenderal Soewono, memimpin militer Indonesia selama Pertempuran Dili.
Setelah serangan mendadak pertama dibatalkan, pesawat-pesawat kembali ke lapangan terbang Penfui di Kupang, dan serangan mendadak kedua yang terdiri dari lima pesawat diluncurkan. Namun, gelombang kedua pasukan terjun payung justru menembaki tentara Indonesia yang bergerak menuju lapangan terbang Dili, sementara marinir juga mulai menembaki mereka. Menurut laporan resmi, insiden salah serang tersebut tidak mengakibatkan korban jiwa.[2]
Korban dan akibat
Setelah pertempuran tersebut, jumlah korban dari pihak Indonesia adalah 35 orang tewas dalam serangan pertama, dan 22 orang lainnya dalam serangan kedua. Di pihak FRETILIN, pasukan Indonesia melaporkan 122 orang tewas dan 365 orang ditangkap. Tiga hari setelah pertempuran, kota Baucau juga diserang dan direbut.[2]
Banyak komandan Indonesia mengeluhkan intelijen yang diberikan tidak akurat dan berkualitas buruk.[8] Komandan satuan tugas udara mengatakan bahwa ia diberitahu bahwa musuh adalah "setara dengan hansip".[4]